14 November 2021, 17:35 WIB

Sapuan Wiwik Oratmangun 


Iwan Jaconiah  | Weekend

Dok Wiwik Oratmangun
 Dok Wiwik Oratmangun
   

PENGELUPASAN musim demi musim di Negeri Tiongkok telah menjadi permenungan mendalam baginya. Mulai dari daun-daun rontok di musim gugur sampai salju luruh perlahan di awal musim dingin. Semua dimaknainya penuh kelembutan di atas kanvas. 

Adalah bagian tak terpisahkan dalam proses kreativitas pelukis ‘diplomat’ Sih Elsiwi Handayani Oratmangun, 64. Perempuan ini lebih dikenal dengan nama Wiwik Oratmangun. Ia terus menunjukkan keseriusannya dalam ranah seni lukis. 

Wiwik mengusung unsur keindahan alam sebagai objek lukisan-lukisannya. Mengabadikan empat musim secara berbeda, jeli, dan peka. Ia menuangkan apa yang dirasakan dan dilihat dengan sapuan jemari-jemari kelembutannya. Ibu tiga anak itu menjadi sosok bersahaja. 

Melukis bagi Wiwik, semacam sebuah panggilan jiwa yang menyenangkan. Ia tekuni secara profesional. Salah satu ajang akan dibuktikannya ialah helatan Solo Exhibition: Along The Way, Colorful Life on Canvas di CNTY Salon, Beijing, Tiongkok, pada Selasa (16/11) sampai Kamis (16/12) mendatang. 

“Saya menghadirkan tema-tema keindahan alam di setiap musim. Ada suasana musim berbeda di Tiongkok, Rusia, Belanda, Swedia, dan Indonesia. Pengaruh kota dan desa memperkuat setiap karya di perjalanan ini,” ujar Wiwik dalam perbincangan via telepon bersama saya dari Beijing, Sabtu (13/11) malam. 

Wiwik adalah istri dari Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun. Bagi Wiwik, ke manapun sang suami bertugas demi Republik, ia akan setia mendampingi setulus burung merpati. 

Mendukung karir sang suami sebagai seorang diplomat, wajib bagi Wiwik. Ia senantiasa memberikan dorongan lewat cintanya. Namun, di sela-sela karut-marut dunia diplomatik, Wiwik memiliki dunianya tersendiri. 

Pada pameran tunggal kali ini, tim penyelenggara CNTY Salon melakukan kurasi. Ada sejumlah 32 karya Wiwik yang dipilih. Semua akan dipamerkan kepada publik setempat. Hampir sebagian besar karya dibuat saat mendampingi sang suaminya bertugas dari satu negeri ke negeri lainnya. 

CNTY sendiri adalah perusahaan publik di pasar A-share di Tiongkok. Bisnisnya sangat terintegrasi dengan modal. CNTY menerapkan sistem manajemen kinerja dan sistem kontrol kualitas untuk memastikan operasi proyek stabil dan efektif. 

Berpameran di lokasi mewah tersebut juga menjadi strategi jitu bagi Wiwik. Terutama, untuk menggaet kolektor ataupun penikmat lukisan secara lebih global. Itu langkah dan terobosan penting guna melebarkan sayap Wiwik di jalur seni rupa secara profesional. 

Pameran tunggal kedua 

Sejumlah 32 karya Wiwik bertemakan alam; pemandangan landscape, fauna, dan dekoratif. Setiap karya ia buat dari 2013 hingga 2021. Dari semua karya, terdapat karya-karya terbaru Wiwik penuh decak kagum. 

Sebut saja, The Wonder of China (akrilik di atas kanvas, 100x100 cm, 2021), A Day in The Life of Pandas, (akrilik di atas kanvas, 80x100 cm, 2021), dan Autumn Is in The Air (akrilik di atas kanvas, 50x60 cm, 2021). 

Terlepas dari pemandangan alam dan budaya di ‘Negeri Tirai Bambu’ itu, sesungguhnya Wiwik juga tidak bisa terlepas dari pengaruh gaya dan tradisi lukisan bangsa Slavic. Itu ketika ia ikut mendampingi sang suami bertugas di Rusia pada 2012-2016. 

Dua karya terbaik Wiwik yang dibuat di Moskwa (lebih sering ditulis: Moscow, Moskow) juga ikut dipamerkan. Keduanya ialah Golden Summer (akrilik di atas kanvas 70x100 cm, 2013) dan Friendship (70x100 cm, 2014). Begitu pula serial saat ia mengunjungi Belanda lewat karya berjudul Finding Peace in Kinderdijk (70x100 cm). 

Sementara, untuk menjaga akar budaya, ia tetap menghadirkan unsur keindonesiaan di pameran tersebut. Tengok saja, karya berjudul Tujuan Rumah/Destined For Home (akrilik di atas kanvas, 120x150 cm, 2017) dan Dieng Mountain in The Distance (akrilik di atas kanvas, 90x120 cm, 2021). Unsur kerinduan akan kampung halaman begitu kental dan kuat. 

Mencermati setiap karya Wiwik, saya melihat ada pengaruh corak Rusia, misalnya, cukup terasa sekali. Tanpa disadari, hal tersebut telah menghiasi perjalanannya. Apalagi, Wiwik dulunya sering ‘mangkal’ di Tretyakov Gallery. Pengaruh seni lukis abad ke-18, abad ke-19, dan abad ke-20 kuat terasa. 

Pada saat di Moskwa, Wiwik pertama kali mengikuti pameran bersama di Belyaevo Gallery. Itu dalam rangka ajang Indonesia Night, pada 24 Januari 2014. Kemudian, berlanjut pada pameran tunggal pertamanya di Art Naive Gallery, pada 15-24 April 2014. 

Tidak sekadar itu, ia juga telah mengikuti pameran bersama di Yogyakarta, Jakarta, Hanoi, dan Kolombo. Kini, nama Wiwik kian bersinar lewat pameran di Beijing. Ini menjadi pameran tunggal keduanya setelah di Art Naive Gallery. 

Sebagai kritikus seni lukis, saya memang tidak mengikuti perkembangan proses kreatif Wiwik sejak ia dan suami meninggalkan Moskwa ke Beijing. Namun, acapkali ia mengirimkan beberapa karya terbaru melalui pesan bergambar di ponsel genggam. 

Naturalisme 

Ciri khas lukisan Wiwik memang kuat pada unsur naturalisme. Mengingatkan gerakan realisme pada abad ke-19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme. Nuansa warna cemerlang kuat terasa. Unsur landscape, ruang luas membentang, misalnya, juga sangat kental. Ini seakan ada pengaruh pelukis klasik Rusia Isaac Levitan (1860-1900). 

Pameran tunggal kedua Wiwik menjadi penting. Salah satu karya terbarunya menyajikan keindahan musim gugur di tembok raksasa yang bersejarah. Karya berjudul The Wonder of China itu dimaknai sebagai simbol hubungan mesra antara Indonesia-Tiongkok. 

“Saya berkunjung ke Tembok Besar Cina saat semua dedaunan sedang menguning. Itu memberi inspirasi untuk mengerjakan karya ini. Awalnya, saya buat sketsa dan perlahan-lahan menyapunya,” jelas alumnus Universitas Negeri Yogyakarta, itu. 

Wiwik menyelesaikan karya The Wonder of China setelah ia kembali ke Beijing dari lawatannya ke Jinshanling. Jinshanling sendiri adalah bagian dari Tembok Besar China. Terletak di daerah pegunungan di Kabupaten Luanping, Chengde, Provinsi Hebei, 125 kilometer timur laut Beijing. 

Ia menuntaskan karyanya pada saat peralihan musim gugur ke musim dingin, dua pekan lalu. “Saat salju pertama turun di Beijing, di situlah sehari sebelumnya saya menyelesaikan The Wonder of China. Saya merasakan guguran daun bercampur salju berbarengan jatuh,” ungkapannya, penuh bahagia di penghujung perbincangan antara Beijing-Jakarta. 

Kini, Wiwik membuktikan dirinya sebagai pelukis profesional. Ia tidak sekadar berlindung di bawah bayang-bayang diplomat, melainkan menggunakan kekuatan cinta dan pengetahuan dalam menjelajahi dunia kesunyian. 

Lewat pameran kali ini, Wiwik laik dan patut mendapatkan tempat di ranah seni lukis di tanah air dan dunia. Ia setia memainkan sapuan kuas dengan jemari-jemari lembutnya di atas kanvas. Ia mampu membaca kekuatan alam berbekal mata batin secara riang gembira. 


 

Iwan Jaconiah, penyair, kulturolog, dan kritikus seni rupa. Dalam dunia seni rupa, ia melakukan penelitian tentang seni lukis sosial realisme pascaperang Dunia ke-2 yang ada di Museum Ketimuran Moskwa sebagai bagian dalam proses penulisan disertasinya. Pernah menjadi kurator tamu pada XXI Gallery di Moskwa dan turut aktif menjadi pembicara pada berbagai simposium seni rupa internasional. Ia baru saja diundang menjadi pembicara pada XI All-Russian Scientific Conference "Dialogue about Art and Culture" yang diselenggarakan oleh Perms State Institute of Culture bekerjasama dengan Ministry of Culture of the Russian Federation, 14-16 Oktober 2021. Sehari-hari tergabung bersama Media Indonesia dan Metro TV. Kini, sedang menyelesaikan pendidikan S3 Kulturologi di Fakultas Seni Rupa, Russian State Social University.

BERITA TERKAIT