08 February 2023, 08:51 WIB

Penaikan Suhu Air Laut Ancam Reproduksi Penyu


Adiyanto | Weekend

Luis ACOSTA / AFP
 Luis ACOSTA / AFP
Dua ekor penyu di Pantai Punta Chame, Panama City

Sebuah studi baru yang dirilis Rabu (8/2) menyebutkan naiknya suhu laut mengancam populasi penyu lantaran menghangatkan tempat bersarang mereka di pantai-pantai di seluruh dunia. Fenomena yang dipicu oleh perubahan iklim ini dapat menyebabkan kepunahan reptil yang sudah terancam, yang memiliki siklus berkembang biak yang panjang dan lebih lambat beradaptasi daripada banyak spesies lain, seperti burung atau kupu-kupu.

Penyu menggali lubang dan bertelur di pasir, yang menjadi lebih hangat dalam beberapa tahun terakhir karena  kenaikan suhu laut akibat pemanasan global. Suhu sarang yang lebih hangat menghasilkan lebih banyak keturunan betina, sehingga mempertaruhkan populasi betina yang akan kesulitan menemukan pasangan kawin di masa depan.

"Banyak tempat bersarang penyu saat ini sangat bias perempuan, menunjukkan kenaikan suhu sudah berdampak. Temperatur yang tinggi di lokasi peneluran juga dapat menurunkan produksi tukik," kata penelitian tersebut.

Studi itu untuk melihat apakah penyu dapat mengubah periode berkembang biak mereka ke bagian yang lebih dingin dalam setahun untuk menurunkan suhu sarang. Dalam studi global pertama dari jenisnya, para peneliti membuat model bagaimana penyu dapat mengurangi dampak kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celcius - skenario kasus terbaik yang diuraikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa - di 58 lokasi bersarang di seluruh dunia. Pada tren saat ini, suhu bumi menuju peningkatan 2,6C di atas tolok ukur era praindustri.

Mereka menemukan bahwa memindahkan periode pembiakan mengurangi sekitar 55% pemanasan air laut, yang berarti bahwa sekitar 45% kasus bersarang berisiko. "Temuan ini menggarisbawahi kekhawatiran untuk kelangsungan hidup jangka panjang dari kelompok ikonik ini," kata laporan yang dipublikasikan di Royal Society Open Science Jurnal. Penulis utama Jacques-Olivier Laloe mengatakan kepada AFP bahwa temuan tersebut menunjukkan kemungkinan yang "sangat mengkhawatirkan" bahwa kepunahan lokal dapat terjadi.

"Penelitian tersebut menemukan bahwa penyu yang berkembang biak di garis lintang yang lebih tinggi memang mendapat manfaat saat mereka memindahkan periode bersarang ke periode dengan cuaca yang lebih dingin. Tapi ini lebih sulit bagi penyu yang tinggal di dekat khatulistiwa di mana suhu cenderung berfluktuasi secara musiman," kata laporan itu.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu global kemungkinan akan menghangat melebihi 1,5C, mungkin pada pertengahan abad, yang berarti temuan studi tersebut kemungkinan besar merupakan "hasil yang optimis", kata Laloe dari Universitas Deakin Australia. “Kenyataannya, kemungkinan penyu memiliki potensi yang kurang adaptif terhadap perubahan iklim,” imbuhnya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk membantu mendinginkan sarang, seperti memberi keteduhan atau menyiram pasir. Tapi ini adalah perbaikan sementara", menurut penulis penelitian itu. "Solusi untuk mengatasi perubahan iklim, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, beralih ke energi terbarukan, dan mengubah pola penggunaan lahan diperlukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa depan," kata studi tersebut.(AFP/M-3)

BERITA TERKAIT