16 May 2021, 05:00 WIB

Merawat Solidaritas


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

SUDAH setahun lebih negeri ini dilanda pandemi. Wabah yang dipicu salah satu dari varian virus korona itu tidak cuma merenggut nyawa, tapi juga harta. Di sektor kesehatan, sejauh ini hampir 50 ribu orang tewas lantaran virus mematikan tersebut, termasuk petugas medis.

Di bidang ekonomi, jutaan pekerja di-PHK sebagai imbas pagebluk, yang menurut Dirjen Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kementerian PPN/Bappenas, kebanyakan berasal dari kalangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Untungnya, di situasi sulit ini, di tengah solidaritas global yang terkoyak oleh nasionalisme sempit dan politisasi vaksin, negara ini belum kehilangan orang baik, jiwa-jiwa yang selalu tergerak membantu sesama. Di lingkup kampung, misalnya, kita melihat bagaimana masyarakat bahu-membahu menyediakan kebutuhan sehari-hari jika ada salah salah satu warga yang terpapar dan harus isolasi mandiri, tak peduli apa pun suku, ras, maupun agamanya.

Di lingkungan kampus pun demikian, para alumnus perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, ikut urunan untuk membantu menopang kehidupan pedagang kantin, bapak-bapak satpam, maupun mahasiswa yang kesulitan keuangan.

Jika disebutkan, tentu banyak hal baik lainnya yang dilakukan masyarakat bangsa ini selama pandemi. Aktivitas itupun kian marak selama Ramadan. Di media sosial maupun di kehidupan nyata, kita melihat bagaimana sebagian orang, baik secara individu maupun lewat berbagai komunitas, menggalang donasi untuk membantu sesama.

Begitu pula mereka yang sekadar menyediakan takjil bagi para pengemudi ojek online, pedagang asongan, maupun orang biasa, untuk berbuka puasa. Semua dilakukan lagi-lagi tanpa membawa embel-embel SARA. Elok nian jika solidaritas ini terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya di sepanjang tahun.

Ramadan sesungguhnya menyelipkan pesan penting bahwa keyakinan teologis keagamaan masyarakat tidak saja menstimulasi kelahiran semangat ibadah secara vertikal, tetapi juga mampu menggerakkan spirit solidaritas horisontal antarsesama manusia.

Saya yakin jika solidaritas organik ini terus terpelihara bakal melahirkan apa yang disebut dalam terminologi Durkheimian sebagai kohesi sosial. Apalagi kita punya modal nilai dan semangat itu yang terdapat dalam kultur gotong royong dan tepo seliro yang dimiliki bangsa ini.

Ramadan dan Idul Fitri yang kita jalani selama masa pandemi ini, kiranya harus jadi momentum untuk memperkuat lagi solidaritas itu. Solidaritas yang merujuk pada kekompakan untuk berbagi dan saling meringankan beban satu sama lain.

Virus yang tidak kasat mata memang tidak bisa membedakan siapa yang harus dia gerogoti, tapi kita selaku manusia bisa dan tahu siapa yang mesti kita bantu. Virus boleh merenggut apa saja, tapi tidak rasa kemanusiaan kita. Selain kesehatan, saya rasa itulah yang mesti terus kita jaga dan pelihara. Selamat Idul Fitri!

BERITA TERKAIT