15 March 2022, 23:11 WIB

Drive My Car: Kompleksitas nan Indah


Fathurrozak | Weekend

Drivemycar.film
 Drivemycar.film
Adegan film Drive My Car

Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima) adalah aktor dan sutradara teater yang cukup sukses. Dengan metode pentas multibahasa, ia cukup dihormati di komunitas seni peran panggung di internasional dan di negaranya, Jepang. Sementara istrinya, Oto Kafuku (Reika Kirishima) adalah penulis naskah untuk acara televisi.

Hubungan keduanya tampak mesra. Paling tidak begitulah yang tampak pada menit-menit awal film yang naskahnya ditulis Hamaguchi bersama Takamasa Oe ini. Benih kompleksitas mulai ditabur Hamaguchi ketika Yusuke tidak sengaja melihat Oto berselingkuh di kediaman mereka.

Bagaimana respons Yusuke? Ia berbalik pergi dengan perlahan dan menginap di hotel. Malamnya, saat Otto menelpon, Yusuka menanggapi dengan wajar. Seolah ia tidak melihat hal yang mengagetkan. Barangkali karena ia seorang pelakon tulen.

Dalam kompleksitas romansa Yusuke dan Oto tersebut, keduanya punya ritual unik. Setelah berhubungan intim, Oto biasanya akan menceritakan ide yang muncul di kepalanya saat ia di ambang orgasme, lalu Yusuke akan menceritakannya kembali keesokannya untuk Oto catat. Seperti di adegan pembuka, ketika Oto mencetuskan cerita tentang seorang gadis yang menyambangi rumah seorang pemuda yang ia sukai untuk mencuri tanda mata. 

Mereka juga punya ritual lain. Yusuke yang hobi menyetir, kemana-mana mengendarai Saab 900 Turbo merahnya sembari mendengarkan kaset rekaman suara Oto membacakan naskah teater sebagai cara Yusuke berlatih dialog.

Hubungan mereka yang telah sedemikian ajek tidak ingin diusik Yusuke. Ia berupaya menghindari pembicaraan yang dapat membuat keadaan berubah. Tidak mengetahui, apakah hal serupa juga diinginkan Oto. 

Menonton Drive My Car membutuhkan ketelatenan. Temponya perlahan dan cerita inti baru bergulir setelah film setengah jam berjalan. Jika Anda sudah membaca cerpen berjudul sama karya Haruki Murakami, yang memang mendasari skenario film ini, Anda akan mendapati bahwa karya Hamaguchi punya nuansa berbeda.

Bukan sekadar warna mobil, yang dalam versi cerpen ia berwarna kuning, melainkan juga suasana kebatinan karakter-karakternya. Lebih intens, lebih sendu. Durasi tiga jam memang memberi Hamaguchi fleksibilitas untuk menyingkap kompleksitas karakter-karakter Drive My Car, dan ia melakukannya dengan halus. 

Dua tahun pascakematian Oto, Yusuke berkendara ke Hiroshima untuk menggarap pementasan Uncle Vanya –naskah klasik karya Anton Chekov yang berkelindan dengan spirit film ini. Latar Hiroshima menjadi penanda babak baru di film ini.

Karena tuntutan kontrak kerjanya, Yusuke harus rela disopiri. Meski semula enggan, ia akhirnya memperkenankan Saab kesayangannya, suaka perlindungannya, dimasuki Misaki Watari (Toko Miura), perempuan muda sebatang kara. 

Yusuke juga berhadapan dengan karakter lain, aktor muda Takatsuki Koji (Masaki Okada) yang impulsif dan menaruh perhatian pada Yusuke lantaran Oto. 

Maka ruang konstan yang selama ini dimiliki Kafuku kemudian diintervensi oleh kehadiran dua karakter ini. Mobil yang selama ini hanya dikendarainya dan cuma Oto yang ada di sampingnya, atau kemudian lewat kehadiran suara diagetis rekaman kaset Oto, kini harus disusupi orang lain, Misaki dan Takatsuki. 

 

Teater dan Bahasa Tubuh Aktor

Dalam upaya mencerna kehidupannya selama kurun dua tahun belakang, Yusuke bertemu pada kompleksitas lain yang terbentuk dari kelompok teater barunya, dari para aktor yang berbeda bahasa. Di situ pula kemudian Hamaguchi menunjukkan bagaimana unsur nonverbal punya peran dalam menyampaikan spektrum emosi dan pertumbuhan masing-masing karakter.

Meminjam proses penciptaan pentas Uncle Vanya dengan para aktor multi bahasanya, Hamaguchi mengurai dunia yang lebih luas lagi selain dalam diri Yusuke. Misalnya, ia kemudian menengahkan karakter Lee Yoo-na (Park Yoo-rim) yang menggunakan bahasa isyarat Korea dalam pertunjukan. Park Yoo-rim bermain dengan apik dan mampu mengisi tutur visual dengan cara lain dan menjadi pemeran pendukung yang cukup baik lewat penerjemahan karakterisasinya. Artikulasi bahasa isyarat serta emosi yang tersampaikan berjalan efektif dalam mengungkap karakternya sebagai pelakon yang harus berjuang untuk kembali naik ke panggung.

Adegan saat latihan di luar ruang menjadi medium Hamaguchi untuk menuturkan bagaimana keterikatan emosi antarmanusia dijalin, lewat pemeranan yang ditunjukkan Lee Yoo-na dan Janice Chang (Sonia Yuan). Kendati ada perbedaan bahasa, Janice sebagai aktor dengan latar belakang mandarin di pentas itu, dan Lee Yoo-na dengan bahasa isyarat, tetapi keduanya mampu bersinergi dan menguarkan harmoni yang padu. Ini pula yang kemudian bisa dijadikan hint bagaimana kita dapat memahami lawan bicara kita, dan bahwa tanpa proses menerima dan membuka diri lebih dulu, sukar untuk melakukan hal itu. Begitu tampaknya kira-kira yang ingin Hamaguchi utarakan lewat fragmentasi panggung teater Uncle Vanya dengan segala proses latihannya bersama Yusuke dan para aktor.

Selanjutnya, sorotan kompleksitas bukan melulu berfokus pada interior Kafuku. Relasi antarkarakter juga turut berkembang.

Yusuke dan Takatsuki akhirnya menyeberangi dinding status sutradara-aktor ketika keduanya mencurahkan hati sebagai sesama laki-laki yang tertaut oleh Oto. Lewat sambungan cerita Oto yang disampaikan Takatsuki, Yusuke sedikit banyak mulai mengetahui apa yang di benak istrinya tersebut.

Sementara itu, hubungan Yusuke dengan Misaki yang semula sedatar ekspresi Misaki mulai berubah ketika ia mengekspresikan rasa terima kasihnya atas kecakapan Misaki menyetir. Pergantian posisi duduk Yusuke saat di mobil menjadi visualisasi perubahan jarak hubungan keduanya. 

Masing-masing punya giliran menyampaikan kepiluan hidup mereka sepanjang film yang meski mengetengahkan tokoh-tokoh dengan duka masa lalu, tapi tidak sekalipun menampilkan adegan kilas balik. Masing-masing punya kisah yang mereka hidupi, yang mesti mereka lanjutkan, dan Hamaguchi dibantu dengan tata sinematografi yang efektif dan kaya oleh Hidetoshi Shinomiya, dengan cakap menciptakan estetika kompleksitas tiap-tiap karakter di filmnya.

Tentu saja hal itu juga didukung oleh kemampuan Nishijima, aktor veteran yang menghidupan Yusuke. Hanya dengan perubahan mimik yang subtil, dan itupun sesekali, emosi Yusuke tersampaikan.

Saat ini, Drive My Car bisa disaksikan di platform Klikfilm. Film ini telah memenangkan skenario terbaik di Cannes Film Festival 2021, film internasional terbaik di Film Independent Spirits 2022, film non-berbahasa Inggris terbaik Golden Globes 2022 dan Critics Choice Award 2022, dan akan berlaga di empat nominasi Oscar 2022 untuk film terbaik, sutradara terbaik, naskah adaptasi terbaik, dan film internasional terbaik. (M-2)

BERITA TERKAIT