24 January 2022, 08:51 WIB

Melacak Jejak Pembuatan Kapal Pinisi Melalui Tradisi Lisan


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/Galih Agus Saputra
 MI/Galih Agus Saputra
Pembuatan kapal pinisi di Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan 2019.

Usai tertunda karena adanya pandemi covid-19, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) kembali mengadakan diskusi terkait tradisi lisan. Diskusi kali ini digelar secara daring maupun luring dengan peserta terbatas, di Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta, Jumat (21/1).

Dalam diskusi kali ini, ATL mencoba membicarakan salah satu kekayaan budaya Tanah Air yakni Kapal Pinisi. Dua peneliti University of Naples L'Orientale, Prancis Antonia Soriente yang memiliki perhatian pada bahasa dan sastra Indonesia, dan Chiara Zaggaro yang merupakan arkeolog maritim turut diundang sebagai pembicara, untuk mempresentasikan hasil penelitian multidisiplinnya selama tiga tahun terakhir tentang kapal pinisi.

Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan ialah salah satu wilayah yang diteliti Antionia dan Chiara. Mereka merekam seluruh proses pembuatan kapal dan mencoba mengetahui bagaimana kapal direpresentasikan dalam ingatan kolektif. Pada 2019, sebuah kapal bernama Padewakang juga telah selesai dibangun, dan kemudian digunakan dalam sebuah ekspedisi dari perairan Sulawesi menuju Australia Utara.

"Ini dibuat bersama sebuah yayasan dari Australia yang sangat ingin sekali menunjukan bagaimana orang Makassar bisa bolak-balik ke Australia mencari tripang. Sampai saat ini pengetahuan kita (soal Kapal Pinisi) adalah melalui eskavasi, melalui model yang sudah dikumpulkan, atau melalui pembuatan kapal saat ini. Jadi kami mencoba menggabungkan tiga hal ini dan mencoba mereproduksikan secara nyata," tutur Antonia.

Dari penelitiannya, Antonia juga menjelaskan bahwa tradisi lisan memiliki peran yang cukup vital dalam proses pembuatan sebuah kapal Pinisi. Tradisi lisan, salah satunya, dapat menjelma menjadi suatu rancangan pembuatan (construction plan) sebuah kapal dalam ingatan seseorang.

"Ini kami ketahui secara tanya-tanya sistematis. Informasi tentang ini di dalam buku sebenarnya sudah ada, tapi kami lakukan ini secara sistematis dari awal dan dari tiap teknis seperti pengukuran dan segala hal yang sangat teknis, kami rekam menggunakan kata-kata si pembuat kapal dan kata-kata ini menjadi sebuah wacana tertinggi yang ke depan mungkin dapat menurunkan pengetahuan ini kepada generasi ke depan," imbuhnya.

Pada masa yang akan datang, Antonia berharap dapat merekam berbagai upacara adat yang digelar sepanjang proses pembuatan kapal pinisi. Mulai dari ritual penggabungan beberapa bagian kapal hingga kapal itu sendiri diluncurkan ke laut.

Selain itu, hal yang tidak kalah penting untuk direkam dalam proses pembuatan kapal pinisi adalah bagaimana kapal itu sendiri dipandang sebagai sosok perempuan. Hal demikian, kata Antonia, tampak dari bagaimana masyarakat merepresentasikannya menggunakan alu dan lesung.

"Ini adalah contoh dari beberapa upacara yang akan dilakukan. Selain upacara launching kapal ke laut. Semua dokumentasi berasal dari Padewakang saat itu, tapi sebuah kapal juga akan mulai dibuat mungkin di bulan Maret. Jadi kami akan sangat membutuhkan (perekaman -red) ini," tuturnya.

Pendiri ATL, Pudentia menyambut gembira penelitian ini. Terlebih ATL juga turut mendorong pendaftaran kapal pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda, hingga kemudian benar-benar diakui dalam ketegori tersebut oleh organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudyaan PBB, UNESCO pada 2017 lalu.

Kala itu, lanjut Pudentia, ATL mendorong kapal pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda dalam tiga domain. Ketiga domain tersebut meliputi tradisi lisan, praktik sosial (social practices), dan kerajinan (craftsmanship).

"Jadi kami sangat senang saat ini ada dua peneliti yang secara serius melakukan penelitian lanjutan mengenai penelitian yang juga sudah kami lakukan untuk usulan ke UNESCO 2017 lalu," tuturnya, saat memberi sambutan.

Menurut Pudentia, yang tidak kalah penting untuk dicatat saat ini adalah ATL yang tahun lalu kembali mendapat akreditasi dari UNESCO. Menurutnya, ATL pertama kali mendapat akreditasi tersebut pada 2010, yang mana kala itu juga menjadi NGO pertama dari Indonesia yang diakreditasi UNESCO. Akreditasi pada 2021, ialah akreditasi ketiga yang kini diberikan UNESCO kepada ATL. (M-4)

BERITA TERKAIT