29 November 2020, 02:30 WIB

Kelelawar Vampir Lakukan Physical Distancing saat Sakit


MI | Weekend

belizar
 belizar
 

TIDAK hanya manusia yang dapat melakukan physical distancing ketika sakit atau ketika suatu wabah menyerang. Dalam sebuah riset yang dilakukan para ilmuwan dari Ohio State University, mereka mengungkapkan bahwa ketika merasa sakit, kelelawar vampir secara alamiah juga akan menjauhkan diri dari kawanannya di tempat mereka bertengger dan lebih sedikit berinterakasi dengan yang lainnya.

Kesimpulan tersebut didapat setelah para peneliti membawa 31 kelelawar betina dewasa dari pohon berlubang di Lamanai, Belize, Amerika Tengah. Mereka kemudian menyuntikkan zat yang melemahkan sistem kekebalan tubuh (lipopolisakarida) tetapi tidak menimbulkan penyakit pada 16 kelelawar dan membuat mereka merasa sakit untuk sementara, sedangkan 15 kelelawar lainnya (kelelawar kontrol) hanya menerima suntikan garam.

Setelah itu, para peneliti memasangkan sensor jarak dan mengembalikan kelelawar itu ke sarang serta menganalisis perilaku sosial di koloni tersebut selama tiga hari.

Simon Ripperger, penulis utama studi dan peneliti postdoctoral dalam evolusi, ekologi, dan biologi organisme The Ohio State University, mengungkapkan bahwa sensor jarak tersebut memberikan pengetahuan baru yang menakjubkan tentang perubahan perilaku sosial kelelawar ini dari jam ke jam, bahkan dari menit ke menit selama siangmalam, dan bahkan saat mereka bersembunyi di kegelapan pohon berlubang.

“Kami fokus pada tiga perilaku kelelawar yang sakit, yaitu berapa banyak kelelawar lain yang mereka temui, berapa banyak total waktu yang mereka habiskan dengan kelelawar lain, dan seberapa baik mereka terhubung dengan seluruh jaringan sosial,” kata rekan Ripperger, Gerald Carter.

Rata-rata, jika dibandingkan dengan kelelawar kontrol, kelelawar yang sakit berhubungan dengan empat kelompok lebih sedikit selama periode 6 jam dan menghabiskan 25 menit lebih sedikit untuk berinteraksi per pasangan. “Salah satu alasan kelelawar vampir yang sakit bertemu lebih sedikit teman satu grup ialah mereka lesu dan kurang bergerak,” lanjut Carter.

Sebelumnya, para ilmuwan juga sudah melakukan percobaan ini di labaratorium. Hasilnya, di penangkaran, kelelawar yang sakit juga lebih jarang bergerak dan kurang berinteraksi dengan kawanan lainnya.

Carter lantas mengungkapkan bahwa efek yang ditunjukkan dalam penelitian tersebut mungkin umum terjadi pada banyak hewan-hewan lainnya. Akan tetapi, menurutnya, penting untuk diingat bahwa perubahan perilaku tersebut juga bergantung pada patogen yang menyerang. “Kami tidak menggunakan virus atau bakteri yang sebenarnya karena kami ingin mengisolasi efek perilaku penyakit,” ungkapnya.

Di sisi lain, physical distancing yang dilakukan antara manusia dan kelelawar juga berbeda. Manusia melakukan jaga jarak sosial, terutama ketika terjadi pandemi covid-19 seperti saat ini, lebih karena adanya protokol kesehatan bahkan banyak yang melanggarnya dan bukan suatu tindakan yang dilakukan secara alami dan normal.

Sementara itu, hewan yang diduga menjadi sumber penularan penyakit covid-19 ini akan melakukan jaga jarak sosial dengan koloninya ketika sakit secara alami. Hal yang sama juga dilakukan kelelawar yang sehat. (Sciencedaily/*/Rkp/L-2)

BERITA TERKAIT