12 August 2021, 15:20 WIB

Berjalan Kaki Selama 30 Menit Per Hari, Kurangi Risiko Kematian bagi Penderita Stroke


Nike Amelia Sari | Weekend

MI/Dwi Andriyanto
 MI/Dwi Andriyanto
Warga berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno pada 6 Juni 2020

Menurut data riset kesehatan Kementrian Kesehatan pada 2018,  stroke menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Penyakit ini terjadinya karena kondisi saat pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di tubuh. Area otak yang tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi mengakibatkan sel-sel pada sebagian area otak akan mati. Akibatnya, bagian tubuh yang dikendalikan otak yang rusak tidak berfungsi dengan baik.

Menurut Asosiasi Jantung Amerika, aktivitas berjalan kaki sama efektifnya dengan berlari dalam pencegahan penyakit jantung dan stroke. Sebab, aktivitas ini dapat membantu mencegah tekanan darah, kadar kolesterol, dan sirkulasi darah.

Studi baru menemukan mereka yang setelahj terkena stroke rutin berjalan kaki atau berkebun setidaknya tiga hingga empat jam per minggu, atau bersepeda setidaknya dua hingga tiga jam per minggu, atau yang setara, setelah mungkin memiliki risiko kematian dini sekitar 54% lebih rendah dari sebab apa pun.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam Neurology secara online pada 11 Agustus 2021, jurnal medis American Academy of Neurology mengungkapkan manfaat paling besar bagi penderita stroke yang lebih muda. Ketika seseorang di bawah usia 75 tahun berolahraga setidaknya dalam jumlah itu, risiko kematian mereka berkurang hingga 80%.

"Hasil kami menarik, karena hanya tiga hingga empat jam seminggu berjalan kaki dikaitkan dengan penurunan besar dalam kematian, dan itu mungkin dapat dicapai oleh banyak anggota masyarakat dengan stroke sebelumnya. Selain itu, kami menemukan orang-orang mencapai manfaat yang lebih besar dengan berjalan enam hingga tujuh jam per minggu. Hasil ini mungkin memiliki implikasi untuk pedoman bagi penderita stroke di masa depan," kata penulis studi Raed A. Joundi, MD, DPhil , dari University of Calgary di Kanada dan anggota American Academy of Neurology, seperti dikutip dari sciencedaily.com, Rabu (11/8).

Studi ini menyelidiki sekitar 895 orang dengan usia rata-rata 72 yang sebelumnya pernah mengalami stroke dan 97.805 orang dengan usia rata-rata 63 tahun yang tidak pernah mengalami stroke.

Orang yang pernah menderita stroke yang berusia di bawah 75 tahun dan memenuhi tingkat aktivitas fisik minimum sekitar 80% , lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal selama masa tindak lanjut studi dibandingkan mereka yang tidak.

"Hasil kami menunjukkan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah minimum dapat mengurangi kematian jangka panjang dari penyebab apa pun pada penderita stroke," kata Joundi. (M-4)

BERITA TERKAIT