14 August 2022, 05:10 WIB

Trena Mustika dan Treni Fitriyana Liku Takdir si Kembar


NIKE AMELIA SARI | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Trena Mustika dan Treni Fitriyana Liku Takdir si Kembar


EPISODE berjudul Menemukan Akar yang Hilang yang tayang malam ini menghadirkan orangorang yang baru dapat bersatu lagi dengan keluarga setelah lama terpisahkan. Kisah pertama ialah Trena Mustika dan Treni Fitriyana, kembar yang terpisah selama 24 tahun.

Trena dan Treni lahir di Ambon, Maluku, dari keluarga transmigran. Kembar ini lahir saat konfl ik Ambon pecah dan orangtua mereka percaya bahwa keduanya harus dipisahkan agar tidak menimbulkan malapetaka.

“Saya dan adik saya sering sakitsakitan dan kata orang pintar di zaman dulu harus salah satunya dipisahkan dan kebetulan almarhum mama saya dulu lagi sakit,” dalam Kick Andy yang tayang malam ini di Metro TV.

Di usia dua bulan, Treni dibawa ke Blitar, Jawa Timur, dan hidup dengan orangtua angkat, yaitu pasangan Mesranto dan Rini. Trena sempat pula dirawat orang lain. Namun, kembali ke keluarga kandung yang kemudian hijrah ke Tasikmalaya, Jawa Barat, bersama tujuh saudaranya.

Di usia lima tahun, Trena baru mengetahui memiliki saudari kembar dan ketika itu ibunya yang sedang sakit kanker serviks saat ingin bertemu Treni. “Sebelum mama meninggal, mama malahan pernah bermimpi bertemu sama Treni datang ke Tasikmalaya. Waktu itu mama saya sudah sakit parah, sudah tidak bisa bangun, mama waktu itu saya tanya. “Mah, inget gak sama adik saya? Mama jawab mama inget, barusan dia ke sini, dia pulang lagi, dia mau ketemu bapak saya,” kenang Trena yang kemudian menceritakan pada sang ayah yang saat itu bekerja sebagai tukang ojek.

Medsos


Karena menjalankan pesan ibunya untuk mencari Treni, Trena memanfaatkan media sosial (medsos). Pada 2019, sebelum ibunya meninggal, ia sempat membuat video yang memuat upaya pencarian Treni. Ia menyebutkan lengkap identitasnya begitu pula dengan identitas Treni dan nama orangtua angkatnya.

Video itu belum membuahkan hasil. Namun, kemudian tetangga Trena melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengannya di medsos. Mengetahui bahwa Trena memang sedang mencari saudara kembar yang lama terpisah, tetangga itu segera memberi informasi.

Salah satu kakak Trena kemudian menghubungi Treni lewat medsos. Treni sendiri awalnya mengaku khawatir menjadi korban keisengan, tetapi kemudian berusaha mencari tahu kisah latar hidupnya. “Dari situ, saya coba diskusi dengan suami dan suami bilang iya mirip kamu. Setelah itu, saya diam di kamar dan mencoba memberanikan diri bertanya ke ibuk (ibu angkat), saya mencari waktu yang tepat untuk bertanya ke ibuk. Akhirnya disitulah ibuk mulai cerita,” tutur Treni.

Setelah mendengar semua cerita dari ibu angkatnya, Treni mengaku perasaannya sangat lega. “Abis itu kita mulai komunikasi sama Trena, mulailah kita mulai saling berkenalan dan merencanakan untuk bertemu. Ibu angkat saya mendukung, bahkan yang mengajak saya untuk ke Tasikmalaya ialah ibu,” jelas Treni yang mengaku
dirawat penuh kasih oleh orangtua angkatnya.

Pada 12 Oktober 2020, untuk pertama kalinya Treni melakukan panggilan video dengan keluarga kandungnya, termasuk kembarannya Trena. Sekitar seminggu kemudian, Treni kemudian berkunjung ke Tasikmalaya.

Trena dan Treni yang sudah menikah kini tetap hidup masingmasing dengan keluarga mereka. Namun, hubungan persaudaraan pun terus terjalin dan kian hangat. Lewat perjalanan itu pula mereka menyadari jika jalan hidup tidak bisa ditebak. Namun, takdir dari Sang Maha Pencipta pasti akan terjadi, termasuk pertemuan kembali.
Semuanya membawa hikmah tersendiri. (M-1)

BERITA TERKAIT