01 March 2021, 09:05 WIB

Rambut Rontok Juga Merupakan Gejala Covid-19


Deden Muhammad Rojani | Weekend

Unsplash/ Eelement5 Digital
 Unsplash/ Eelement5 Digital
Menurut statistik nasional di Inggris, satu dari lima pasien covid-19 mengalami kerontokan rambut.

GEJALA penyakit covid-19 kerap dilaporkan berbeda-beda. Meski belum banyak disebutkan, beberapa orang mengaku jika mengalami kekeringan hingga kerontokan rambut saat terkena wabah tersebut, bahkan hingga mereka sembut.

Kini, penelitian mengkonfirmasi jika kasus kerontokan rambut merupakan salah satu efek jangka panjang dari SARs-COV-2. Long covid-19 adalah istilah yang digunakan untuk menentukan gejala yang dihadapi oleh orang-orang dan efek virus korona pada individu selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE), dampak panjang dari covid-19 berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Namun, penelitian lain mengklaim bahwa gejala tersebut dapat berlangsung selama lebih dari delapan minggu.

Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris, satu dari lima pasien virus korona menunjukkan gejala rambut rontok selama lebih dari lima minggu. Menurut penelitian yang diterbitkan di The Lancet, seperempat penyintas Covid-19 mengeluhkan rambut rontok sebagai efek samping utama Covid-19.

Meskipun rambut rontok mungkin merupakan masalah umum yang dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia karena berbagai alasan, temuan ini menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan gejala virus korona.

Peneliti mengevaluasi 1.655 pasien yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, Tiongkok, dimana 359 orang (22%) pernah mengalami kerontokan rambut enam bulan setelah dipulangkan. Penelitian tersebut kemudian menjelaskan bahwa rambut rontok lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria.

Selain rambut rontok, temuan penelitian juga melaporkan prevalensi gejala seperti kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, dan kecemasan atau depresi. "Pasien yang sakit parah selama tinggal di rumah sakit memiliki gangguan kapasitas difusi paru yang lebih parah dan manifestasi pencitraan dada yang abnormal, dan merupakan populasi target utama untuk intervensi pemulihan jangka panjang," terang peneliti. (M-1)

BERITA TERKAIT