05 April 2021, 07:10 WIB

Memelihara Hewan jadi Hobi Baru Warga Jerman di Saat Pandemi


Adiyanto | Weekend

John MACDOUGALL / AFP
 John MACDOUGALL / AFP
Foto sejumlah kucing yang berhasil diadopsi menutupi dinding di penampungan hewan Tierheim Berlin 

Markus Salomon, 53, dan keluarganya telah lama berkeinginan memelihara anjing. Niat itu akhirnya kesampaian saat mereka harus mengurung diri di rumah lantaran pandemi covid-19. Uschi, seekor anjing dari ras campuran berusia satu tahun, kini jadi penghuni baru di rumah keluarga yang bermukim di Berlin tersebut.

"Saat pandemi tentu saja kita jadi sering berada di rumah dan itu saat yang tepat untuk memelihara anjing," kata pria yang berprofesi sebagai ahli biologi itu kepada AFP, Minggu (4/4).

Menurut Salomon anjing dapat diajak berjalan-jalan, mendaki gunung, atau menjelajah di hutan, sehingga hewan itu merupakan pilihan tepat untuk menjadi teman selama pandemi.

Selama pandemi terjadi lonjakan adopsi hewan peliharaan di Jerman, terutama anjing dan kucing.  Hal itu sebagai salah satu cara mereka mengatasi kesepian dan kebosanan. Menurut Kennel Deutsche Hundewesen (VDH), asosiasi penyayang binatang di Jerman, jumlah anjing yang dijual di negara itu meningkat 20% pada tahun lalu  jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut data Asosiasi Industri Produsen Perawatan Hewan Peliharaan (IVH), secara keseluruhan kini jumlah hewan peliharaan di Jerman naik hampir satu juta menjadi hampir 35 juta. Dari data itu, kucing dan anjing berada di urutan teratas.

Peternak dan tempat penampungan hewan kini kewalahan dengan melonjaknya permintaan. Selain itu, bisnis industri perawatan hewan peliharaan pun kecipratan rezeki dengan fenomena ini. Permintaan makanan, aksesori, dan mainan untuk hewan-hewan peliharaan ini mendongkrak pendapatan mereka naik 5% tahun lalu menjadi 5,5 miliar euro (US$6,5 miliar) atau sekitar Rp9 triliun.

Dukungan emosional

Dalam survei terbaru oleh portal hewan peliharaan Jerman Wamiz.de, sebanyak 84% pemilik anjing mengatakan hewan peliharaan mereka memberi dukungan emosional yang sangat dibutuhkan selama pandemi.

"Hewan peliharaan adalah mitra percakapan bagi banyak orang, terutama bagi orang yang tinggal sendiri," kata Frank Nestmann, psikolog sepesialis hubungan manusia-hewan, di Universitas Teknologi Dresden.

Mereka (hewan peliharaan), kata dia, semakin dibutuhkan saat orang diharuskan tinggal di rumah guna mencegah penularan covid-19.

"Manusia adalah makhluk sosial. Ketika bersosialisasi dikurangi dan aturan untuk menjaga jarak ditetapkan, makhluk sosial lain seperti anjing atau hewan peliharaan pada umumnya mengambil makna atau peran yang lebih besar," kata Nestmann.

Namun, menurut Asosiasi Kesejahteraan Hewan, ada juga sisi gelap dari melonjaknya permintaan akan hewan peliharaan, yakni jumlah anjing yang dijual secara illegal meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2019 dan 2020..

"Permintaan sangat tinggi dan praktis semua organisasi kesejahteraan hewan tidak memiliki hewan yang tersisa. Tentu saja, ini berarti perdagangan ilegal berkembang pesat," kata juru bicara tempat penampungan Berlin Annette Rost.

Marti, anjing campuran Staffordshire terrier berusia satu setengah tahun, diimpor secara ilegal dari Rumania dan kemudian dikunci di ruang bawah tanah sebelum dibawa ke tempat penampungan. Di situ dia dirawat karena masalah keseimbangan dan koordinasi serta kesehatan lainnya.

Calon pemilik sering terpikat oleh anak anjing seperti Marti karena warna bulunya yang indah dan sangat populer di Instagram. “Tetapi mereka tidak dapat merawatnya ketika hewan itu tumbuh lebih besar,” kata Xenia Katzurke, terapis perilaku anjing di sebuah tempat penampungan hewan. (AFP/M-4)

 

BERITA TERKAIT