13 December 2021, 17:21 WIB

House of Gucci, Kisah Intrik Dinasti Ultra Kaya yang Terkesan Datar


Fathurozak | Weekend

 MGM Pictures.
  MGM Pictures.
Adegan film House of Gucci

Dalam menggarap film panjang terbarunya House of Gucci, Ridley Scott tidak menunjukkan sesuatu yang menonjol dari kisah tentang keluarga dinasti fesyen Gucci yang diangkat dari buku karya Sara Gay Forden. Intrik yang tersaji di keluarga ultra kaya tersebut teramat bersandar pada formula film naratif yang terkesan kering.

Film mengikuti perjalanan Patrizia Reggiani (diperankan Lady Gaga) dari mula pertemuannya dengan anak emas keluarga Gucci, Maurizio (diperankan Adam Driver). Hingga bagaimana Patrizia mendorong Maurizio untuk punya ambisi dan peran yang sentral dalam bisnis fesyen keluarganya, ke kisah gelap pembunuhan berencana yang membuat Patrizia dihukum 29 tahun penjara.

Beberapa intrik penceritaan di keluarga ultra kaya memang kerap menjadi pemilihan para sutradara menggarap visi kreatif mereka. Salah satu yang terdekat barangkali bisa merujuk pada serial HBO Succession (Jesse Armstrong) yang mengikuti intrik dinasti taipan media Logan Roy (Brian Cox) bersama para anaknya. Setipe dengan House of Gucci, Succession punya penyutradaraan dan penceritaan yang lebih punya nyawa untuk menghidupi intrik ‘sinetron’ Hollywood bila dibanding House of Gucci. Dengan kematangan karakter dan kedalaman alurnya.

Sementara, Ridley Scott tampak terpaku pada formula naratif konvensional dengan penerjemahan yang tidak terlihat extravaganza di film barunya. Pemampatan lini masa yang cukup terasa membuat film ini tampak punya beban untuk menyampaikan semuanya dan menjadi ke mana-mana. Sehingga eksplorasi pada bentuk atau gaya tuturnya juga tidak begitu efektif.

Barangkali untuk menyelamatkan House of Gucci, butuh Lady Gaga yang secara apik menghidupi penceritaan. Digambarkan sebagai perempuan gold digger yang mengejar laki-laki di luar liganya, Gaga dengan tajam menampilkan sosok Patrizia menjadi hidup sebagai karakter dalam film. Diikuti duet Jared Leto (Paolo) si kikuk yang punya ambisi untuk bikin lini fesyen sendiri karena dianggap tidak berbakat oleh para keluarganya dan Al Pacino (Aldo) dengan aura kebijaksanaannya, menjadi fragmen komedi yang bisa mencairkan nuansa ‘serius’ dalam film.

Leto tampil dengan rupa yang cukup signifikan berbeda dari personanya di luar karakter. Menggunakan tata rias dan tata rambut yang menampilkan sosok kedunguan Paolo dan karakterisasinya yang karikatural menjadi kompatriot Gaga untuk turut memberi kesan yang tertinggal di House of Gucci.

Selain dua karakter tersebut, yang juga cukup menyelamatkan House of Gucci adalah desain produksi yang ditangani Arthur Max dengan detail kecil dan elemen mayor yang mendukung glamoritas dunia di sekitar keluarga Gucci. Membuat kita mengalami bagaimana dunia keluarga ultra kaya yang terbangun dengan villa-villa mewah, dan properti yang mengisinya.

Meski demikian, jika berpijak pada film dengan gagasan dunia fesyen sebagai salah satu irisannya, film  ini lebih cukup menarik bila dibandingkan misalnya dengan dunia Devils Wear Prada, atau yang terbaru reboot Cruella dari Disney. Salah satunya itu didukung oleh desain produksi yang dibangun oleh Arthur Max. Meski, secara penceritaan naratif dan strukturnya, belum cukup bisa disandingkan dengan Phantom Thread-nya Paul Thomas Anderson yang secara latarnya juga berkutat pada dunia rancang mode. (M-4)

BERITA TERKAIT