07 September 2023, 07:51 WIB

Jepang Luncurkan Roket ke Bulan


Adiyanto | Weekend

Gal ROMA and Paz PIZARRO / AFP
 Gal ROMA and Paz PIZARRO / AFP
Grafik  Smart Lander for Investigating Moon (SLIM) Jepang, atau 'Moon Sniper' milik Jepang

Seperti negara-negara maju lainnya, Jepang juga tidak mau kalah dalam mengembangkan misi luar angkasa mereka. Pada Kamis (7/9),  badan anatariksa negeri Matahari Terbit itu meluncurkan sebuah roket yang diharapkan akan menjadi pendaratan pertama mereka di Bulan.

Roket H2-A diluncurkan pada pukul 08:42 (Rabu 23.42 GMT) membawa pendarat presisi yang diberi nama "Moon Sniper". Roket ini diperkirakan  mendarat di permukaan Bulan dalam empat hingga enam bulan.

Lepas landas dari Tanegashima di Jepang selatan, yang telah ditunda tiga kali karena cuaca buruk, disaksikan oleh sekitar 35 ribu orang secara online.

Roket tersebut juga membawa satelit penelitian yang dikembangkan bersama oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), NASA, dan Badan Antariksa Eropa.

Peluncuran tersebut dilakukan setelah India bulan lalu mendaratkan pesawat di dekat kutub selatan Bulan, sebuah momen bersejarah bagi negara berpenduduk terpadat di dunia dan program luar angkasanya yang berbiaya rendah.

Mesin pendarat Jepang, yang secara resmi disebut Smart Lander for Investigating Moon (SLIM), dirancang untuk mendarat dalam jarak 100 meter dari target tertentu di Bulan, jauh lebih kecil dari jangkauan biasanya yang hanya beberapa kilometer.

“Dengan menciptakan pendarat SLIM, manusia akan melakukan perubahan kualitatif untuk bisa mendarat di tempat yang kita inginkan dan bukan hanya di tempat yang mudah untuk mendarat,” kata JAXA sebelum peluncuran.

“JIka ini sukses, akan ada kemungkinan untuk mendarat di planet yang sumber dayanya lebih langka dibandingkan Bulan,” katanya.

“Secara global, belum pernah terjadi pendaratan tepat di benda langit dengan gravitasi signifikan seperti Bulan,” kata JAXA.

Sejauh ini, India bergabung dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok dalam menempatkan pesawat ruang angkasa di permukaan bulan, dan menjadi negara pertama yang melakukannya di kutub selatan.

Upaya Jepang sebelumnya telah gagal, termasuk tahun lalu ketika mereka mengirim wahana antariksa ke Bulan bernama Omotenashi sebagai bagian dari program Artemis Amerika Serikat. Seukuran tas ransel, Omotenashi semula digadang-gadang akan menjadi pendarat Bulan terkecil di dunia.

Namun setelah wahana tersebut diluncurkan dengan roket NASA dari Kennedy Space Center di Florida, misi tersebut kacau dan komunikasi terputus.

Jepang juga mempunyai masalah dengan peluncuran roket, setelah peluncuran model H3 generasi berikutnya pada bulan Maret dan Epsilon berbahan bakar padat yang biasanya dapat diandalkan pada bulan Oktober lalu, juga gagal. (AFP/M-3)

BERITA TERKAIT