28 May 2022, 07:20 WIB

Ziarah Perjalanan Putri sang Proklamator


Margaretha M.Siahaan/M-2 | Weekend

Dok. MI
 Dok. MI
Cover buku Indonesia yang Mewarnai Perjalanan Hidupku.

LEWAT bukunya, Indonesia yang Mewarnai Perjalanan Hidupku, Prof Dr Meutia Farida Hatta Swasono, putri sulung dari salah satu Bapak Proklamator RI, Mohammad Hatta, mengajak kita menziarahi perjalanan hidupnya. Buku yang dirilis bersamaan dengan usianya yang genap tiga perempat abad tersebut penuh dengan ragam kisah kehidupan Meutia. Deskriptif, rinci, dan terbuka.

Benang merah dari kisah inspiratif ini ialah siklus kehidupan, life cycle. Sejarah jati diri Meutia yang dialiri utuh darah Indonesia. Klimaks akhirnya membentuk dirinya sebagai seorang antropolog yang andal. Guru besar yang mumpuni, di samping juga tokoh politikus dan birokrat di Tanah Air.

Meutia lahir di Yogyakarta, ketika kota tersebut menjadi ibu kota pertama RI. Kelahirannya di masa perjuangan kemerdekaan dipenuhi kenangan, seperti ketika upacara penanaman (mendhem) ari-ari bayi Meutia dilakukan oleh Presiden Sukarno, sementara Bung Hatta memimpin rapat kabinet.

Seiring perpindahan ibu kota, keluarga Hatta kemudian hijrah ke Jakarta. Di kota ini, Meutia digambleng oleh keadaan lingkungannya yang diramaikan beragam kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Ia bukan sekadar orang Minangkabau, Aceh, atau Jawa. Bukan pula sekadar umat Islam, Katolik, Protestan, Hindu, atau Buddha. Namun, dirinya ialah orang Indonesia yang hidup dalam multikultural yang mendasari toleransi dengan agama apa pun dalam lingkungan sosial budaya kehidupannya. Demikian Meutia berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya.

Di rumah, Bung Hatta membuat sudut ruang khusus untuk buku cerita-cerita rakyat dari seluruh Indonesia, termasuk juga komik wayang Ramayana dan Mahabrata. Bahkan, tidak jarang Bung Hatta menceritakan kisahkisah itu langsung kepada Meutia dan saudara-saudaranya, Gemala dan Halida.

Pengalaman personal itu turut membentuk kecintaan Meutia pada kehidupan multikultural di bumi Nusantara dan kelak mengejawantah dalam pilihannya berkuliah di jurusan antropologi Universitas Indonesia (UI).

Di situ, diraihnya S-1 dan terus berlanjut hingga ia dikukuhkan menjadi Guru Besar Antropologi UI, yang dibimbing oleh ‘Dewa Antropologi’ Prof Koentjaraningrat.

Meutia menganggap pendidikan bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga bermanfaat bila meneliti, mengelilingi, dan mendatangi ke seluruh kehidupan pikiran hati dan falsafah serta jiwa mereka. Melihat langsung alam setiap suku bangsanya di Indonesia sehingga ruang dan waktu kehidupannya terisi mengalir bergulir dinamis. Dedikasinya mengajar sudah 48 tahun.

Pada 1 Januari 2006, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar. Meutia pensiun di usia 70 tahun, dengan status PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) selama 15 tahun. Ia pensiun lima hari setelah ulang tahunnya 26 April 2007. Selanjutnya dalam waktu bersamaan beliau sempat dipercaya bertugas di pemerintahan, di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) sebagai deputi menteri, yang mengembangkan pengetahuan pemahaman seni budaya tingkat nasional berkaitan dengan kearifan lokal. Di masanya pula, keris dan wayang mendapat pengakuan Unesco, salah satu badan di bawah PBB, sebagai warisan budaya Indonesia.

Meutia juga mendapat amanah sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (PP) di Kabinet Indonesia Bersatu. Ia sangat prihatin melihat kenyataan nasib para perempuan Indonesia dan anak yang banyak ditimpa kekerasan kehidupan dan rendahnya pemberdayaan perempuan Indonesia, antara lain hanya berperan 20,9% (2009) dalam pemerintahan. Langkah terakhir yang ia sarankan ialah menyusun rencana Aksi Nasional dengan mengubah Kementerian PP menjadi Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PP & PA) .

Selepas dari kursi menteri, Meutia ditugaskan sebagai Wantimpres (2010-2014). Lingkup yang dibawahkannya mencakup pendidikan dan kebudayaan, dengan memperhatikan sekolah negeri, swasta, dan penggajian secara nasional.

Ia pun mengarahkan agar para pemuda Indonesia mengenal Tanah Air yang dua pertiga wilayahnya berupa lautan. Menurutnya, dibutuhkan pemuda yang ahli di bidang kelautan, hutan tropis, sekaligus mafhum kondisi sosial budaya untuk mengelola alam di seluruh Indonesia.

Ekspresi perjalanan panjang Meutia dalam buku ini selalu terkait dengan Indonesia. Seluruh hidupnya beriringan menyatu holistik antara Indonesia, pribadi Meutia, keluarga, karya dan kehidupannya.

Dalam buku ini, Meutia juga mewanti-wanti, tantangan terkait pembangunan fisik, pembangunan manusia, perubahan sosial budaya, pendidikan ekonomi, teknologi, politik dan hukum kini bertambah kompleks melawan pandemi covid-19. Selain pada kesehatan fisik, perhatian terhadap kesehatan mental diperlukan bagi masyarakat Indonesia dalam kondisi tatanan kenormalan baru (new normal) ini.

Sementara itu, berkaitan dengan kehidupan komunikasi virtual antarmasyarakat, menurutnya kita perlu belajar menyosialisasikan teknologi digital guna mengatasi tantangan ini. Memang keunggulan masyarakat dari budaya suku bangsa dan budaya Indonesia telah ditata sesuai UUD 45. Namun, tetaplah kita perlu menjaga, memelihara kesatuan negara Indonesia agar tetap besar, luas dan unik di tengah dunia.

Akhirnya, saya tutup ziarah kehidupan perjalanan buku ini, yang menjadi persembahan inspirasi bagi semua pembaca, yang membawa jiwa cinta damai pada negara dan bangsa Indonesia. Selamat merenung. (Margaretha M.Siahaan/M-2)
 

BERITA TERKAIT