02 March 2022, 08:06 WIB

Lagi, Ratusan Kuburan Anak-anak yang Diduga Murid Sebuah Sekolah Asrama di Kanada Ditemukan


Adiyanto | Weekend

AFP
 AFP
File Fakta tentang kuburan anak-anak Kanada yang tidak bertanda yang ditemukan sepanjang 2021-2022 

Sebuah komunitas masyarakat adat di Kanada mengatakan pada Selasa (1/3) bahwa mereka telah mengidentifikasi area yang diduga menjadi tempat dikuburnya 169 anak di bekas lokasi sekolah asrama St Bernard, milik Gereja Katolik. Temuan itu, menambah jumlah penemuan mengerikan yang pertama kali mengguncang negara itu tahun lalu (lihat grafis).

Komunitas Kapawe'no, bangsa/suku pertama di Provinsi Alberta utara, memposting di situs webnya hasil survei enam hari, menggunakan radar penembus tanah, dari situs Misi Grouard, sekitar 370 kilometer barat laut Edmonton. Sekolah tersebut, juga dikenal sebagai Sekolah Misi St. Bernard, dibuka oleh Gereja Katolik pada 1894. Sekolah itu beroperasi hingga tahun 1961.

Institut Prairie dan Arkeologi Pribumi Universitas Alberta memimpin pencarian itu. Dalam sebuah laporan dikatakan temuan itu adalah awal dari perjalanan panjang untuk menemukan jawaban atas apa yang terjadi pada anak-anak yang tidak pernah pulang dari sekolah asrama di St. Bernard's Mission. "Masih kurangnya keadilan dan akuntabilitas atas apa yang terjadi. Ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menemukan jawaban itu," kata tim tersebut.

Sejumlah penyelidikan terhadap bekas sekolah asrama itu sedang berlangsung di seluruh negeri. Menurut pihak berwenang ada lebih dari 4.000 anak diyakini hilang.

Penemuan Kapawe'no First Nation menjadikan jumlah total kuburan tak bertanda yang ditemukan sejauh ini menjadi lebih dari 1.500. Secara total, sekitar 150.000 anak warga pribumi terdaftar dari akhir 1800-an hingga 1990-an di 139 sekolah asrama Katolik di seluruh Kanada.

Selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mereka terisolasi dari keluarga, bahasa, dan budaya mereka. Banyak yang dianiaya secara fisik dan seksual oleh kepala sekolah dan guru, dan ribuan diyakini telah meninggal karena penyakit, kekurangan gizi atau penelantaran. Sebuah komisi kebenaran dan rekonsiliasi menyimpulkan pada 2015 bahwa kebijakan pemerintah yang gagal sama dengan "genosida budaya." (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT