19 February 2022, 07:15 WIB

Mengenal Orang-Orang Singkawang


Pro/M-2 | Weekend

Dok. Yayasan Singkawang Luhur Abadi dan mataWaktu
 Dok. Yayasan Singkawang Luhur Abadi dan mataWaktu
Cover buku Memoar Orang-orang Singkawang

Indonesia kaya akan adat, budaya, dan suku yang seakan tak pernah habis untuk bisa diselisik lebih dalam. Masyarakat di setiap daerah memiliki sejarah panjang perjalanan hidup dengan ciri khas dan cerita masing-masing yang masih terus berjalan hingga saat ini.

Singkawang menjadi salah satu kota di Indonesia yang punya cerita panjang dalam upaya warganya untuk bertahan. Dengan keragaman etnik masyarakatnya, orang-orang Singkawang memiliki daya tarik yang tak terbantahkan.

Singkawang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Tepatnya terletak sejauh 145 kilometer di sebelah utara Kota Pontianak. Ia merupakan salah satu kota pecinan di Indonesia karena dominan penduduknya ialah keturunan Tionghoa. Selebihnya ialah orang Melayu Singkawang, Dayak, Jawa, Madura, dan pendatang lainnya.

Hal itu sepertinya yang menjadi alasan dibuatnya buku berjudul Memoar Orang-orang Singkawang. Buku setebal 448 halaman ini disusun secara kolektif oleh Bina Bektiati, John Suryaatmadja, dan Sjaiful Boen.

Bina Bektiati berperan sebagai penulis teks. Adapun John Suryaatmadja dan Sjaiful Boen menyumbang karya foto mereka dalam buku tersebut.

Secara umum, buku Memoar Orang-orang Singkawang berisikan foto-foto yang mewakilkan perjalanan hidup orang Singkawang dalam beberapa dekade terakhir. Setiap foto dan gambar dilengkapi dengan teks yang menjabarkan kisah di balik setiap konten visual yang ditampilkan.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Singkawang Luhur Abadi dan mataWaktu ini menangkap perjalanan orang Singkawang yang tak jarang harus menjadi korban diskriminasi. Diskriminasi yang terjadi akibat politik identitas karena darah Tionghoa yang mereka miliki.

Dalam soft launching dan bedah buku Memoar Orang-orang Singkawang, Jumat (4/2), sang penulis Bina Bektiati mengatakan buku ini merupakan sebuah karya yang dikumpulkan dengan metode jurnalistik. Ia melakukan banyak kunjungan, wawancara, hingga penyusunan naskah untuk dituangkan ke setiap halamannya.

“Ini memang adalah cerita personal yang dirangkaikan tanpa adanya skenario besar. Kami hanya menjalaninya seperti kerja wartawan mendatangi narasumber, datang ke pelosok-pelosok, menyusun cerita dari sudut pandang yang sangat personal,” ujar Bina.

Tidak hanya ke Singkawang, Bina juga melakukan kunjungan ke beberapa kota di Tiongkok dan Taiwan. Kota-kota yang merupakan tempat berkumpulnya orang Tionghoa asal Singkawang yang memutuskan hijrah di masa awal kemerdekaan Indonesia.

Bina memuat catatan tentang anak-anak muda Tiongkok yang kembali pulang dari Singkawang. Rata-rata mereka adalah anak-anak orang kaya yang kala itu sudah dilengkapi dengan alat elektronik termutakhir. Namun, di 'Negeri Tirai Bambu', mereka justru kemudian mengalami kesulitan karena harus bekerja dengan tidak layak.

“Kelihatan sekali bahwa pemerintah Cina membuat klaster untuk menjadi semacam kampung Cina Indonesia yang ada di sana. Menariknya sikap mereka masih sangat lekat dengan nuansa perkampungan di Nusantara,” ujarnya.

Salah satu contohnya ialah kebiasaan dalam bertetangga yang masih sangat kental khas gaya bertetangga di Indonesia. Kebiasaan untuk saling berbagi dan gotong royong yang tak banyak ditemui di Tiongkok, tetapi sering kali dilakukan masyarakat perkampungan Nusantara hingga saat ini.

Cerita atau teks dalam buku dihadirkan dalam konsep trilingual atau dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Dengan begitu, buku akan dapat dinikmati oleh lebih banyak kalangan, termasuk masyarakat Singkawang yang tak paham bahasa Indonesia dengan baik.

Kurator buku Memoar Orang-orang Singkawang, Oscar Motuloh, mengemukakan kehadiran buku ini tak hanya sebagai bagian dari pelengkap narasi sejarah. Namun, lebih dalam sebagai persembahan bagi para penyintas berbagai diskriminasi yang dialami akibat politik dan tekanan penguasa.

“Ini sebagai penghormatan bagi mereka yang telah gugur akibat angkara politik dan ambisi kekuasaan. Kisah mereka sebagai monumen ingatan bagi masa depan peradaban kemanusiaan kita,” ujar Oscar dalam kesempatan serupa.

Sementara itu, bagi penggemar fotografi, membuka buku ini akan membuat mata menjadi sangat dimanjakan. Di samping foto-foto ciamik karya John Suryaatmadja dan Sjaiful Boen, di dalam buku ini juga dihadirkan foto karya tokoh-tokoh lain yang tak kalah penting dan mengesankan. Mereka adalah Enrico Soekarno, Jay Subiakto, Julian Sihombing, Sigi Wimala, Yori Antar, Oscar Motuloh, Octa Christi, Andreas Loka, Victor Fidelis, dan Khaw Technography.

Melalui setiap foto dan narasi dalam buku, pembaca akan dapat menyelami lebih dalam perjalanan panjang sejarah orang Singkawang yang kala itu dalam kegamangan. Kegamangan atas glorifikasi dari pemerintah Tiongkok agar mereka pulang ke negeri nenek moyangnya. Ajakan untuk pulang yang secara bersamaan juga dibumbui dengan supresi, aturan, dan hukuman. (Pro/M-2)

 

Judul Memoar Orang-orang Singkawang

Penulis: Bina Bektiati (teks), John Suryaatmadja & Sjaiful Boen (foto)

Penerbit: Yayasan Singkawang Luhur Abadi dan mataWaktu

ISBN: 978-623-99280-0-1

Cetakan pertama 15 Februari 2022

 

 

BERITA TERKAIT