07 April 2022, 06:55 WIB

Kisah Tapol Gregorius Soeharsojo diangkat ke Dokumenter


Fathurrozak | Weekend

Fathurrozak/MI
 Fathurrozak/MI
Produser Rayner Wijaya (kiri) dan sutradara Winner Wijaya menunjukkan storyboard yang dibuat Pak Greg.

DUA bersaudara Winner Wijaya dan Rayner Wijaya saat ini tengah berfokus dalam merampungkan dokumenter panjang Pak Greg dari Wai Apo. Pak Greg, yang punya nama asli Gregorius Soeharsojo Goenito merupakan seniman yang pernah menjadi tahanan politik dan diasingkan ke Pulau Buru pada periode 1965-1979.

Perkenalan keduanya dengan sosok Pak Greg bermula dari buku yang direkomendasikan oleh seorang teman aktivis. Setelah membaca buku tersebut, Winner dan Rayner memutuskan untuk menemui Pak Greg.

“Dia punya sense of humor yang menyenangkan. (Film) ini adalah cerita pertemanan kami anak muda usia 20-an dengan Pak Greg yang berusia 80-an. Dia punya cita-cita untuk bikin film dari 50 tahun lalu, tetapi keburu ditangkap. Kami senang ketemu dia. Kami bikin film untuk meneruskan cita-cita dia,” Winner yang bertindak sebagai sutradara, saat ditemui Media Indonesia di sela acara forum pitching film Akatara 2022 di The Westin Hotel, Jakarta Selatan, (29/3).

Film itu dikatakannya akan merupakan perpaduan antara dokumenter dan cerita fiksi yang naskah dan papan cerita (storyboard)-nya ditulis dan digambar Pak Greg. Selain itu, film ini juga bakal memasukkan rekaman di balik layar pembuatan film fiksinya. Aktor Kiki Narendra menjadi salah satu yang turut membintangi.

Sebelum mengikuti pitching di Akatara 2022, Pak Greg dari Wai Apo telah turut serta dalam Yamagata Documentary Dojo Jepang dan Docs by The Sea. Di dua forum pengembangan itu, Winner dan Rayner difasilitasi untuk mengembangkan arah dan bentuk film.

“Kami sangat terbantu saat proses di Yamagata karena itu dilakukan sebelum kami memproduksi bagian fiksi di film ini. Setelah dari situ kami langsung syuting. Dibantu arahan dari mentor dan peserta lain. Sementara di Docs by The Sea, kami ikut lab penyuntingan. Kami sudah punya tabungan tiga jam durasi film, dan itu mau dibikin dua jam kurang. Jadi kami dibantu roughcut service editing,” terang Winner.

“Kalau di Akatara 2022 kami mencari mitra pasca-produksi, dan pendanaan untuk distribusinya nanti. Sementara kami juga belum spesifik akan ke festival mana untuk world premiernya. Masih dipikirkan strategi yang oke,” tambah produser Rayner Wijaya.

Sehari setelah syuting selesai dilakukan, Pak Greg dilarikan ke rumah sakit. Di sela itu, dirinya telah menonton keseluruhan film dokumenternya, sebelum akhirnya  wafat. 

“Ketemu dia secara terus-menerus membuat dia bukan cuma narasumber kami, tetapi kami jadi berteman dekat dengan Pak Greg. Kami ajak jalan-jalan ke museum lihat lukisan teman-temannya, nonton bioskop. Perasaan menonton film ini adalah seperti cucu yang berkunjung ke rumah kakeknya,” tutup Winner. (M-1)
 

BERITA TERKAIT