16 December 2021, 06:00 WIB

Jalan Panjang Sinema Indonesia Menuju Pentas Dunia


Fathurozak | Weekend

MI/Fathurozak
 MI/Fathurozak
Diskusi 'Sinema Indonesia Sekarang, Freedom Abis, Bajiangan!' di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, (14/12/2021)

Tahun 2021 boleh dibilang menjadi tahun yang menggembirakan bagi sinema Indonesia. Pasalnya, dua film nasional berjaya di ajang festival film internasional yang cukup bergengsi. Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas garapan Edwin menang Golden Leopard di Locarno. Sementara film Yuni garapan Kamila Andini, menang di program Platform Toronto.

Hal itu pun lalu memunculkan perbincangan gelombang baru sinema Indonesia. Melihat dari kemenangan film Indonesia secara berbarengan di berbagai ajang festival film internasional. Meski sebenarnya itu juga patut ditanyakan lebih lanjut. Apakah benar demikian?

Sutradara Edwin sendiri menjawab kemenangan dua film Indonesia di ajang festival internasional adalah suatu ‘anomali.’ Meski itu adalah hal yang patut dibanggakan, hal tersebut belum bisa dijadikan sebagai parameter Indonesian New Wave Cinema, yang mampu mempengaruhi secara luas peta sinema dunia.

“Filmmaker muncul hampir berbarengan dengan mempengaruhi sinema dunia, belum sampai sana. Pencapaiannya masih perorangan. Masih dianggap eksotis. Enggak sampai jadi bagian dalam sejarah film dunia. Masih panjang perjalanan film kita,” kata Edwin dalam diskusi Sinema Indonesia Sekarang, Freedom Abis, Bajiangan! di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, (14/12).

Sutradara Kamila Andini yang juga hadir dalam kesempatan tersebut juga mengatakan masuknya film-film Indonesia dalam sirkuit internasional juga berkat pintu yang sudah dibuka oleh para sineas maupun programmer yang lebih dulu mengetuk dengan kehadiran film-film Indonesia di internasional.

“Masih panjang banget perjalanannya. Tapi yang pasti bergerak terus,” kata Dini.

Agak susah bagi Edwin untuk membayangkan, hanya karena kemenangan dua film, Indonesia punya sesuatu di sinema dunia yang perlu diperhitungkan. “Masih dianggap, ya, gitu, okelah muncul.”

“Tapi belum tentu dibahas. Dua film ini saja, misal dibahas mengenai koneksinya (Seperti Dendam dan Yuni). Padahal Locarno dan Toronto berdekatan. Apakah ada sudut pandang yang membahas, itu salah satu yang bisa kita cek juga. Kalau mau ngomongin signifikansi film Indonesia. Atau memang perlu ada memunculkan persoalan-persoalan film Indonesia ini ke dunia, ada tawaran dari kitanya juga.”

Produser Fourcolours Films Ifa Isfansyah pun sepakat dengan Edwin. Bahwa dirinya belum melihat ada yang signifikan dari sinema Indonesia menjadi bagian dari sinema dunia. Kemenangan dua film tersebut pun, tidak bisa dijadikan sebagai parameter.

“Masih harus dilihat impaknya terhadap perkembangan sinema dunia itu seperti apa? Kemudian sekarang sinema Asia Tenggara mulai dilirik, tentu saja. Bagaimana pun kalau ngomongin Asia, di titik ini sinema Asia yang kuat masih tetap powerfull atau bold. Misalnya kita punya Drive My Car (Jepang), A Hero (Iran). Itu yang kita maksud. Seperti Iran misalnya ya bukan sekali ini saja. Apakah Indonesia bisa? Ya nanti itu akan terjadi,” kata Ifa dalam kesempatan terpisah, Selasa, (14/12).

Menurut Ifa, ketika berbicara tentang sinema, Indonesia dengan penduduk besar dan kulturnya yang kaya, perbandingannya bisa pada Tiongkok ataupun India, dengan karakteristik sama-sama sebagai negara besar dan penduduk besar, punya identitas sinema yang kuat.

“Itu penting untuk identitas negara kita. Karena negara kita negara yang besar, agak aneh kalau hanya dianggap market.”

Untuk mendorong ke titik ‘Indonesian new wave cinema,’ bagi Ifa bukan saja cuma sineasnya yang bekerja. Menurutnya ada elemen lain; kritikus, penonton, dan pemerintah.

“Di Indonesia ini kan film bekerja sendiri. Kalau pun itu dibaca oleh internasional karena filmnya bagus, itu karena filmnya bagus memang, bukan karena film Indonesia. Harusnya dari Indonesia sendiri ada entitas yang bantu untuk mendorong itu, bahwa ini sinema yang kuat. Kalau tidak begitu, enggak ada yang bela film Indonesia.”

Menurut Ifa urgensinya adalah identitas negara. Sehingga ada alasan untuk membela film Indonesia. Kalau cuma filmnya sendiri yang bekerja, itu akan cukup repot. Perlu ada ekosistem yang juga turut mendukungnya sehingga sinema Indonesia di peta sinema dunia bukan sekadar mampir.

“Kalau lihat Iran, Jepang, Tiongkok, hampir semua ada kritik film yang bagus, ada sales yang bagus untuk push dan bela secara nationallity. Kami saja sekarang enggak bisa cuma rilis film doang. Harus ada promo, dibantu untuk pembacaannya, bikin isunya. Kalau dilepas sendirian, enggak ada yang mau nonton. Itu saja di Indonesia sendiri seperti itu. Apa lagi di luar.” (M-4)

BERITA TERKAIT