22 May 2022, 05:15 WIB

Dani Ferdian : Dokter yang Dekat dengan Warga


(*/M-1) | Weekend

MI. Adam Dwi
 MI. Adam Dwi
Dani Ferdian 

PROFESI dokter identik dengan jiwa penolong. Namun, tak sedikit pula orang yang mengejar profesi dokter karena imbalan materi yang besar.

Tidak ingin menjadi dokter yang jauh dari aksi nyata menolong masyarakat, Dani Ferdian membuat kegiatan kerelawanan sejak berkuliah di Fakultas Kedokteran Univesitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat.

Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy bertajuk Panggilan Hati yang tayang malam ini, Dani mengungkapkan dirinya sudah terbiasa bergelut di organisasi kemasyarakatan sejak SMA. “Ketika kita melakukan kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, di situ saya merasakan bahwa ada satu hal yang beda, jadi kayak punya efek candu, jadi senang apalagi ketika mereka merasa terbantu,” kata pria yang kini berusia 33 tahun itu.

“Itulah kenapa membuat saya pengin masuk fakultas kedokteran juga. Padahal dari kecil, dari SD sampai kelas dua SMA, saya pengin masuknya informatika,” lanjut peraih SATU Indonesia Awards dan penghargaan Pemuda Pelopor Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional dari Menteri Pemuda dan Olahraga ini.

Melihat potensi anak-anak kedokteran dan sepinya aktivitas sosial di lingkungan kampus membuat Dani menginisiasi gerakan sosial di tahun kedua berkuliah. Terlebih setelah menjabat sebagai Kepala Seksi Pengabdian Masyarakat BEM Fakultas Kedokteran Unpad, ia melihat desa-desa di sekitar kampusnya di Jatinangor, Sumedang, yang kurang terlayani fasilitas kesehatan.

Pada 2009, ia mendirikan komunitas Volunteer Doctors (Vol-D). Beberapa layanan yang mereka berikan ialah pengukurantensi, gula darah, dan kolesterol. Setelah itu, warga diedukasi untuk menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat.

Gerakan yang dimulai di wilayah Jawa Barat ini sekarang sudah berkembang hingga ke beberapa daerah di Indonesia. Volunter yang bergabung pun juga berdatangan dari bidang nonkesehatan.

“Komunitas Volunteer Doctors, kalau kami analogikan, ini seperti sekolah nurani bagi calon tenaga kesehatan. Tidak harus dokter karena pada saat implementasi di lapangan, tidak bisa hanya diselesaikan sama dokter. Jadi butuh kolaborasi antarprofesi. Gerakan ini seperti laboratorium untuk melatih empati, kepekaan sosial, dan semangat kerelawanan kami,” tutur pria yang kini telah menajdi dokter sekaligus staf pengajar FK Unpad ini.

Lebih lanjut, penerima penghargaan ASEAN Youth Award dari lembaga ASEAN ini mengungkapkan, sampai saat ini, pendaftaran sudah sampai 20 gelombang dengan per gelombang sekitar 50 orang. Sampai tahun ini, lanjutnya, sudah di atas 1.000 orang yang ibaratnya lulus dilantik dari komunitas tersebut.

Ada dua program yang menjadi turunan dari program-program Vol-D yang masih rutin dilakukan sampai sekarang oleh volunter profesional dokter, yaitu program Dokter Gigi Dekat dan program mengatasi masalah stunting. (*/M-1)

BERITA TERKAIT