01 March 2022, 10:28 WIB

Black Lives Matter Art, Seni Merawat Ingatan dalam Melawan Rasisme


Adiyanto | Weekend

Natasha Moustache/Getty Images/AFP
 Natasha Moustache/Getty Images/AFP
Mural mendukung Gerakan Black Lives Matter di Okland, California, AS.

MENGENAKAN topi merah muda dan kalung Wonder Woman, Nadine Seiler mengangkut ratusan poster dan spanduk dalam mobilnya menuju perpustakaan Enoch Pratt di Baltimore, Maryland. Amerika Serikat. Di sana, serpihan bekas poster dan spanduk itu akan dipindai dan didigitalkan, sebuah proses teliti yang dia rutin lakukan setiap enam minggu.

Poster-poster dan spanduk tersebut merupakan suara masyarakat saat terjadi demonstrasi menentang rasisme yang dinamakan Black Lives Matter pada 2020 lalu. Ketika itu, para demonstran menempelkan poster-poster itu ke pagar di sekitar Gedung Putih. Gerakan itu kemudian merebak di sejumlah kota di AS. Aksi tersebut merupakan ekspresi kemarahan mereka atas pembunuhan George Floyd, seorang pria kulit hitam, oleh seorang polisi kulit putih di Minneapolis, Minnesota.

Tugu setinggi 10 kaki (3 meter) dengan cepat menjadi titik kumpul bagi gerakan Black Lives Matter di ibu kota AS. Seiler, aktivis berusia 37 tahun, bertindak sebagai kurator yang mengumpulkan sejumlah bekas poster dan spanduk tersebut. "Saya melihat benda-benda itu jatuh ke tanah atau orang-orang (yang anti gerakan tersebut) menyobeknya, jadi saya memutuskan bersama dengan orang lain untuk merapikan trotoar dan memasang kembali barang-barang itu pagar," kata Seiler kepada AFP.

Selama hampir satu tahun, dia secara sukarela memperbaiki tugu peringatan itu: merekatkan kembali poster, menempelkan kembali foto-foto korban kekerasan polisi, dan mencetak kembali slogan-slogan anti-Trump. Seiler juga secara teratur berjuang melawan para pendukung Trump dan anggota kelompok konservatif lainnya yang akan datang meruntuhkan karya seni para aktivis tersebut.

"Mereka datang ke pagar dan mereka menghancurkannya. Mereka menghancurkan hampir semuanya, kecuali mungkin 10 item," kata Seiler mengenang peristiwa 26 Oktober 2020 ketika para anti BLM mencoba merusak monumen. Bersama dengan beberapa sukarelawan lainnya, Seiler kemudian memutuskan untuk mengawasi tugu peringatan itu siang dan malam, berkemah di alun-alun terdekat yang oleh walikota Demokrat kota itu dinamai Black Lives Matter Plaza. "Orang-orang merasa terdorong untuk datang ke DC untuk menempatkan cerita mereka di pagar ini dan saya merasa terdorong untuk melindungi suara mereka," katanya.

"Jika kami tidak ada di sana, semuanya akan berantakan karena tidak dibangun untuk menjadi struktur permanen," kata Karen Irwin, 46, seorang aktivis dari New York yang juga secara sukarela melindungi tugu peringatan itu.

Di seluruh Amerika Serikat, inisiatif lain bermunculan untuk melestarikan potongan-potongan dari gerakan sosial bersejarah tersebut. Di Minneapolis, sepupu George Floyd, Paris Stevens, ikut mendirikan "George Floyd Global Memorial" pada Oktober 2020 untuk melindungi berbagai poster simpati dan karya seni yang ditempatkan di persimpangan tempat dia dibunuh. "Kami memiliki lebih dari 3.000 karya seni: papan reklame, surat, berbagai karya seni mural," kata Stevens kepada AFP. "Sangat penting untuk memastikan bahwa kami menceritakan kisah kami dengan cara yang kami inginkan," imbuhnya.

Setidaknya kini 600 item bersejarah itu telah didigitalkan oleh pemindai laser di Perpustakaan Enoch Pratt, yang bekerja sama dalam proyek tersebut dengan perpustakaan umum Washington.

Jodi Hoover, kepala sumber daya digital di Enoch Pratt mengatakan. "Untuk dapat menangkap perasaan, hal-hal yang dipikirkan orang pada saat ini selama gerakan sosial yang sangat besar, benar-benar menakjubkan. Rasanya seperti merekam sejarah."

Setelah proses digitalisasi selesai, mungkin pada musim gugur ini, Seiler dan Irwin berencana menyumbangkan koleksi mereka ke berbagai asosiasi, museum, atau pengusaha yang tertarik dengan artefak sejarah ini. "Penting untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa sejarah akan mengingat suara Anda," tegas Irwin.

"Resist (lawan !)," begitu ungkapan khas dari curahan frustrasi warga  atas lambatnya kemajuan negara, yang sesumbar paling demokratis itu, dalam mewujudkan kesetaraan ras. (AFP/M-4)

 

BERITA TERKAIT