05 June 2022, 07:00 WIB

Ahli Bedah Berhasil Transplantasi Telinga dengan Printer 3D dari Sel Hidup


Devi Harahap | Weekend

unsplash.com/Hayes Potter
 unsplash.com/Hayes Potter
Ilustrasi: Telinga manusia

TIM ahli bedah asal AS berhasil merekonstruksi telinga seorang perempuan menggunakan jaringan pasien sendiri untuk membuat transplantasi implant telinga 3D. Pasien perempuan itu lahir dengan kelainan telinga bawaan dan langka.

Operasi dilakukan sebagai bagian dari uji klinis tahap awal untuk mengevaluasi keamanan dan kemanjuran implan bagi orang dengan kelainan mikrotia, yaitu sebuah kelainan telinga luarnya kecil dan tidak terbentuk dengan benar.

Diketahui telinga cetak ini dikembangkan oleh perusahaan 3D Bio Therapeutics. Transplantasi adalah bagian dari studi klinis pertama yang dipimpin oleh Arturo Bonilla, pendiri dan direktur Microtia-Congenital Ear Deformity Institute di San Antonio, Texas. Keberhasilannya merupakan langkah maju yang signifikan untuk rekayasa jaringan,

"Sebagai seorang dokter yang telah merawat ribuan anak dengan mikrotia dari seluruh negeri dan di seluruh dunia, saya terinspirasi oleh apa arti teknologi ini bagi pasien mikrotia dan keluarga mereka," kata Bonilla dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Jumat (3/5).

Dia berharap implan itu suatu hari nanti akan menggantikan pengobatan mikrotia saat ini, yang melibatkan pencangkokan tulang rawan dari tulang rusuk pasien atau menggunakan bahan sintetis, polietilen berpori (APD), untuk merekonstruksi telinga luar.

Prosedur ini melibatkan pemindaian 3D pada telinga pasien yang berlawanan untuk membuat cetak biru, kemudian mengumpulkan sampel sel tulang rawan telinga mereka dan menumbuhkannya dalam jumlah yang cukup.

Sel-sel ini dicampur dengan tinta bio berbasis kolagen, yang dibentuk menjadi telinga luar. Implan dikelilingi oleh cangkang yang dicetak dan dapat terurai secara alami dan diserap ke dalam tubuh pasien seiring waktu.

Telinga yang ditanamkan seharusnya menjadi matang dari waktu ke waktu, mengembangkan tampilan dan nuansa alami, termasuk elastisitas, dari telinga biasa. Uji klinis ini sedang berlangsung di California dan Texas yang diikuti oleh 11 pasien.

“Implan membutuhkan prosedur bedah yang tidak terlalu invasif dibandingkan dengan penggunaan tulang rawan tulang rusuk untuk rekonstruksi. Kami juga mengharapkannya agar bisa menghasilkan telinga yang lebih fleksibel daripada rekonstruksi dengan menggunakan implan APD,” kata Bonilla.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Microtia merupakan penyakit di mana satu atau kedua telinga tidak berkembang atau hilang sama sekali. Mikrotia terjadi pada sekitar 1 dari setiap 2.000-10.000 bayi yang lahir di Amerika Serikat setiap tahun. Penyakit ini dapat meningkatkan risiko bagi ibu hamil antara lain seperti diabetes dan pola makan yang lebih rendah karbohidrat dan asam folat.

Mikrotia lebih mudah terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Rata-rata kelainan ini banyak terkena pada orang-orang Hispanik, Asia, Kepulauan Pasifik, dan penduduk asli Amerika.

Meskipun demikian, anak-anak dengan pengidap mikrotia dapat berkembang secara normal dan menjalani kehidupan yang sehat, namun fisik telinga mereka terlihat berbeda sehingga bisa saja suatu hari nanti mereka mengalami perundungan sosial karena penampilannya.

Perusahaan 3DBio berencana mengembangkan implan dengan berbagai bentuk untuk membantu para pengidap mikrotia dengan kondisi yang tergolong parah.

Implan cetak 3D juga dapat digunakan untuk membantu kelainan lainnya yang melibatkan tulang rawan, termasuk cacat atau cedera hidung, rekonstruksi payudara, kerusakan meniskus di lutut, atau robekan rotator cuff di bahu.

"Penelitian awal kami masih berfokus pada tulang rawan di bidang rekonstruktif dan ortopedi, setelahnya kami akan mengembangkan ini lebih luas lagi pada bidang bedah saraf dan sistem organ," kata perusahaan itu dalam situs resmi mereka. (M-4)

BERITA TERKAIT