22 December 2021, 12:08 WIB

Radioactive, Film Biopik yang Sarat Emansipasi


Galih Agus Saputra | Weekend

Dok. Film Radioactive
 Dok. Film Radioactive
Rosamund Pike sebagai Marie Curie dalam Radioactive. 

Sempat tertunda peluncurannya pada 2020 lalu, film biopik tentang perempuan pertama peraih dua Nobel di bidang kimia dan fisika, Marie Salomea Skłodowska Curie, pekan ini mulai tayang di bioskop tanah air.

Berjudul Radioactive, film yang disutradarai perempuan dari keluarga Marxist, Marjane Satrapi, itu tidak hanya mengisahkan hidup Marie yang sangat emansipatif, tetapi juga bagaimana dedikasinya yang besar pada dunia ilmu pengetahuan.

Keputusan Satrapi -yang antara lain dikenal lewat novel grafiknya, Persepolis- mengangkat kisah hidup Marie Curie tampaknya juga didukung alasan yang sangat kuat. Dalam suatu wawancara bersama sebuah media asal Swiss, perempuan yang pernah melewati masa Revolusi Iran 1979 itu menilai bahwa Marie adalah sosok feminis yang hidup.

"Saya suka Simone de Beauvoir dan saya membaca karya klasiknya 'The Second Sex'. Tetapi, Marie Curie lebih dekat dengan saya. Feminismenya ditunjukkan lewat hidup, bukan dengan kata-kata atau teori-teori besar. Dia telah membuka banyak jalan bagi perempuan. Dia bukan hanya profesor pertama di Sorbonne (universitas terkenal di Prancis), tetapi juga perempuan pertama yang menerima Nobel dua kali meskipun menjadi seorang perempuan tidak pernah benar-benar menjadi hal yang utama baginya. Dia hanya tertarik pada sains. Di bidang ini dia adalah yang terbaik, lebih baik dari semua lelaki di sekitarnya," terang Satrapi, seperti dilansir dari SwissLife.

Dalam Radioactive yang pertama kali tayang di Toronto International Film Festival 2019,  Satrapi memercayakan sosok Marie pada perempuan yang namanya tak asing lagi di kancah festival film internasional, Rosamund Pike.

Aktor asal Britania Raya itu mendalami sosok Marie dengan sangat baik. Perangainya sebagai ilmuwan begitu terlihat, dan barangkali juga mengingatkan penikmat film tanah air akan sosok Reza Rahadian ketika memerankan H.O.S. Tjokroaminoto atau B.J. Habibie, yang dikenal sebagai dua tokoh dengan kegigihan tekadnya.

Tak hanya pemilihan aktornya yang baik, cara Satrapi menyusun alur cerita pun tidak kalah apik. Kisah berawal dari Marie yang jatuh pingsan di laboratorium. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ia lantas mengingat perjalanan sepanjang hidup dan bagaimana sepak terjangnya di bidang kimia dan fisika.

Di sepanjang perjalanan, Satrapi juga menyuguhkan beberapa periode tertentu. Mulai dari masa kecil Marie, bagaimana ia sering gagal mendapat pendanaan akademis karena jenis kelamin, tekadnya mendirikan laboratorium secara mandiri, hingga bagaimana perjumpaannya dengan Pierre Curie.

Tak hanya itu, perjalanan Marie dalam menemukan polonium, radium, dan radioaktif yang menjadi sangat revolusioner di bidang kimia dan fisika pun dibalut secara apik dengan berbagai pernak-pernik yang populer di awal periode 1900-an.

Dalam film ini, Stratapi mencoba mengajak penikmat film menyusuri kisah hidup Marie, layaknya sesorang menyusun puzzle hingga kemudian saling terkait satu sama lain. Namun, terlepas dari semua itu, perjalanan hidup dan temuan Marie sendiri pada dasarnya memang sangat mengesankan dan berkelindan dengan berbagai peristiwa besar yang pernah terjadi di dunia ini.

Sebut saja radioterapi pertama di sebuah rumah sakit di Cleveland pada 1956, peristiwa Hiroshima dan Nagasaki, uji bom nuklir di Nevada pada 1961, dan bencana Chernobyl pada 1986 yang mana semuanya berangkat dari uraian radioaktif yang dikembangkan Marie.

Dalam Radioactive, Satrapi tidak hanya membingkai kehidupan akademis seorang Marie. Ia juga memperlihatkan kehidupan personal. Ada beberapa bagian ketika Marie harus bersitegang dengan urusan domestik bersama Pierre, bahkan ada kalanya ia menempati posisi sebagai imigran asal Polandia yang harus menghadapi terpaan media yang didengungkan oleh kaum nasionalis.

Menariknya, untuk urusan domestik, Strapi juga menawarkan metafor yang cukup menarik dengan sebuah sepeda. Dalam upacara pernikahan, tampak Marie dan Pierre tidak beranjak dari gereja menggunakan satu sepeda akan tetapi dua. Dua sepeda itu mereka kendarai secara beriringan di jalan yang sama, dan agaknya telah menjadi simbolisasi kerja sama dua ilmuwan tersebut sepanjang hayat.

Kesuksesan Stratapi dalam menyajikan kisah hidup Marie kali ini juga boleh dibilang tak luput dari peran Evgueni Galperine dan Sacha Galperine. Dua komposer kelahiran Moskow itu telah memberikan interpretasi nada dengan sangat baik, hingga pada akhirnya membuat alur di sepanjang cerita terasa lebih hidup atau sinematik.

Secara keseluruhan, ada 12 lagu yang disuguhkan dua komposer tersebut bersama spesialis skor film asal Los Angeles, California, Amerika Serikat, Milan Records. Beberapa diantaranya berjudul Etincelle, Cure and Kill, Science, Les Adieux, The Lights of Radium, Marie, dan The Nicest Day.

Beberapa lagu tersebut juga terdengar ketika layar beralih ke CGI yang berusaha menggambarkan pandangan Marie tentang radioaktif.

Sayang, beberapa laman ulasan film justru memberi peringkat rendah pada kisah sebaik dan seberpengaruh ini, misalnya, IMDB dengan nilai 6.3/10, Rotten Tomatoes dengan 63%, atau Metacritics dengan 56%. (M-2) 

BERITA TERKAIT