24 December 2020, 19:00 WIB

Balada para Penari Perut Asing di Mesir


Adiyanto | Weekend

Amir MAKAR / AFP
 Amir MAKAR / AFP
Penari perut dari Maroko saat tampil di acara pernikahan di Mesir

DI sebuah aula pernikahan di Kairo, penari perut asal Rusia, Anastasia Biserova, berjalan ke lantai dansa dengan rok berpotongan tinggi cerah dan atasan bra berpayet. Dia memutar syal merah mudanya dan mulai menari saat sebuah band mulai memainkan musik pengiring.  Penonton pun memberikan tepuk tangan meriah. Adegan itu terekam dalam video yang diposting online.

"Tidak ada negara di dunia yang menghargai tari perut seperti Mesir," katanya kemudian kepada AFP, Kamis (24/12)

"Di sini ada tren yang berkembang untuk mengundang penari perut asing ke pernikahan, klub malam, dan acara lainnya."

Biserova datang ke Kairo lebih dari empat tahun lalu dan telah membangun reputasinya di Mesir.

Penari perut dari Eropa Timur, Rusia, Amerika Latin, dan lainnya telah mendominasi panggung dalam beberapa tahun terakhir di Mesir, negara yang sejak lama dianggap sebagai tempat kelahiran tari perut. Komunitas penari lokal di negara Afrika utara itu telah menyusut, sebagian besar karena negara tersebut kini semakin konservatif selama setengah abad terakhir.

Profesi ini kian terpukul ketika wabah virus korona di  Mesir memaksa penangguhan sementara acara-acara pernikahan dan penutupan klub malam. Kendati demikian, para penari terus memikat penonton melalui video online.

Seorang penari perut, Maria Lurdiana Alves Tejas mengatakan, perlu beberapa waktu baginya untuk menerima pandangan negatif masyarakat Mesir tentang profesinya.

Menurut Lurdiana, dia telah tampil di depan orang banyak di pesta pernikahan dan klub malam, dan juga mengajar senam.

"Tetapi ada beberapa yang tidak melihat saya sebagai seorang professional, atau (yang berpikir) bahwa saya tidak memiliki pendidikan yang layak dan saya melakukan ini hanya untuk menunjukkan tubuh saya demi uang," kata penari asal Brasil tersebut.

"Itu sangat menyedihkan karena saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar tarian ini,” imbuhnya.

Tari perut di Mesir berkembang pesat sekitar seabad lalu. Para penari seperti Samia Gamal dan Tahya Carioca menjadi terkenal hingga ke layar perak.

Tetapi, para peneliti mengatakan, masyarakat Mesir sebagian besar melihat tarian itu sebagai hiburan, tidak pernah dianggap sebagai profesi.

"Pandangan ini diperkuat oleh budaya populer, dan film-film yang menggambarkan penari perut sebagai wanita cabul, pelacur, atau perusak rumah tangga," kata Shaza Yehia, penulis buku tentang sejarah tarian itu tahun 2019.

Istilah Arab untuk penari - raqasat dan awalem - sekarang sering mengandung konotasi negatif dan cabul.

Baru-baru ini, pihak berwenang mengamati secara ketat para penari, diva pop, dan influencer media sosial, yang memposting video tarian itu secara online.

Tuduhan yang sering dilontarkan terhadap mereka adalah melanggar nilai-nilai keluarga atau kesopanan publik.

Namun, ketentuan ini belum diberlakukan untuk orang asing. Pada 2018, penari perut Rusia Ekaterina Andreeva, yang dikenal sebagai Johara,  memang pernah ditangkap karena mengenakan kostum yang dianggap terlalu terbuka setelah video penampilannya beredar luas, namun ia segera dibebaskan.

Menurut Yehia dan peneliti lain, tari perut di Mesir diyakini berkembang pesat selama abad ke-19.

"Mereka pada saat itu disebut 'awalem', atau yang berpengetahuan luas. Hal ini mengacu pada pengetahuan mereka yang luas dalam seni menyanyi dan menari," kata Yehia.

Beberapa bahkan berpendapatistilah "tari perut", atau "danse du ventre", pada awalnya diciptakan oleh orang Prancis.

"Penulis dan pelukis asing menggambarkan fantasi mereka sendiri tentang penari perut dari Timur," kata Yehia.

"Pandangan-pandangan ini membangkitkan imajinasi di Barat, yang kemudian berusaha mengubahnya menjadi kenyataan."

Gerakan tarian ini kemudian dikategorikan ke dalam tarian oriental. Kostum pun diubah untuk menarik penonton.

Sekarang, kaum konservatif dan tradisionalis menilai rok gauzy penari perut dan atasan bra berkilauan, terlalu terbuka, vulgar, dan terlampau seksi.

Penari yang tampil dengan musik Arab klasik juga menjadi langka. Mereka kini  lebih memilih musik elektro pop, yang dikenal sebagai mahraganat, genre dengan ketukan cepat dan improvisasi vokal, yang dianggap puritan melampaui batas moral.

Terlepas dari kontradiksi itu, para penari perut asing di Mesir mengatakan, datang ke negara itu adalah pilihan yang tepat. "Orang asing harus datang ke sini untuk memahami, tampil, dan berlatih sepenuhnya," kata penari perut Ukraina Alla Kushnir.

"Mesir adalah rumah bagi tari perut," imbuhnya. (M-4)

BERITA TERKAIT