03 July 2022, 05:10 WIB

hevie Mawarti Setianingrum : Menebar Harum dari Minyak Jelantah


(*/M-1) | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Chevie Mawarti Setianingrum

SELEPAS berhenti bekerja akibat jarak tempuh yang jauh, Chevie Mawarti Setianingrum ingin tetap produktif meski hanya di rumah. Pilihannya kemudian jatuh pada kerajinan tangan karena semenjak kecil sudah terbiasa dengan usaha jahit yang dimiliki ibunya.

Setelah mendapat izin suami, Chevie kemudian belajar kerajinan tangan di fesyen anak dari teman SMA-nya. Sempat mulai berbisnis, tapi ia merasa tidak puas karena bergantung pada momen tertentu saja, seperti Idul Fitri.

Sembari tetap menjalankan usaha yang dinamakan Arnetta Craft, ibu empat anak itu kemudian banyak menimba ilmu soal kerajinan daur ulang dari video-video Youtube. Hingga pada 2019, ia menemukan sabun yang terbuat dari minyak jelantah. Sangat tertarik, Chevie kemudian mendalami proses pembuatannya.

Di awal eksperimennya, ia hanya memakai minyak jelantah yang bekas gorengan tahu, tempe, kerupuk, tidak yang berbau amis seperti bekas gorengan ayam dan ikan. Namun, sekarang Chevie sudah menemukan formula bagaimana dapat membersihkan minyak jelantah bekas gorengan apa pun dari rumah tangga.

"Minyak jelantah itu minyak goreng bekas yang biasa ibu-ibu gunakan yang kadang-kadang langsung dibuang ke wastafel, enggak ditampung. Kita manfaatkan untuk sabun cuci batang, kita juga buat untuk lilin, lalu untuk pengharum," katanya dalam Kick Andy episode Ibu Rumah Tangga Plus-Plus yang tayang malam ini di Metro TV.

Tidak hanya mengambil keuntungan pribadi dari produk yang dijualnya, tapi juga ia memberikan edukasi sambil mempraktikkannya kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di Perumnas Klender, Jakarta Timur. Berbagi ilmu ini sekaligus dorongan dari sang suami.

"Ayah (suami) selalu ngingetin jangan lupa kalau berbuat sesuatu itu, harus ada yang dikeluarin kayak kita sedekah pagi, berapa pun yang kita punya sisihin. Tapi kalau lagi enggak ada, kamu kan punya keterampilan, coba disedekahkan, namanya sedekah ilmu," ujarnya.

Selain dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci padat, minyak jelantah yang sudah diolah dapat dipakai sebagai lilin bakar dan pengharum lemari atau kamper. Untuk sabun cuci padat, selain dapat menghilangkan noda berminyak pada lap yang biasa digunakan di dapur, bisa juga untuk menghilangkan noda membandel di baju dan pakaian lainnya.

 

Selain itu, sabun cuci dari olahan minyak jelantah ini dapat membersihkan lantai kamar mandi, menghilangkan noda haid, menghilangkan noda tinta, dan mencuci piring. Lilin dari minyak jelantah itu berfungsi sebagai lilin bakar biasa, bukan lilin aroma terapi.

Sabun karyanya laris sebagai suvenir pernikahan. Jika dijual satuan, sabun cuci padat dihargai Rp5 ribu, untuk lilin bakar Rp10 ribu-Rp15 ribu bergantung pada ukuran, dan untuk pewangi Rp15 ribu-Rp25 ribu tiap buahnya.

Bagi ibu-ibu sekitar rumahnya, Chevie juga menyediakan penukaran minyak jelantah dengan uang Rp5.000/liter minyak atau ditukar dengan sabun buatannya. Meski sudah diedukasi, memang tidak semua orang bisa dan memiliki waktu untuk mengolah minyak jelantah.

Bagi Chevie, setidaknya ibu-ibu tidak perlu lalu membuang minyak jelantah ke lingkungan. Chevie menyebut peserta pelatihan daringnya datang dari berbagai daerah, seperti Balikpapan, Aceh, hingga Ambon. Untuk pelatihan berbayar, Chevie menganggarkan Rp145 ribu untuk tiga materi dan dapat praktik membuat sabun cuci padat. Dari pelatihan berbayar tersebutlah Chevie dapat mengalokasikan subsidi silang untuk pelatihan gratisnya. Ia juga pernah memberikan pelatihan kepada tahanan LP di Pondok Bambu, anak-anak yatim piatu di Yayasan Lazizna, dan penyandang disabilitas di Loka Bina Karya Malaka.

 

BERITA TERKAIT