22 July 2022, 15:19 WIB

Main di Jazz Gunung, Duo Rocker ini Dapat Pengalaman Baru


Fathurrozak | Weekend

MI/Fathurrozak
 MI/Fathurrozak
Founder Jazz Gunung Sigit Pramono (keempat dari kiri) dan para pengisi acara. 

Festival musik jazz tahunan yang mengambil lanskap gunung, Jazz Gunung Bromo, kembali hadir dengan kapasitas penonton penuh tahun ini.

Setelah pada edisi 2020 dilangsungkan secara hibrida dan pada tahun lalu hanya dibuka bagi 300 penonton, festival jazz yang berada di ketinggian 2.000 mdpl itu kembali hadir dengan kapasitas 2.000 penonton. Untuk hari pertama, (22/7), tiket sudah terjual 80% dan untuk hari kedua, Sabtu (23/7), sudah ludes.

Salah satu pendiri Jazz Gunung, Sigit Pramono, menyampaikan penyelenggaraan Jazz Gunung Bromo 2022 menjadi momentum kembali merayakan kebangkitan industri musik dan ekonomi kreatif.

“Tidak usah pakai teori muluk-muluk. Kalau di sini penonton 2000, misalkan satu kamar berdua, artinya butuh 1.000 kamar. Di Jiwa Jawa yang menjadi venue Jazz Gunung, ada 80 kamar. Sisanya ke mana? Ya di sekitar Bromo itu ada 300-an kamar, yang lainnya ke homestay, di tempat-tempat penduduk. Lainnya lagi di bawah. Belum yang sewa kendaraan, kuda, makanan, minuman,” terang Sigit dalam konferensi pers di Jiwa Jawa, Jumat, (22/7).

Ahmad Albar dan Ian Antono, dua pentolan band rock God Bless yang bakal jadi pemungkas di hari pertama menyatakan antusiasme mereka dalam kesempatan debutnya main di Jazz Gunung Bromo.

“Ini sesuatu yang asik bagi saya dan Ian. Suatu pengalaman baru lagi, bisa berkolaborasi dengan Blue Fire Project, digabungkan dengan para pemusik tradisional yang didatangkan dari Banyuwangi,” kata Achmad Albar dalam kesempatan sama dengan Sigit.

“Ini pertama kali saya ke Bromo untuk main musik. Ketika Dewa Budjana, kurator Jazz Gunung datang ke kami menawarkan untuk main di Jazz Gunung, saya bilang agak kesulitan kalau jazz, tapi kalau digabung mungkin bisa. Akhirnya setelah beberapa percobaan sampai lima kali latihan, ubah aransemen, akhirnya ketemu. Musik yang akan berbicara (di panggung),” sambung Ian.

Bagi Achmad Albar, musik adalah universal. Terlebih, jazz bisa dikolaborasikan dengan berbagai genre. Ia pun berharap penampilannya bisa menghibur penonton yang hadir di Jazz Gunung Bromo 2022. (M-2) 

BERITA TERKAIT