04 December 2022, 05:45 WIB

Permainan Tradisional Anak Betawi


Yahya Andi Saputra | Weekend

FOTO: DOK YAHYA ANDI SAPUTRA
 FOTO: DOK YAHYA ANDI SAPUTRA
Permainan wak-wak gung.

WAK-WAK kung nasinye nasi jagung

Lalapnya daon utan

Sarang gaok di pohon jagung

Gang... ging... gung...

Begitulah anak-anak melantunkan secuplik syair dalam permainan wak-wak gung dengan riang gembira. Mereka dapat bermain seharian suntuk atau sepuasnya jika memungkinkan. Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sangat jelas mengamanahkan bahwa salah satu objek yang harus dikembangkan ialah permainan rakyat. Salah satunya seperti permainan anak-anak Betawi di atas.

Kita tahu bahwa bermain atau permainan rakyat merupakan suatu aktivitas yang umumnya dilakukan anak-anak dalam mengisi waktu luang untuk berinteraksi dengan teman-teman sebaya. Berbagai macam jenis permainan berkembang dari waktu ke waktu, dari yang sederhana tanpa memerlukan alat hingga dengan permainan yang menggunakan alat khusus.

Dalam beberapa hal, permainan tersebut tidak hanya terbatas pada kalangan anak-anak, tapi juga sering dijadikan suatu perlombaan dan pertandingan antarorang-orang dewasa, terutama dalam peristiwa-peristiwa besar.

Permainan tradisional Betawi bukanlah permainan yang tanpa makna. Ia merupakan permainan yang penuh nilai dan norma. Permainan itu mengarahkan anak-anak untuk memahami dan mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan. Oleh karena itu, permainan tradisional Betawi yang diciptakan para tetua atau leluhur didasarkan atas banyak pertimbangan dan perhitungan. Hal itu disebabkan mereka mempunyai harapan agar nilai-nilai yang disisipkan pada tiap permainan itu dapat dilaksanakan anak-anak dalam tiap tindakan dan perbuatannya dengan penuh kesadaran atau tanpa adanya paksaan. Di sinilah salah satu kearifan lokal masyarakat Betawi dapat diperlihatkan ke ranah publik.

Permainan rakyat yang berkembang dapat berupa suatu permainan yang memang khas dilakukan masyarakat Betawi. Ada pula permainan yang merupakan adaptasi dari daerah lain yang kemudian berkembang di masyarakat Betawi. Permainan ini memiliki berbagai jenis, mulai yang membutuhkan alat bantu, tanpa alat bantu, menggunakan hewan, hingga permainan berbasis pantun.

Permainan tradisional dengan alat umumnya memakai perangkat dari bahan yang mudah didapat di sekitar tempat tinggal. Bahan-bahan tersebut umumnya diambil dari unsur alam di sekitar lingkungan, seperti kayu, daun, batu, dan lain-lain. Di beberapa tempat sering juga ditemukan beberapa permainan yang mengandung unsur gaib, seperti jelangkung, badomba, merak sintir, atau kodok-kodokan.

Saat ini jenis permainan rakyat Betawi sudah mulai sulit ditemukan. Faktor penyebab yang paling berpengaruh ialah keadaan geografis Jakarta yang sudah berubah dan perkembangan teknologi yang makin canggih. Tanaman-tanaman yang dulu tumbuh subur di halaman-halaman kini sudah semakin jarang ditemukan, padahal tanaman-tanaman itu sering menjadi bahan untuk membuat alat-alat permainan tersebut.

Ruang terbuka yang semakin terbatas juga merupakan satu alasan beberapa permainan semakin hilang keberadaannya. Lapangan atau tanah lapang kini sebagian besar telah berubah fungsi menjadi lahan terbangun. Perkembangan teknologi juga membuat permainan tradisional makin terpinggirkan dan diganti oleh permainan modern yang cenderung berorientasi pada permainan elektronik.

Melihat keadaan tersebut, usaha melestarikan dan menumbuhkembangkan kembali permainan rakyat Betawi ialah tugas kita bersama karena bagaimanapun juga permainan-permainan itu merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dijaga. Usaha pemetaan permainan rakyat Betawi tersebut bertujuan penyelamatan kembali salah satu aset bangsa yang terancam punah agar keberadaannya masih bisa terdokumentasikan dan dilestarikan.

Permainan tradisional sebenarnya mengungkap kearifan lokal masyarakat bersangkutan. Hal itu karena di dalamnya mengandung nilai menjaga ekosistem. Maka itu, nilai luhur permainan tradisional, seperti kebersamaan, persahabatan, cinta lingkungan, berani menjadi pemimpin, disiplin, jujur, teliti, sportif, kuat dan sehat rohani jasmani, selalu menjadi bahan edukasi.

Edukasi itu dapat dilihat sejak awal permaianan. Untuk memulai permainan, sebelumnya harus ditentukan pengundian. Tata cara pengundian dilakukan dua tahap. Tahap pertama disebut hompimpah. Tahap kedua disebut suit atau suitan. Pengundian dilakukan agar permainan tertib, lancar, sportif, dan disiplin.

Hompimpah dilakukan untuk menentukan siapa atau kelompok mana yang pertama melakukan start atau kelompok mana yang jalan, kelompok mana yang jaga. Disebut hompimpah karena syair pertamanya hompimpah. Syair hompimpah selalu disenandungkan. Berikut syair hompimpah.

Hompimpah alihim gambreng

Mak Ipah make baju rombeng

 

Hompimpah dilakukan dengan cara menggerak-gerakkan tangan kiri kanan secara bersamaan, lalu diangkat ke atas dan diturunkan dengan menelentangkan (menghadap ke atas) atau menelungkupkan telapak tangan (menghadap ke bawah). Jika semua tangan berada di posisi yang sama, misalnya semua telentang, berarti semua seri dan hompimpah diulangi kembali sampai ada yang berbeda.

Jika ada beberapa tangan yang hadapannya berbeda, dicari hadapan kelompok tangan yang jumlahnya paling sedikit. Kelompok/pemain ini dinyatakan lolos dan tidak perlu melanjutkan pengundian. Aturan ini terus berulang sampai hanya tersisa dua orang saja dan penentuan selanjutnya akan memakai cara suitan.

Suit atau suitan biasanya dilakukan dua orang yang mewakili tiap-tiap kelompok. Cara pengundian ini biasa dilakukan dengan cara mengacungkan jari untuk menentukan siapa yang menang. Jari yang dipakai ialah ibu jari (gajah), telunjuk (manusia), dan kelingking (semut). Aturannya ialah:

a. Dua jari yang sama, undian dinyatakan seri dan harus diulang

b. Ibu jari menang melawan telunjuk

c. Telunjuk menang melawan kelingking

d. Kelingking menang melawan ibu jari

e. Jika pengundian sudah selesai, dimulailah permainannya.

 

Melatih kecerdasan

Permaianan tradisional Betawi dapat mengembangkan kecerdasan intelektual anak. Misalnya, ci-ci putri mampu membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Itu disebabkan permainan tersebut akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan. Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara berkelompok. Ini artinya anak-anak dapat mengembangkan kecerdasan emosi antarpersonal. Dengan berkelompok, mereka dapat mengasah emosi sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain. Mereka pun nyaman dan terbiasa dalam kelompok. Beberapa permaianan tradisional yang dilakukan berkelompok, di antaranya, kasti, benteng, wak-wak gung, dan lain-lain.

Beberapa permainan melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah yang harus dilewatinya, misalnya, congkak, bekel, tebak-tebakan, dan sebagainya. Umumnya, permainan tradisional mendorong pemain untuk bergerak, seperti melompat, berlari, menari, berputar, dan jongkok, yang mengembangkan kecerdasan kinetik anak. Contohnya permaian egrang, benteng, dampu, lompat karet, dan lain sebagainya.

Selanjutnya tentu saja permainan tradisional banyak memanfaatkan alat permainan yang terdapat atau tumbuh dan berserakan di sekitar lingkungan. Sebut saja misalnya berbagai tumbuhan, tanah, genting, batu, dan sebagainya. Aktivitas permainan ini mendekatkan anak kepada alam sekitarnya sehingga anak lebih menyatu dengan alam. Permaian jenis ini akan mengembangkan kecerdasan natural anak. Contoh permaian protokan, egrang, dampu, mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, dan lain-lain. Anak pun dikenalkan konsep ruang dan berganti peran. Hal itu tentunya dapat mengembangkan kecerdasan spasial dan tentunya juga kecerdasan musikal anak. Ini dapat ditemui pada permainan maen raja dan ratu serta lain sebagainya.

Permainan tradisional mengenal konsep menang kalah. Namun, menang dan kalah ini tak menjadikan pemain bertengkar atau rendah diri. Selain itu, tidak mustahil permainan tradisional dilakukan lintas usia sehingga pemain yang lebih besar menjaga yang lebih kecil. Dalam permainan tradisional, tak ada yang paling unggul karena tiap orang memiliki kelebihan masing-masing untuk tiap permainan yang berbeda. Dengan uraian itu, diketahui bahwa permainan tradisional dapat meminimalisasi pemunculan ego di diri pemain atau anak-anak. Hal itu amat penting bagi perkembangan kecerdasan spiritual anak. (M-3)

BERITA TERKAIT