02 December 2022, 10:08 WIB

Penerbit di Rusia Khawatir Kembalinya Aturan Sensor Era Soviet


Adiyanto | Weekend

Alexander NEMENOV / AFP
 Alexander NEMENOV / AFP
Pameran buku terbesar di Moskow yang dibuka Kamis (1/12)

Sejumlah penerbit di Rusia mengaku sangat khawatir dengan pembatasan baru dan kembalinya sistem sensor seperti di era Uni Soviet.

Sejak Presiden Vladimir Putin mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, otoritas Rusia telah memperkuat kontrol atas arus informasi, termasuk di bidang seni.

Pekan lalu, anggota parlemen menyetujui RUU yang melarang segala bentuk propaganda LGBTQ baik melalui buku, film, media, dan internet.

Pihak berwenang juga ingin melarang penjualan buku-buku yang ditulis oleh mereka yang dianggap  "agen asing" kepada anak di bawah umur, dan juga kepada semakin banyak penulis.

Novelis terkemuka seperti penulis fiksi ilmiah Dmitry Glukhovsky dan novelis fiksi sejarah Boris Akunin telah dicap dengan label tersebut, yang memiliki konotasi era Stalin.

Pada Kamis (1/12) digelar pameran buku terbesar di Moskow, sebuah acara budaya tahunan penting di ibu kota Rusia. Banyak penerbit, penjual buku, dan pembaca yang ditemui di acara itu mengaku prihatin dengan aturan pemerintah saat ini.

Yevgeny Kopyov, dari penerbit besar Eksmo, mengatakan dia khawatir dengan bias interpretasi dari undang-undang propaganda LGBTQ. Dia memperingatkan bahwa itu dapat memengaruhi sejumlah besar literatur, termasuk yang klasik. “Semuanya akan bergantung pada interaksi kita dengan otoritas regulasi,” ujarnya sepertyi dikutip AFP.

Banyak penerbit seperti Kopyov sedang menunggu pihak berwenang mengklarifikasi apa yang mereka yakini sebagai "propaganda" LGBTQ atau bukan.

Marina Kadetova dari penerbit Kompas-Gid, memperingatkan bahwa pembatasan tersebut memicu swasensor "Ketika orang mulai menyensor diri mereka sendiri, maka masalah pun dimulai," katanya.

Tatiana Stoyanova, yang juga bekerja di penerbit yang sama, mengatakan pembatasan itu dapat mengarah pada kebangkitan kembali praktik samizdat, penerbitan bawah tanah yang memproduksi dan mengedarkan bacaan yang dianggap terlarang di era Uni Soviet. "Di Rusia, ada mentalitas seperti itu: semakin dilarang, semakin menarik," katanya. (M-3)

BERITA TERKAIT