06 December 2021, 06:51 WIB

Waspadai Dampak Debu Vulkanik bagi Kesehatan


Putri Rosmalia | Weekend

AFP/JUNI KRISWANTO
 AFP/JUNI KRISWANTO
Pemandangan suatu area yang tertutup debu vulkanik di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12)

SABTU (4/12) lalu, Indonesia baru saja kembali dilanda bencana alam. Gunung Semeru, yang terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi besar. Akibatnya ribuan warga dari beberapa desa terpaksa mengungsi.

Seperti diketahui, dalam setiap aktivitas vulkanik salah satu dampak yang selalu muncul ialah kemunculan abu atau hujan abu vulkanik. Abu vulkanik dapat terus turun hingga beberapa waktu setelah erupsi utama terjadi.

Dilansir dari lama resmi The Science Education Resource Center (SERC), Carleton College, AS, serc.carleton.edu, Minggu, (5/12), abu vulkanik merupakan gabungan dari beberapa partikel dan gas yang dapat berdampak bagi tubuh manusia. Abu vulkanik di antaranya mengandung karbon dioksida, sulfur dioxide, hydrochloric acid, dan hydroflouric acid.

Masing-masing zat tersebut memiliki dampak yang berbeda bagi tubuh yang terpapar. Terutama ketika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru.

Dampak kesehatan yang dapat dirasakan ketika tubuh terpapar abu vulkanik bervariasi. Tergantung para tingkat keparahan paparan dan daya tahan tubuh setiap orang. Namun, umumnya dampak paling banyak muncul pada pernapasan, kulit, dan gangguan indera pengelihatan.

Ketika terhirup, abu vulkanik dapat menyebabkan beberapa gejala seperti hidung tersumbat, batuk, sesak napas, dan bronchitis. Gejala-gejala tersebut umumnya akan muncul dalam jarak waktu yang pendek atau langsung dirasakan begitu abu terhirup.

Dalam jangka panjang, terhirupnya abu vulkanik dalam juamlah banyak dapat menyebabkan penyakit silicosis. Silicosis adalah penyakit kerusakan pada paru-paru berupa  munculnya jaringan parut di paru. Parut muncul akibat komplikasi endapan zat-zat dari abu vulkanik. Dibutuhkan penanganan segera dan serius untuk mencegah fatalitas akibat silicosis.

Pada kulit, dampak dari abu vulkanik umumnya berupa iritasi. Khususnya pada pemilik kulit sensitif dan anak-anak. Luka bakar juga mungkin muncul ketika paparan terjadi ketika abu masih bersuhu tinggi.

Sementara para mata, selayaknya paparan debu lainnya, abu vulkanik juga pasti akan menimbulkan iritasi dan rasa tidak nyaman pada mata. Mata berair dan perih menjadi gejala paling umum dan ringan. Paparan yang lebih intens dapat menyebabkan lecet kornea mata hingga peradangan atau konjungtivitis pada mata.

Untuk menghindari dampak-dampak buruk dari abu vulkanik pada tubuh, hal utama yang harus dilakukan ialah meminimalkan paparan. Penggunaan pakaian hingga perangkat pengaman tubuh sangat penting dilakukan ketika sedang melakukan evakuasi atau mendatangi wilayah yang terpapar dampak erupsi gunung berapi.(M-4)

BERITA TERKAIT