27 February 2022, 17:36 WIB

Srihadi Soedarsono, Pelukis dan Pendidik Berpulang


Mediaindonesia.com | Weekend

Dok IKJ
 Dok IKJ
Srihadi Soedarsono

INDONESIA kehilangan tokoh seni rupa yang sudah berkiprah sejak awal berdirinya Republik ini, Prof Srihadi Soedarsono. Srihandi telah berpulang kepada Sang Pencipta, Sabtu (26/2) pukul 05.15 WIB di kediamannya di Bandung, Jawa Barat.

Pelukis kelahiran 4 Desember 1931 itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Karya-karya sketsanya di masa awal revolusi menjadi catatan sejarah secara visual bagaimana bangsa ini dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. 

Saat berusia 14 tahun pada 1945, Srihadi sudah menjadi wartawan pada Dinas Penerangan Divisi IV TNI, dengan menggambar peristiwa-peristiwa bersejarah. Seperti sketsa Perjanjian Renville di Kaliurang, peristiwa jatuhnya pesawat Dakota yang membawa obat-obatan untuk rakyat Indonesia di desa Ngoto, Yogyakarta pada 1947, peristiwa Rapat Umum Bung Tomo pada tahun yang sama dan beberapa sketsa perjuangan lainnya. 

Atas jasanya itu, Pemerintah Indonesia menganugerahkan penghargaan Satyalencana Kemerdekaan pada 1958, dan Anugerah Seni pada 1973. 

Selain itu beberapa penghargaan internasional diterima, antara lain dari Australian Goverment Cultural Award, The Netherlands Goverment Cultural Award, Seoul International Art Competition's Silver Award, The Japan Foundation Cultural Grant, Man of The Year dari The American Biographical Institute dan banyak lagi.

Selain sebagai pelukis, profesi pendidik  juga menjadi komitmen Srihadi yang  dijalaninya dengan semangat profesionalisme yang tinggi. Saat menjadi Ketua di Akademi Seni Rupa Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta (1974-1977), yang kemudian berubah menjadi Institut Kesenian Jakarta, Srihadi menjadi seorang pendidik yang berkomitmen untuk memajukan dunia seni rupa, khususnya seni lukis. 

Srihadi turut membuat kurikulum akademik di Seni Rupa LPKD pada 1975 dengan menempatkan landasan metode nonformal dan formal menjadi acuan yang dapat dijalankan bersama. Walau saat itu menimbulkan perdebatan, Srihadi tetap meyakini hal ini dapat dijalankan berdasarkan pengalamannya, sebagai seorang otodidak dan juga formal akademik.

Sampai di masa pensiun mengajarnya pun, ia masih terus memberikan pandangan positif bagi FSRD IKJ. Srihadi selalu bersedia memberikan waktu dan kesempatan untuk berdiskusi, memberikan pemahaman tentang dunia seni lukis dalam perspektif budaya dan kebangsaan yang disampaikan dengan cara seorang akademisi. 

Sekaligus memotivasi para pengajar melalui pendampingan berkelanjutan sehingga dia bisa melihat perkembangan Seni Rupa IKJ. Ia tidak pernah sungkan untuk mengkritik dan memberikan masukan yang menyangkut dunia pendidikan Seni. 

Sebaliknya FSRD IKJ dengan penuh apresiasi selalu mengundangnya memberikan masukan dan tetap melibatkan dalam kapasitasnya sebagai seniman terpandang dan guru besar untuk duduk sebagai penguji tamu dalam sidang tugas akhir mahasiswa di Jurusan Seni Murni. 

Kunjungan rutin tahunan yang dilakukan pengajar Program Studi Seni Murni IKJ dengan membawa mahasiswa ke studionya di Bandung untuk silaturahmi dan berdiskusi, merupakan bukti bahwa Srihadi sampai masa pensiunnya pun tetap berkomitmen sebagai seorang pendidik yang mau berbagi ilmu dan pengalamannya dalam memberi inspirasi dan motivasi mahasiswa yang terus belajar, jangan cepat menyerah, dan terus berkarya untuk mencapai hasil terbaik. 

Bagi dekan FSRD IKJ, Anindyo Widito, sosok Srihadi dapat menjadi contoh tauladan baik dalam menjalankan komitmennya sebagai seorang pelukis yang terus berkreasi, bereksplorasi dalam gagasan, konsep yang diwujudkan secara visual lewat goresan warna pada lukisan-lukisannya dan juga pengajar yang dapat diajak berdiskusi berdasarkan keilmuan akademiknya. 

Seniman dan pendidik, adalah dua profesi yang dijalani yang terus dijalankan Prof. Srihadi Soedarsono sampai akhir hayatnya.  Selamat jalan maestro, karya-karya mu akan terus hidup dan menjadi ilmu yang berharga untuk dipelajari. (Ant/OL-8)

BERITA TERKAIT