28 June 2022, 23:03 WIB

Operator Gudang Setuju Implementasi Teknologi Baru agar Berdaya Saing


Mediaindonesia.com | Teknologi

DOK Zebra.
 DOK Zebra.
Ilustrasi pergudangan.

OPERATOR pergudangan mengucurkan investasi yang signifikan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dan pekerja dengan lebih baik. Ini pun memudahkan mereka mendapatkan karyawan untuk mengisi lowongan pekerjaan yang tersedia. Hampir 9 dari 10 operator gudang di dunia setuju bahwa mereka harus mengimplementasikan teknologi baru untuk memiliki daya saing di ekonomi berdasarkan permintaan ini. Sekitar 80% mengonfirmasi bahwa pandemi mendorong mereka untuk berkembang dan melakukan modernisasi dengan lebih cepat. 

Mereka yang berada di wilayah Asia Pasifik merasakan tekanan untuk melakukan modernisasi sama seperti yang lain di dunia. Sekitar tiga perempat dari pembuat keputusan di Asia Pasifik mengatakan pandemi sudah mendorong mereka untuk membuat perubahan. Mereka mengubah fokus dan menghabiskan anggaran paling besar untuk teknologi yang mendukung perluasan tenaga kerja dan otomatisasi alur kerja. Sebagai contoh, lebih dari 9 dari 10 operator di semua wilayah, termasuk Asia Pasifik mengindikasikan bahwa mereka akan meningkatkan penggunaan wearable, mobile printer, dan rugged tablet dalam beberapa tahun mendatang bersama dengan mobile dimensioning software yang mengotomatisasi pengukuran parsel dan karton. Selain itu, 27% operator gudang di dunia dan di Asia Pasifik sudah menggunakan beberapa jenis autonomous mobile robots (AMR) saat ini. Dalam lima tahun, jumlah ini diperkirakan bertambah hingga 92% di Asia Pasifik dan 90% di seluruh dunia.

Itu terungkap dalam penelitian global terbaru bertajuk Warehousing Vision Study untuk mendalami tren dan sentimen yang mendorong keputusan operasional dan anggaran di sektor pergudangan yang digelar Zebra Technologies Corporation. Survei yang dilakukan pada Januari dan Februari 2022 ini mengumpulkan masukan dari lebih dari 1.500 pembuat keputusan dan staf pergudangan di seluruh dunia. Di Asia Pasifik, pasar yang disurvei untuk penelitian ini ialah Australia, Tiongkok, India, Jepang, dan Singapura.  

"Disrupsi akibat peristiwa yang terjadi di dunia baru-baru ini menekankan pentingnya rantai pasokan yang resilien dan fleksibel," ucap Aik Jin Tan, APAC Vertical Solutions Lead for Manufacturing, Machine Vision/Fixed Industrial Scanning, Zebra Technologies. "Yang menggembirakan, operator gudang di Asia Pasifik sudah mengambil langkah proaktif. Penelitian kami menunjukkan bahwa 84% dari mereka kini merasa lebih nyaman mengintegrasikan teknologi baru untuk menunjang operasional dan infrastruktur mereka." 

Staf gudang juga jadi lebih nyaman dengan penggunaan teknologi canggih oleh perusahaan. Kurang dari separuh (45%) staf mengatakan bahwa perusahaan menaikkan upah mereka atau menawarkan bonus di tengah pembatasan tenaga kerja. Namun sebagian besar (82%) merasakan dampak positif dari situasi tersebut. Tren ini terus berlanjut di Asia Pasifik bahwa 9 dari 10 staf gudang merasakan dampak positif walaupun hanya 34% yang menyebutkan perusahaan mereka menaikkan upah. Perusahaan memperbaiki kondisi kerja dengan cara lain, seperti memberikan mereka lebih banyak teknologi untuk digunakan saat bekerja dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan waktu kerja yang lebih fleksibel. Bahkan, lebih dari 9 dari 10 staf gudang di dunia setuju pada tingkat tertentu bahwa kemajuan teknologi akan membuat lingkungan kerja menjadi lebih menarik bagi karyawan, bahkan di tengah ketatnya rantai pasokan, permintaan melonjak, dan ada tekanan yang meningkat untuk memenuhi tenggat waktu yang lebih sempit. 

Pembuat keputusan mengalami kesulitan untuk mengirimkan pesanan pelanggan secara tepat waktu dibandingkan tiga tahun lalu. Mereka berusaha kuat untuk menjaga akurasi inventori dan visibilitas. Mereka juga mengakui bahwa mereka diharapkan untuk mengirimkan pesanan lebih cepat dibandingkan sebelumnya untuk memenuhi model ekonomi berdasarkan permintaan dengan naiknya biaya transportasi yang berdampak pada lebih dari 40% operator gudang yang tersebar di sektor manufaktur, transportasi, distribusi grosir, logistik, dan retail. Hal ini tidak mengejutkan mengingat responden mengindikasikan volume pengiriman mereka sudah meningkat rata-rata lebih dari 20% selama dua tahun terakhir. 

Sama seperti stafnya, operator gudang juga melihat tantangan ini sebagai katalis untuk perubahan dan pertumbuhan. Antara tahun ini hingga 2025, lebih dari 8 dari 10 berharap menaikkan jumlah stock-keeping units (SKU) mereka dan volume barang yang dikirimkan. Mereka juga berencana untuk memperluas operasional pengelolaan barang retur, menawarkan lebih banyak layanan bernilai tambah, dan meningkatkan kehadiran fisik mereka, dengan cara memperbesar jumlah dan ukuran gudang. Saat 61% operator gudang di dunia juga ingin menambah jumlah karyawan di tahun depan sesuai dengan jumlah tenaga kerja yang ideal, mereka mengakui bahwa menemukan karyawan (55%) dan memberikan pelatihan (54%) yang tepat waktu tetap jadi tantangan besar. Ini terutama terjadi di Asia Pasifik sekitar 53% melaporkan kesulitan untuk menemukan pekerja dan 59% mengindikasikan pelatihan sebagai tantangan. Hasilnya, lebih dari 8 dari 10 pembuat keputusan di dunia setuju mereka harus lebih mengandalkan otomatisasi di masa depan. 

Meskipun sebagian operator gudang di dunia akan menggelar AMR untuk pengambilan person-to-good (P2G), pergerakan bahan dan gerakan inventori secara otomatis, akan lebih banyak yang berinvestasi dalam software yang membantu mengotomatisasi analitis dan pengambilan keputusan. Di Asia Pasifik, 95% dari pembuat keputusan mengindikasikan bersedia untuk berinvestasi di software tersebut dalam upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisisensi karyawan serta mengurangi biaya kerja, sedikit melebihi rata-rata global (94%).

Baca juga: Huawei Band 7 Hadir, Disebut Mirip Smartwatch

"Saat ini waktu rata-rata untuk melatih pekerja hingga mencapai produktivitas penuh sekitar 4,7 minggu," kata Eric Ananda, Country Manager Indonesia, Zebra Technologies. Dengan demikian, 51% dari pembuat keputusan di dunia dan 56% di Asia Pasifik merasa inisiatif karyawan yang paling penting yaitu mengurangi tugas yang tidak penting sehingga mereka bisa berfokus pada tugas yang lebih terpusat pada konsumen dan memanfaatkan karyawan dengan lebih efisien. Dengan berinvestasi pada teknologi gudang yang tepat seperti Printable indicators, Ultra-Rugged UHF RFID Sleds RFD90, RFID Reader FX9600, UHF RFID Sleds RFD40, Ultra-Rugged Barcode Scanners DS3600-ER/KD, Windows Rugged Tablet L10ax, enterprise tablet ET40, Mobile Computer TC53, TC15 dan Android Wearable Computer WS50, para pembuat keputusan akan lebih mudah untuk meningkatkan operasional gudang dan mengikuti ekonomi permintaan. 

"Warehousing Vision Study akan membantu industri pergudangan di Indonesia memahami dengan lebih baik tren dan tantangan yang sedang membentuk operasional pergudangan global. Melalui ini, mereka juga akan bisa menentukan strategi digitalisasi yang paling cocok untuk kebutuhan gudang-gudang mereka dalam memenuhi permintaan yang meningkat pada 2022," tambah Ananda. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT