02 October 2022, 05:20 WIB

Melestarikan Sandeq, Merawat Tradisi Mandar


SUSI IVVATY | Weekend

FOTO: SUSI IVVATY
 FOTO: SUSI IVVATY
Sandeq klasik dengan layar terkembang.


TAKKALAI disombalan dotai lele ruppu nadai lele tuwali (Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai). Tania tau passobal moaq mappelinoi, lembong ditia mepadzottong lawuang (Bukanlah seorang pelaut jika menanti redanya ombak karena justru ombaklah mengantar kita mencapai tujuan). Adagium-adagium Pelaut Mandar yang menggambarkan keperkasaan dan kewiraan itu menjadi penyemangat para nelayan, punggawa, dan nakhoda kapal untuk terus ajek, kukuh, mengarungi lautan luas untuk merengkuh penghidupan dan meneguhkan kehidupan. Sejauh-jauh mereka berlayar, pada akhirnya akan kembali jua ke pelabuhan.


Kita kerap mendengar kedigdayaan para pelaut Nusantara mengarungi samudra di masa lalu. Nelayan yang melaut untuk mencari ikan atau punggawa yang membawa barang-barang dagangan. Berbekal keterampilan dan pengalaman mengendalikan perahu layar tanpa mesin, para posasiq (orang yang bekerja di laut) itu tetap harus waspada karena nyawa taruhannya. Jika bicara kesatria laut, orang Mandar memang biangnya.


Ahli Bugis dari Prancis, Christian Pelras, pernah mengatakan bahwa orang Bugis bukanlah pelaut ulung seperti banyak dikatakan orang selama ini. Orang Bugis ialah pedagang, sedangkan laut dan kapal menjadi sarana untuk memperlancar perdagangan.

Kalau menyebut pelaut ulung, paling tepat ialah orang Mandar (Kompas, 10 Desember 2002). Menurut Abd Rahman Hamid dalam buku Jaringan Maritim Mandar (2021), orang Mandar memang (masih) terabaikan dalam sejarah maritim Indonesia karena kerap ditempatkan sebagai bagian dari Bugis atau Makassar.

Nelayan suku Mandar di Sulawesi Barat pada zaman dulu menggunakan perahu pakur dan perahu sandeq untuk mencari aneka rupa ikan. Kini, meski masih digunakan,
sandeq sudah dilengkapi mesin agar laju jalannya, sedangkan perahu pakur bahkan sudah tidak ada lagi. Mayoritas nelayan menggunakan perahu motor untuk melaut demi efi sisensi waktu agar hasil tangkapan ikan bisa lebih banyak. Zaman bergerak maju, mau tidak mau adaptasi teknologi tidak dapat diabaikan. Romantik atau nostalgia saja, meski jiwa melimpah rasa, dapur tidak bakal mengebul.

Perahu bercadik


Perahu sandeq ialah perahu bercadik khas Mandar berwarna putih dengan rancang-bangun sederhana. Muhammad Ridwan Alimuddin dalam bukunya Orang Mandar Orang Laut (Penerbit Ombak, 2013) menulis, sandeq dalam bahasa Mandar berarti runcing, merujuk pada bentuk haluan perahu yang tajam dan layar meruncing (masandeq). Layar sandeq berbentuk segitiga, berbeda dengan model perahu pakur yang berbentuk segiempat (layar tanjaq).


Perahu sandeq kecil sepanjang lima meter dengan satu-dua awak biasanya menjelajahi kawasan berjarak 1-5 kilometer dari garis pantai, adapun perahu sandeq besar sepanjang 7—11 meter dengan tiga—lima awak, lazim digunakan untuk memancing di roppong atau montangnga. Ridwan, ketika saya temui di Majene Sulbar pada 27 September 2022 menjelaskan mengenai seluk-beluk sandeq yang membuat saya manggutmanggut takjub sambil membayangkan suasana masa silam ketika perahu dirakit.


Secara umum lambung sandeq terbagi menjadi dua, bagian bawah disebut belang, yaitu ceruk yang dibuat pada sebatang kayu besar tanpa sambungan atau susunan papan. Bentuk ceruk ini mirip sampan atau kano. Di atas belang dipasang satu atau dua lembar papan. Kedalaman lambung disesuaikan dengan ukuran sandeq, lazimnya 50—100 cm. Kira-kira sepertiga jarak dari bibir lambung dan dasar perahu ditutup dengan belang. Lambung sandeq besar yang selebar kurang dari 100 cm dengan kedalaman 80—90 cm, dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan selama pelayaran (beras, pisang, kelapa), perabotan memasak, peralatan
perahu dan alat tangkap, hasil tangkapan, serta tempat tidur untuk satu-dua orang.

Sandeq tak pelak merupakan karya jenius lokal orang Mandar. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali membuat sandeq. Namun, orang-orang sudah melihatnya berlayar pada tahun 30-an dan konon dikembangkan oleh tukang perahu di Kampung Pambusuang. Ide rancang-bangun mengambil model dan fungsi satu perahu besar di Pelabuhan Makassar kala itu.


Zainuddin, 72, pemilik sandeq dari Kampung Karama, Kabupaten Polman menceritakan pengalamannya membuat perahu sandeq sejak ia berusia 15 tahun. Sepulang sekolah ia melihat kakeknya merakit perahu dan mengingat-ingat urutannya. Ia juga mengikuti kakeknya mencari kayu, bagaimana kakeknya memilih kayu terbaik untuk sandeq, bagaimana mengukurnya, memasang cadik, hingga mencari kain untuk layar. Begitulah sandeq menjadi tradisi lisan yang diwariskan ke generasi berikutnya hanya melalui tuturan, tanpa catatan, tanpa buku.


Zainuddin tidak ingat jumlah perahu sandeq yang telah ia rakit di masa lalu, namun sampai sekarang ia masih menggarapnya, setidaknya memberikan pengetahuannya.
Zainuddin kini sudah berusia senja, dan anaknya diharapkan mampu dan mau mewarisi pengetahuannya.


Sandeq Race


Sandeq klasik atau sandeq awal yang dirakit pada tahun 30-an kini nyaris tidak dibikin lagi, berganti menjadi sandeq modifi kasi yang digunakan untuk perlombaan
adu cepat. Ridwan Alimuddin menyebut saat ini hanya tersisa kurang dari 20 sandeq klasik. Sandeq perlombaan makin banyak dibuat sejak adanya ‘Sandeq Race’ yang diinisiasi peneliti perkapalan asal Jerman yang menetap di Makassar, Horst Liebner, sejak 1995 dan digelar saban tahun.


“Saya juga yang bisa dibilang termasuk yang pertama kali mengubah bentuk sandeq untuk lomba,” kata Zainuddin. Sandeq milik Zainuddin jugalah, yang bernama Masya Allah, pada 27 September 2022 memenangi Lomba Segitiga Perahu Sandeq dalam rangkaian Festival Sandeq Teluk Mandar 2022 di Pantai Labuang
Majene Sulbar. Lomba ini menjadi bagian dari program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (GBBI) yang dihelat Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan
Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemdikbud-Ristek bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Majene.


“Semuanya itu tidak hanya soal bagus perahunya, tapi juga pengalaman passandeq,” kata Zainuddin. Perahu sandeq Masya Allah memang dinakhodai oleh passandeq yang telah 20 tahun memasang layar dan mengendalikan angin laut, Nurdin, pria berusia 60 tahun. Juara dua lomba segitiga sandeq diraih perahu Nur Amanah milik Ust Gondrong dari Rangas Timur Majene dan juara tiga direbut perahu Cendrawasih milik Sadli dari Tanjung Batu Majene. Hadiah diserahkan oleh Wakil Bupati Majene
Arismunandar Kalma dan Koordinator Pokja Pengembangan Direktorat PPK Ditjen Kebudayaan Kemdikbud-Ristek Yayuk Sri Budi Rahayu.


Perbedaan sandeq klasik dengan sandeq lomba di antaranya adalah besar layar dan lebar lambung. Layar sandeq klasik hanya sekitar 30 cm sedangkan sandeq lomba mencapai 130 cm. Lambung sandeq lomba lebih ramping agar mampu melesat cepat, sedangkan sandeq klasih harus lebar guna menyimpan hasil tangkapan ikan.

Bagi para pelaku dan pelestari tradisi lisan atau kita yang berjiwa romantis, perubahan bentuk dan fungsi sandeq mungkin sedikit mengecewakan. Kita juga khawatir sandeq klasik benar-benar musnah suatu saat nanti sehingga tradisi yang memuat kearifan lokal dan berbagai petuah pun ikut lenyap. Tiap bagian perahu memiliki makna, misalnya layar segitiga yang diartikan sebagai relasi manusia, alam, dan Tuhan, atau sudut runcing yang mengisyaratkan keteguhan hati pada satu tujuan. Filosofi yang tampaknya sengaja dibuat-buat untuk motivasi itu sebetulnya juga hadir di hampir semua etnik di Nusantara, misalnya konsep tri hita karana di Bali atau tri
tangtu di Sunda.


Meski demikian, kreativitas juga menjadi bagian dari upaya penyelamatan tradisi, sebuah ‘rekayasa’ yang dibutuhkan di era industri 5.0. Lihat saja bagaimana masyarakat dari berbagai kabupaten di Sulbar datang ke Pantai Labuang, menyemut, untuk menyaksikan lomba sandeq. Jika tidak ada lomba sandeq, anak sekolah dasar akan hilang ingatan mengenai warisan leluhur itu. Dalam kajian tradisi lisan, lomba sandeq menjadi upaya pengelolaan tradisi lisan agar sandeq tetap lestari.

Edukasi sandeq


Sebab sandeq bukan sekadar perahu. Di balik layarnya ada warisan pengetahuan dan karakter. Pada 1 September 2022 sebanyak 20 siswa SMA di Sulbar mengikuti
kegiatan ‘Student on Sandeq’, yakni berlayar menggunakan tujuh sandeq klasik dari Labuang Majene menuju Kalimantan Timur dengan tujuan mendukung IKN.
Sejumlah siswa sempat dilarang oleh orangtua mereka. Namun, keberanian dan tekad untuk melestarikan sandeq akhirnya meluluhkan hati para orangtua. ‘Student on Sandeq’ yang pertama digelar tersebut menjadi kegiatan edukasi bagi generasi penerus.


Posasiq Mandar menggunakan perahu bercadik, seperti juga suku Vezo di Madagaskar, pelaut Vesayang di Filipina, atau pelaut Antwerpen di Belgia dan nelayan Yami di Taiwan. Meski demikian, kebudayaan bahari Mandar memiliki ciri tersendiri yang mencerminkan ketangguhan tradisi dan bagaimana mereka beradaptasi dengan perubahan. Pada masa lalu, menurut Liebner, sandeq merupakan jenis perahu bercadik tercanggih dan tercepat di kawasan Austronesia, yang merakitnya diiringi ritual dan doa tertentu.


Nilai-nilai kebaikan dalam sandeq jangan sampai diabaikan. Apalagi, sandeq telah ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda Indonesia pada 17 Oktober 2014. Pelaut suku Mandar, yang menempati kawasan dari tepi Selat Makassar di barat hingga Pegunungan Quarles di timur dengan garis pantai sejauh 590 km itu, pernah berlayar dengan dorongan angin hingga ke pulau rempah-rempah di Ternate--Tidore. Jangan sampai lenyap jati diri Mandar. Sibbali parri! (M-3)

 

BERITA TERKAIT