01 December 2022, 23:10 WIB

Ini Lo yang Membuat Daging Sapi Australia Mendunia


Devi Harahap | Weekend

MI/Devi Harahap
 MI/Devi Harahap
Beef bolar blade MB9

Selama ini, Australia dikenal sebagai penghasil daging sapi berkualitas. Iklim ideal tempat sapi diternakkan dan jenis pakan yang diberikan menjadi alasan utama daging sapi Australia ini terbilang unggul.

Managing Director PT Subur Arta Utama, Alexander Hansen, sebagai importir daging berpengalaman mengatakan ada tiga hal yang menjadikan daging sapi Australia menjadi favorit di banyak negara, termasuk Indonesia.

Apa saja?

1. Iklim dan Jenis Pakan

Menurut Alexander, sapi Australia mengonsumsi berbagai jenis pakan berupa biji-bijian mulai dari jagung, barley, hingga gandum. Biasanya dikenal dengan sebutan grainfed.

Sementara itu, sapi Indonesia umumnya dikenal sebagai grassfed atau pemakan rumput. Indonesia tidak punya gandum karena musimnya tidak mendukung, sebab gandum hanya tumbuh di negara sub-tropis.

Alex mengatakan, pemberian pakan ini lantas akan berpengaruh besar pada tekstur dan rasa daging sapi. Ini yang terjadi pada daging sapi Australia dan Indonesia.

"Jika dibandingkan, sapi yang mengonsumsi gandum dengan sapi yang hanya makan rumput, punya karakteristik berbeda. Kenapa? Karena gandum punya lemak. Sapi yang dikasih makan lemak akan punya cita rasa lebih wangi dan lembut dagingnya," kata Alex dalam acara "Taste and Create with Australia", Rabu (30/11) malam.

Lebih lanjut Alex menjelaskan pada waktu daging terbentuk secara natural, akan membuat jaringan lemak atau intermuscular fat yang biasa disebut dengan "marbel" jauh lebih empuk. Jika teksturnya yang grass fed agak kasar dari dagingnya, maka grainfed lebih lembut.

"Waktu jaringan lemak kena panas, daging itu lemaknya meleleh, jadi dagingnya kayak kopong. Nah itu kenapa waktu kita makan rasanya lembut. Kalau sapi Indonesia kurang jaringan lemaknya, karena tidak ada makan dari gandum itu. Ditusuk pakai tangan pun sudah terasa, yang mana grass fed dan grain fed," imbuhnya.

Selain itu, Australia dan Indonesia memiliki musim berbeda. Australia mempunyai empat musim, sementara Indonesia hanya dua musim. Hal ini juga memengaruhi kualitas daging sapi. Menurut Alex, masing-masing sapi dari dua negara ini memang sudah didesain secara alami untuk hidup di negara asal.

2. Pengembangbiakan Keturunan

Alex yang telah 30 tahun berkecimpung dalam bisnis peternakan sapi menjelaskan bahwa peternakan sapi di Australia sangat menjaga sistem keturunan sapi melalui penelitian. Dengan begitu saat dilakukan kawin silang  atau cross breeding bisa menghasilkan hewan sapi dengan kualitas daging lebih baik.

"Sistem ketertelusuran sapi sangat mempengaruhi kualitas daging, kita mesti tahu kapan produksinya, umurnya berapa, makannya apa, keturunannya apa, genetiknya kayak gimana? Kami sangat menjaga integritas produk mulai dari peternakan hingga ke meja makan, sehingga sapi Australia dapat dilacak sampai ke tempat tujuan" ujarnya.

Ia melanjutkan, "Di Australia ada traceability system. Itu sistem superior, dia bisa mengetahui asal-usul dari seluruh barangnya. Ada sistem halal, higenis, kesehatannya juga terjaga."


3. Bobot dan Harga

Secara umum, Sapi Asutralia dan Indonesia umumnya memiliki bobot rata-rata dan usia penyembelihan yang berbeda. Alex mengatakan, sapi Indonesia biasanya akan disembelih saat memiliki bobot 250-300 kilogram dengan hasil daging sebesar 50 persen dari bobot total karena dikurangi dengan adanya darah, kotoran, dan tulang.

Sementara itu, sapi Australia biasanya akan disembelih saat bobotnya mencapai 300-350 kilogram. Jadi semakin lama makannya, semakin besar sapi. Hal tersebut membuat peternak sapi tidak merugi.

"Penentuan bobot sapi sebelum disembelih ini merupakan hal penting. Sebab, bila umur sapi terlalu muda, bobotnya masih belum mencapai minimum. Jika terlalu lama dibiarkan sebelum disembelih, peternak perlu memikirkan biaya pakan. Hasilnya jadi tidak maksimal," imbuhnya.

Lebih lanjut, Alex mengatakan bahwa Australia juga memilliki grade sapi dan badan sertifikasi daging yang berhak memberikan grade kepada para peternak dan pengusaha daging, untuk sapi misalnya terdapat grade A, B, dan C yang mana Grade A sapi Australia merujuk pada all atau semuanya. Grade B sapi Australia berarti sapi jantan, serta grade C merujuk pada sapi betina.

Untuk harga pasaran, terangnya lagi, saat ini daging sapi Australia di pasar Indonesia dijual dengan harga 130-140 ribu per kg. Sementara itu, sapi Indonesia dibaderol dengan harga Rp 100-130 ribu per kg. (M-2)

BERITA TERKAIT