07 September 2022, 19:45 WIB

Wafatnya Pria Berjuluk Manusia Lubang ini jadi Penanda Punahnya Suku Asli Pedalaman Amazon


Devi Harahap | Weekend

National Indian Foundation/AFP
 National Indian Foundation/AFP
Penampakan pria yang diyakini sebagai suku terakhir Amazon pada 2011

Seorang pria yang merupakan anggota terakhir dari suku adat dari wilayah Tanura di pedalaman Brasil, yang hidup terisolasi dan tidak terhubung dengan dunia luar. ditemukan meninggal dunia. Kabar duka tersebut dilaporkan tim patroli setempat yang menemukan jasadnya di kediamannya.

Selama lebih dari 20 tahun, pria ini tinggal sendirian di belantara hutan hujan Amazon dengan memakan kacang-kacangan, buah-buahan, dan hewan buruan sebuah simbol perjuangan masyarakat adat yang hidup di alam bebas dalam keterasingan dunia modern.

Menurut Survival International, sebuah organisasi nirlaba yang bekerja dengan masyarakat adat untuk melindungi hak tanah mereka, kasus meninggalnya pria paling kesepian yang menjalani sisa hidupnya seorang diri ini membuat suku asli Brasil resmi punah.

Diketahui, pria itu memutuskan tinggal sendirian di hutan hujan Amazon Brasil setelah seluruh kelompok sukunya terbunuh dalam serangkaian serangan oleh peternak dan penambang ilegal yang ingin menguasai tanah mereka dimulai pada 1970-an.

Direktur penelitian dan advokasi di Survival International, Fiona Watson yang mengunjungi wilayah suku pada tahun 2004 mengatakan dalam sebuah pernyataan mengenai pembantaian suku itu.

"Karena apa yang terjadi dulu memang sebuah genosida, pemusnahan yang disengaja dari seluruh orang khususnya oleh para peternak yang haus akan tanah dan kekayaan," kata Watson seperti dilansir dari France24 pada Selasa (6/9)

Wilayah Adat Tanaru mencakup 8.000 hektar (30 mil persegi) dari hutan hujan lindung di negara bagian Rondonia barat daya Brasil yang berbatasan dengan Bolivia. Cagar alam ini dikelilingi oleh peternakan sapi yang cukup luas.

"Tanah Tanaru seperti oasis hijau di lautan kehancuran," imbuh Watson.

Manusia Lubang

Dilaporkan nama asli pria itu tidak diketahui, sehingga pengamat menjulukinya "Man of the Hole" karena kebiasaannya menggali lubang yang dalam untuk menjebak hewan atau bersembunyi.

Mayat pria itu ditemukan tewas di tempat tidur gantung di luar tempat tinggal jeraminya di daerah Adat Tanaru di negara bagian Rondônia, berbatasan dengan Bolivia pada Selasa (23/8) oleh Altair José Algayer, anggota lembaga perlindungan Pribumi Brasil National Indian Foundation (Funai).

Altair melihat kondisi pria itu tewas dengan mengenakan Bulu macaw berwarna cerah mengelilingi tubuhnya di tempat tidur gantung yang terletak di luar gubuknya.

Hal itu membuat Altair menyimpulkan bahwa "Man of the Hole" telah mengatur bulu-bulu itu untuk mengantisipasi kematiannya sendiri. Tidak diketahui penyebabnya, namun tak ada tanda-tanda kekerasan, dilaporkan dia tutup usia pada umur sekitar 60 tahun.

"Tidak ada orang luar yang tahu nama pria ini, atau bahkan mengenai sukunya, peristiwa kematiannya dan genosida sukunya membuat suku ini resmi punah," ujar Altair seperti dilansir Live Science.

"Man of the hole" pertama kali terlihat pada tahun 1996 oleh tim dokumenter yang bepergian dengan pejabat National Indian Foundation, sebuah lembaga pemerintah yang menyelidiki pembantaian yang dilakukan terhadap sukunya. Rekaman itu ditampilkan dalam sebuah film dokumenter berjudul "Corumbiara" pada tahun 2009.

Pembuktian keberadaan masyarakat hukum adat di kawasan hutan Tanaru diperlukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap kawasan tersebut.

Di dalam rekaman tersebut, terlihat mata pria itu sedang mengintip dari dalam gubuk jerami. Sebuah tombak mencuat di satu titik, seolah-olah menakut-nakuti pengunjung. Tapi tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Selama bertahun-tahun, tim Funai kembali ke dalam hutan dengan membawa perwakilan dari suku-suku lain terdekat untuk mencoba menentukan bahasa apa yang digunakan pria itu dan mempelajari lebih banyak tentang bangsanya.Tapi pria itu menegaskan tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Pernah suatu kali dia merasa terancam dan menembakkan panah yang membuat anggota tim Funai terluka parah.

"Orang hanya bisa membayangkan apa yang pria ini pikirkan, alami, hidup sendiri, tidak dapat berbicara dengan siapa pun dan saya pikir sangat ketakutan karena setiap orang luar baginya merupakan ancaman, mengingat pengalamannya yang mengerikan," kata Watson.

Setelah penolakan pria itu, pihak berwenang hanya mencoba berpatroli di wilayahnya dan mencari tanda-tanda bahwa dia masih hidup.

Dalam rekaman terakhir yang diketahui tentang kehidupannya, dia terlihat setengah telanjang menebang pohon dengan kapak. Selain busur dan anak panah yang menunjukkan dia berburu, ada kebun tempat dia menanam buah dan sayuran, seperti pepaya dan ubi kayu.

"Kami melihat salah satu kebunnya dan penuh dengan hasil bumi, sangat terawat dengan baik," kata Watson yang mengunjungi situs itu pada 2005.

Tapi yang paling membuat para peneliti terpesona adalah banyaknya lubang yang dia gali dengan kedalaman sekitar dua meter (tujuh kaki) yang di dasarnya terdapat tombak tajam.

Funai mengatakan, petugas menemukan 53 tempat yang pernah menjadi rumahnya di wilayah Tanaru, selalu memiliki karakteristik dan struktur yang sama yaitu gubuk jerami kecil dengan satu pintu dan beberapa lubang.

Lubang-lubang itu digunakan untuk menjebak hewan, tetapi para ahli berpikir bahwa lubang itu mungkin juga menjadi tempat baginya untuk bersembunyi dari penyusup atau memiliki semacam tujuan spiritual.

"Lubang-lubang itu adalah sebuah misteri yang telah mati bersamanya seperti halnya sejarah orang Tanaru," ujar Watson.

Hingga saat ini, Funai telah mengidentifikasi 114 kelompok adat yang hidup terisolasi di bagian Hutan Amazon Brasil. (M-4)

 

 

BERITA TERKAIT