28 September 2022, 09:23 WIB

Begini Cara NASA Melindungi Bumi dari Hantaman Asteroid


Devi Harahap | Weekend

AFP
 AFP
Grafik yang menunjukkan tiga teknik yang dipertimbangkan oleh para ilmuwan untuk menghindari tabrakan dahsyat antara Bumi dan asteroid 

Pesawat ruang angkasa Double Asteroid Redirection Test (DART) dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah berhasil menabrak asteroid Dimorphos pada pada Senin (26/9) pukul 19:14 ET waktu AS atau Selasa (27/9) pukul 06:14 WIB waktu Indonesia.

Peristiwa ini menjadi suatu prestasi dan demonstrasi teknologi pertahanan planet pertama dalam sejarah umat manusia yang mencoba membelokkan objek antariksa di luar angkasa untuk menghentikan benda-benda kosmik yang bisa menghancurkan Bumi.

Dimorphos merupakan gumpalan batu yang jaraknya sangat jauh dengan Bumi. Pada saat terjadj tabrakan, DART akan melaju dengan kecepatan 14 ribu mil per jam. Akan tetapi, Asteroid Dimorphos dan saudaranya Asteroid Didymos yang mengorbit tidak menimbulkan ancaman untuk Bumi. Keduanya tepat untuk latihan target NASA dalam misi ini.

NASA menganggap eksperimen misi DART penting dilakukan untuk melihat apakah tabrakan dapat mengubah pergerakan asteroid di luar angkasa. Dengan cara ini bisa memperkirakan apakah manusia bisa mencegah dampak asteroid di Bumi pada masa yang akan datang.

Seperti dilansir dari AFP Selasa (27/9), Dimorphos dan Didymos yang berukuran lebih besar merupakan sistem asteroid biner. Saat mengorbit, asteroid yang lebih kecil akan berjalan antara Didymos dan Bumi. Artinya teleskop di dalam dan di luar planet bisa memantau keduanya dan melihat dengan cepat saat tabrakan terjadi.

Dengan menabrakkan Dimorphos secara langsung, NASA mampu mendorongnya ke orbit yang lebih kecil, memangkas sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk mengorbit induknya yang lebih besar, Didymos, setiap 11 jam dan 55 menit, sebuah perubahan yang akan dideteksi oleh teleskop darat dalam beberapa hari.

Eksperimen pembuktian konsep akan menjadi kenyataan dari percobaan sebelumnya yang hanya terjadi dalam fiksi ilmiah, terutama pada film seperti "Armageddon" dan "Don't Look Up."

Meski pesawat antariksa telah berhasil menabrak asteroid Dimorphos yang dijadikan target, tetapi misi DART belum berakhir. Tabrakan ini menjadi awal baru untuk penelitian lanjutan yang akan dilakukan para peneliti.

Untuk meneliti dampak tabrakan, misi Hera dari Badan Antariksa Eropa (ESA) akan diluncurkan pada 2024. Kemudian pesawat ruang angkasa bersama dengan dua CubeSat diperkirakan akan tiba di asteroid Dimorphos dua tahun kemudian.

Misi Hera akan mempelajari kedua asteroid, mulai dari mengukur sifat fisik Dimorphos, memeriksa kawah yang disebabkan DART, hingga memeriksa orbitnya. Nantinya hasil penelitian ini akan digunakan untuk membangun strategi pertahanan planet yang efektif, seperti dilansir dari CNN pada (27/9).

Salah satu CubeSat dari Badan Antariksa Italia akan terbang ke Dimorphos untuk mengambil gambar dan video hasil tumbukan dari asteroid dan melihat kawah yang mungkin ditinggalkannya serta melihat sekilas belahan Dimorphos yang berlawanan dari Bumi. Selain Italian CubeSat, Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), Teleskop Luar Angkasa Hubble, dan misi Lucy NASA juga akan mengamati dampak misi DART.

Selamatkan Bumi dan Spesies

Saat DART meluncur secara mendiri ke ruang angkasa pada fase akhir misi, sistem kamera draco di DART akan mulai menunjukkan gambar-gambar pertama Dimorphos.

NASA mengatakan tabrakan ini akan menghasilkan gambar mentah dan paling mutakhir dari dampak asteroid yang terjadi. Gambar itu nantinya akan dikirim oleh sebuah perangkat bernama LICIACube.

Perangkat itu dilepaskan dari DART beberapa mingu lalu. LICIACube akan terbang di sekitar DART tiga menit setelah tabrakan dengan Dimorphos. Selanjutnya, NASA akan mengambil beberapa foto hasil dari tabrakan itu dan mengirimnya ke Bumi.

Menurut Ilmuwan NASA Thomas Zurbuchen, dari miliaran jumlah asteroid dan komet di tata surya, hanya sedikit yang dianggap berpotensi dapat membahayakan bumi hingga seratus tahun ke depan.

"Tapi saya jamin jika Anda menunggu cukup lama, objek tersebut akan muncul," kata Thomas.

Kita tahu bahwa dari catatan geologi 66 juta tahun yang lalu misalnya, asteroid Chicxulub selebar enam mil pernah menghantam Bumi, membuat dunia mengalami musim dingin yang panjang hingga menyebabkan kepunahan massal dinosaurus bersama 75% spesies hewan lainnya.

Sedangkan sebuah asteroid seukuran Dimorphos hanya akan menyebabkan dampak secara regional, seperti menghancurkan sebuah kota, meski asteroid tersebut memilikinya kekuatan yang lebih besar daripada bom nuklir mana pun dalam sejarah dunia.

Melihat sejarah kepunahan spesies yang diakibatkan oleh ancaman asteroid di masa lalu, maka Misi DART menjadi sangat penting untuk mempertahankan planet bumi dan spesies yang ada di dalamnya dari ancaman eksistensial di masa depan.(M-4)

BERITA TERKAIT