14 March 2023, 08:15 WIB

Panel Iklim PBB Siapkan Peta Jalan untuk Bumi yang Layak Huni


Adiyanto | Weekend

IPCC/AFP
 IPCC/AFP
Peta prakiraan anomali suhu dibandingkan dengan periode pra-industri (1850-1900), menurut tiga skenario berbeda, +2°C, +3°C, +4°C 

Penggunaan bahan bakar fosil semakin membahayakan masa depan planet ini untuk layak ditinggali. Gelombang panas yang mematikan, badai, dan banjir yang diperparah oleh pemanasan global, bisa jadi hanyalah pendahuluan.

Demikian kesimpulan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC), yang memulai pertemuan selama sepekan pada Senin (13/3), untuk menyaring enam laporan setebal 10 ribu halaman yang disiapkan oleh lebih dari 1.000 ilmuwan selama enam tahun terakhir.

Berikut adalah beberapa temuan utama dari laporan tersebut:

Menjaga kenaikan suhu

KTT Iklim di Paris 2015 menyerukan pembatasan pemanasan global di bawah dua derajat Celcius. Tetapi laporan penting IPCC pada tahun 2018  menyebut hanya batas 1,5 derajat celsius yang dapat memastikan dunia yang aman dari bencana iklim.

Kendati begitu, laporan tersebut memperingatkan bahwa untuk mencapai tujuan ini butuh perubahan radikal di semua aspek masyarakat. Emisi gas rumah kaca, misalnya, harus turun 43% pada tahun 2030  dan 84% pada pertengahan abad, agar tetap berada dalam ambang batas.

Namun, faktanya kini emisi terus meningkat sehingga dunia sangat mungkin melampaui batas 1,5C, meskipun untuk sementara.

IPCC menyebut dengan kenaikan suhu 1.5 derajat Celsius, sebanyak 14% spesies terestrial akan menghadapi risiko kepunahan. Jika suhu naik menjadi 2C, 99% terumbu karang air hangat yang menjadi rumah bagi seperempat kehidupan laut, akan musnah, dan tanaman pangan pokok akan menurun. (lihat peta/grafis)

Laporan IPCC menekankan tentang bahaya "titik kritis", ambang suhu dalam sistem iklim yang, sekali dilewati, dapat mengakibatkan bencana dan perubahan yang tidak dapat diubah. Cekungan Amazon, misalnya, kini sudah berubah dari hutan tropis menjadi sabana.

Pemanasan antara 1,5C dan 2C juga dapat mendorong es laut di kutub utara, permafrost sarat metana, dan lapisan es dengan air beku, mencair dan menggenangi sejumlah pulau kecil. IPCC menekankan tentang pentingnya mengamati batas kenaikan suhu sekecil apapun,

Penderitaan manusia

Laporan IPCC 2022 juga membuat peta dampak penderitaan yang akan dialami umat manusia akibat perubahan iklim. Laporan itu menyebut antara 3,3 dan 3,6 miliar manusia "sangat rentan" terhadap efek pemanasan global, termasuk gelombang panas yang mematikan, kekeringan, kekurangan air, dan nyamuk, serta kutu pembawa penyakit.

Menurut mereka perubahan iklim telah berdampak buruk pada kesehatan fisik di seluruh dunia, dan kesehatan mental di sejumlah wilayah yang datanya tersedia.

Pada tahun 2050, banyak kota besar pesisir yang rentan banjir dan pulau kecil akan mengalami bencana cuaca yang sebelumnya terjadi sekali dalam satu abad setiap tahun.

Dampak ini dan lainnya akan menjadi lebih buruk, dan secara tidak proporsional akan merugikan populasi yang paling rentan, termasuk masyarakat adat.

"Bukti ilmiah kumulatif tidak diragukan lagi: Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kesejahteraan manusia dan kesehatan planet ini," kata laporan IPCC.

 Eksploitasi berlebih

Untungnya bagi kita, hutan, tanaman, dan tanah menyerap dan menyimpan hampir sepertiga dari semua emisi buatan manusia. Tetapi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam ini juga menghasilkan CO2, metana, dan dinitrogen oksida yang menghangatkan planet ini. Aktivitas pertanian telah menyedot 70% pasokan air tawar.

Lautan telah membuat planet ini layak huni dengan menyerap seperempat CO2 buatan manusia dan menyerap lebih dari 90% kelebihan panas yang dihasilkan oleh gas rumah kaca. Tetapi, ini harus dibayar mahal: laut kini telah menjadi asam sehingga berpotensi merusak kapasitasnya untuk menarik CO2, dan air permukaan yang lebih hangat telah memperluas kekuatan dan jangkauan badai tropis yang mematikan.

Bahan bakar fosil

Menurut laporan IPCC semua upaya menuju dunia yang layak huni perlu melibatkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang cepat dan dalam dalam banyak kasus di semua sektor, termasuk industri, transportasi, pertanian, energi, dan gaya hidup perkotaan.

“Untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu seperti disepakati pada KTT Paris, harus diiringi pengurangan besar-besaran dalam penggunaan bahan bakar fosil,” kata IPCC.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang tidak menerapkan teknologi penangkapan karbon untuk menyedot polusi CO2, harus turun 70% hingga 90% dalam waktu delapan tahun. Pada tahun 2050, dunia harus netral karbon, mengkompensasi sisa emisi dengan penghilangan dari atmosfer.

“Dunia juga harus mengatasi metana (CH4),” IPCC memperingatkan.  Polutan atmosfer terpenting kedua setelah CO2 berasal dari kebocoran produksi bahan bakar fosil dan pertanian, serta sumber alami seperti lahan basah. Level CH4 kini yang tertinggi dalam setidaknya dua juta tahun.

Kabar baiknya, IPCC menekankan, biaya bahan bakar  alternatif telah menjadi jauh lebih murah. Dari 2010 hingga 2019, biaya satuan energi surya turun 85%, sedangkan tenaga angin turun 55%. "Sekarang atau tidak sama sekali, jika kita ingin membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius," kata Jim Skea, profesor di Imperial College London dan salah satu ketua kelompok kerja di balik laporan pengurangan emisi tahun lalu. (AFP/M-3)

BERITA TERKAIT