MODUS penipuan surat digital undangan pernikahan yang disebarkan melalui pesan singkat semakin meresahkan masyarakat. Pelaku penipuan menyematkan file aplikasi (APK) dalam surat dundangan digital pernikahan palsu untuk mengetahui data pribadi korban sebagai akses data perbankan.
Selain pehamaman literasi digital yang tinggi, agar terhindar dari modus penipuanundangan digital palsu sudah sewajarnya masyarakat bisa membedakan file undangan pernikahan digital yang asli dan yang palsu. File undangan pernikahan digital yang asli lazimnya tidak berbentuk APK dan hanya dikirimkan oleh orang-orang terdekat.
"Nomor 1 tentu pengirimnya harus dari si pengantin sendiri atau orang terdekat dari pengantin yang nomornya sudah kita kenal atau tersimpan di ponsel kita. Jangan membuka file undangan digital pernikahan dari nomor yang tidak dikenal," ungkap Pakar sekaligus konsultan resepsi pernikahan dari Ohana Enterprise Yogy Rulan Wijaya di Jakarta, Kamis (2/2).
Yogy menjelaskan surat undangan digital untuk pernikahan cenderung bersifat intim. Undangan tersebut hanya akan disampaikan oleh calon pengantin atau keluarga terdekat yang menjadi tuan rumah acara pesta pernikahan.
"Ciri-ciri undangan asli itu dari si pengantin sendiri atau dari keluarga pengantin. Bisa mungkin dari keluarga terdekat atau ring 1 seperti orang tua, kakak atau adik sendiri yang mengirim," ungkapnya.
Yogy menuturkan trend pengiriman undangan nikah secara digital mulai marak sejak era pandemi covid-19. Undangan nikah yang dikirim secara digital juga dinilai lebih praktis daripada harus mengirim undangan fisik secara langsung.
"Jadi trend sejak era pandemi covid di 2020 lalu. Sejak saat itu banyak hal yang kita hindari untuk bersentuhan fisik, untuk lebih ke arah yang praktis dan sistematis," jelasnya.
Banyak anggapan membuat undangan pernikahan digital bisa menghembat biaya pernikahan jika dibandingkan dengan mencetak dan mengirim udnangan secara fisik. Namun, menurut Yogy selisih biaya pembuatan undangan pernikahan digital dengan undangan fisik tidak terpaut jauh. Terlebih masih adat ketimuran Indonesia terkadang lebih merasa terundang apabila mendapatkan udnangan fisik secara langsung.
"Jelas bangsa kita menganut budaya ketimuran, budaya sopan santun, tata krama, undangan itu masih ada yang harus di cetak sedemikian rupa. Bahkan terkadang untuk keluarga inti atau VIP ada yang dibedakan desainnya," ungkapnya.
Yogy melanjutkan, tidak sedikit pula orang tua dari para calon pengantin yang tetap menginginkan adanya undangan digital yang berbentuk cetak. Moment pengiriman undangan nikah secara fisik biasanya dijadikan moment para orang tua untuk bertamu satu sama lain.
"Karena dinilai lebih sopan dan menghargai dan bahkan harus datang langsung ke orangnya dengan harus bertamu dalam memberikan undangan," ujarnya. (OL-12)