23 April 2021, 11:50 WIB

Versi Digital 3D Relief Karmawibhangga Borobudur Rampung


Galih Agus Saputra | Weekend

Antara/ Anis Efizudin/ Aww
 Antara/ Anis Efizudin/ Aww
Pembuatan versi digital 3 dimensi relief Karmawibhangga di Candi Borobudur berhasil diselesaikan LIPI. telah berhasil 

PROGRAM digitalisasi Candi Borobudur, Jawa Tengah, yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini telah berhasil menyelesaikan versi digital 3D relief Karmawibhangga. Program digitalisasi itu dilakukan LIPI melalui Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W-LIPI) berkolaborasi dengan Art Research Center (ARC) - Ritsumeikan University (Jepang) dan Balai Konservasi Borobudur. 

Penelitian yang menggunakan pendekatan humaniora digital (digital humanities) itu melibatkan ilmuwan sosial, arkeolog, dan ilmuwan komputer untuk digitalisasi Borobudur. Peneliti P2W-LIPI, Fadjar Ibnu Thufail relief Karmawibhangga selama ini masih tertutup kaki candi dan tidak bisa dinikmati publik.

"Hanya tiga panel yang sengaja dibuka. Tetapi, pada saat dilakukan rekonstruksi candi oleh Belanda pada awal abad ke-20, seluruh panel relief ini telah difoto oleh fotografer Kasijan Chepas. Tim ahli dari Universitas Ritsumeikan Jepang berhasil menciptakan algoritma dengan menggunakan teknologi machine learning untuk mengkonversi foto 2D relief Karmawibhangga menjadi model digital 3D,” terang 
Fadjar dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Kamis, (22/4).


Fadjar kemudian menambahkan, pada tahap selanjutnya tim peneliti akan menggabungkan model 3D tersebut untuk kepentingan pelestarian dan penelitian Candi Borobudur. Kemajuan ini juga diharap dapat mendukung aspek pendidikan publik dan pariwisata bangunan yang diperkirakan sudah berdiri sejak 800-an tersebut.

ia juga menjelaskan jika proses digitalisasi di masa pandemi ini baru tercapai sebagian. Menurutnya, cakupan target digitalisasi Candi Borobudur sangatlah luas, yang oleh karena itu proses pemindaian perlu dilakukan secara bertahap.

Hingga akhir 2020, lanjutnya, proses pemindaian dilakukan dengan teknik fotogrametri jarak-dekat dan telah berhasil mencakup 75% selasar tingkat pertama candi. Pemotretan fotogrametri akan terus dilakukan hingga akhirnya mencakup seluruh bangunan candi.

“Hal ini (digitalisasi) merupakan cara baru pemanfaatan teknologi digital untuk konseptualisasi permasalahan, target, dan inovasi yang terkait dengan riset dan pengelolaan warisan budaya,” imbuh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti. (M-1)

BERITA TERKAIT