19 May 2022, 10:42 WIB

Indikator Iklim Kritis Memecahkan Rekor pada 2021


Adiyanto | Weekend

AFP
 AFP
Banjir yang terjadi di Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok, pada Juli 2021

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan Indikator global kritis dari krisis iklim memecahkan rekor pada tahun 2021. Hal ini ditandai dari naiknya lautan hingga tingkat emisi yang memerangkap panas di atmosfer.

WMO mengatakan ini adalah tanda-tanda yang jelas dari dampak aktivitas manusia di planet ini yang membawa efek jangka panjang. Cuaca ekstrem, yang oleh WMO disebut sebagai wajah sehari-hari dari darurat iklim, mendatangkan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerugian ratusan miliar dolar.

Kekeringan dan banjir memicu kenaikan harga pangan yang diperparah pada tahun 2022. Laporan Keadaan Iklim Global WMO pada tahun lalu juga menemukan fakta tujuh tahun terakhir sebagai rekor terpanas.

“Laporan keadaan iklim hari ini adalah narasi suram kegagalan umat manusia untuk mengatasi gangguan iklim. Bahan bakar fosil merupakan faktor yang berdampak pada lingkungan dan ekonomi,” kata Sekjen PBB, António Guterres seperti dilansir The Guardian, Kamis (19/5).

“Satu-satunya masa depan yang berkelanjutan adalah dengan energi terbarukan. Angin dan matahari sudah tersedia, dan dalam banyak kasus, lebih murah daripada batu bara dan bahan bakar fosil lainnya. Jika kita bertindak bersama, transformasi energi terbarukan dapat menjadi proyek perdamaian abad ke-21,” imbuhnya.

Prof Petteri Taalas, sekretaris jenderal WMO, mengatakan “Iklim berubah di depan mata. Gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia akan menghangatkan planet ini selama beberapa generasi mendatang. Beberapa gletser telah mencapai titik tidak bisa kembali dan ini akan memiliki dampak jangka panjang di dunia, di mana lebih dari 2 miliar orang sudah mengalami kesulitan air.”

“Sistem peringatan dini sangat diperlukan untuk menyelamatkan nyawa, namun ini hanya tersedia di kurang dari setengah dari 187 negara anggota WMO.” (M-4)

BERITA TERKAIT