07 July 2022, 11:00 WIB

Lawan Aplikasi Spyware, Apple Hadirkan Lockdown Mode


Basuki Eka Purnama | Teknologi

AFP/Nicholas Kamm
 AFP/Nicholas Kamm
Logo Apple terlihat di sebuah Apple Store di Washington, Amerika Serikat.

APPLE dikabarkan berencana merilis lockdown mode, sebuah fitur pada perangkat komunikasi besutannya dengan menambah lapisan perlindungan tambahan bagi para pengguna yang kerap berpotensi besar mengalami penyadapan atau terkena serangan peretasan oleh aplikasi spyware (aplikasi pengintai).

Mode itu disiapkan rilis pada musim gugur yang artinya berkisar pada September hingga Desember 2022 dan akan sangat berguna untuk orang- orang yang aktif tampil beda seperti aktivitas HAM hingga politikus dari partai oposisi.

Mode ini dihadirkan setelah dua perusahaan spyware asal Israel mengeksploitasi kelemahan perangkat lunak Apple dan akhirnya membobol iPhone-iPhone target tertentu dari jarak jauh.

Baca juga: Apple Miliki Paten Baru Layar yang Memungkinkan Mengetik di Tengah Hujan

Salah satu serangan yang terkenal akibat pembobolan ponsel jarak jauh itu seperti aplikasi Pegasus milik NSO Group, yang akhirnya membuat Apple melakukan langkah lebih lanjut di jalur hukum.

Amerika Serikat (AS) bahkan telah memasukkan Pegasus sebagai aplikasi yang berbahaya dan masuk ke daftar hitam.

Lockdown mode akan hadir di iPhone, iPad, hingga Mac memungkinkan pengguna bisa memblokir sebagian besar lampiran yang dikirim ke aplikasi pesan di masing-masing perangkat.

Salah satu hasil penelitian Apple menyebutkan kasus Pegasus yang membobol keamanan perangkatnya berasal dari penanganan lampiran pesan yang masih lemah.

Mode baru juga akan memblokir koneksi kabel ke iPhone saat terkunci berkaca dari Perusahaan Israel lainnya yaitu Cellebrite telah menggunakan cara manual semacam itu untuk mengakses dan meretas iPhone.

Apple meyakini serangan siber atau pun peretasan model zero click memang belum banyak terjadi, sehingga sebagian besar pengguna perangkatnya tidak perlu mengaktifkan Lockdown Mode.

Untuk memperkuat fitur baru itu, Apple bersedia membayar hingga US$2 juta (Rp29,9 miliar) jika ditemukan masalah oleh para peneliti keamanan digital dan teknologi pada perangkatnya yang memakai fitur itu.

Besarnya dana itu dinilai sebagai hadiah untuk penemuan bug terbesar yang kini bisa ditawarkan industrinya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT