18 April 2022, 20:35 WIB

Tawarkan Teknologi Berbasis Cloud, Shipsy Dukung Otomatisasi Industri Logistik


mediaindonesia.com | Teknologi

Ist
 Ist
Soham Chokshi, CEO dan Co-Founder dari Shipsy, di sela-sela acara virtual media gathering 

SAAT ini industri logistik berada di persimpangan beberapa tren besar. Cara berbelanja konsumen telah mengalami perubahan drastis dalam beberapa tahun terakhir dibandingkan cara membeli sesuatu lima hingga enam tahun yang lalu.

Perubahan tersebut dimungkinkan karena adanya kemajuan yang sangat efisien di industri logistik dan mata rantai pasokan.

Tuntutan konsumen pun berubah dalam hal durasi waktu tersampainya barang ke depan pintu rumah, mulai dari  hitungan tiga hingga lima hari, lalu menjadi hitungan jam.

Saat ini mereka berharap agar barang yang dipesan sudah sampai dalam waktu 10 menit.

“Ada banyak mega tren yang saat ini terjadi secara global di industri ini termasuk juga seperti pengurangan jejak karbon," tutur Soham Chokshi, CEO dan Co-Founder dari Shipsy, di sela-sela acara virtual media gathering bersama jurnalis se-Asia Tenggara baru-baru ini."

Dalam hal ini, bagaimana penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan machine learning bisa membantu tercapainya tujuan tersebut? Jadi ini adalah saat yang tepat untuk didiskusikan,” ucap Soham Chokshi.

Baca juga: Mengenal Teknologi Blockchain yang Lahirkan Koin Kripto dan NFT

Shipsy sendiri merupakan perusahaan teknologi logisitik yang membantu pelaku bisnis, pemilik barang atau penggerak barang, untuk mengotomatiskan proses logistik dan rantai pasokan (supply chain).

Dengan otomatisasi tersebut maka terjadi banyak pengurangan biaya operasional, membantu mereka mendapatkan visibilitas pengiriman dari tempat asal ke tempat tujuan.

“Proses pengiriman barang saat ini masih sangat manual, dengan adanya otomatisasi tentu membawa lebih banyak efisiensi. Platform logistik berbasis cloud membantu perusahaan melakukan semua ini, baik dari sisi logistik internasional maupun domestik pedalaman juga,” kata Soham.

Sejauh ini Shipsy telah bekerja sama dengan 160 perusahaan yang menjadi pelanggan di seluruh India, Timur Tengah hingga Asia Tenggara untuk membantu mengatasi tantangan-tantangan di industri logistik.

“Ada banyak faktor, seperti pandemi Covid 19, yang mengganggu ekonomi global kita, termasuk skenario geopolitik dan lainnya yang mempengaruhi cara kerja transportasi dan logistik. Dan perusahaan tetap harus menangani berbagai kebutuhan pelanggan saat itu," jelas Soham.

"Dan faktanya saat ini, mereka tidak puas dengan pengiriman yang butuh waktu lima hingga enam hari, mereka ingin durasi pengiriman yang lebih pendek dari 30 menit atau kurang,” tambahnya.
 
Ada banyak teknologi baru yang hadir pada hari ini dan mengubah cara perusahaan dalam mengoperasionalkan fungsi logistiknya.

Salah satunya, ungkap Soham adalah blockchain yang membantu perusahaan meningkatkan kepercayaan antar vendor dan meningkatkan visibilitas. 

“Keunggulan adalah bagian utama dari strategi bisnis saat ini. Beberapa area yang mendorong hal ini adalah pengurangan biaya transportasi dan pengalaman pelanggan," katanya.

"Sebab pengalaman buruk dalam pembelian barang membuat hampir 60% pelanggan tidak akan kembali ke website perusahaan tersebut. Jadi sangat penting untuk mempertahankan basis pelanggan yang setia,” tutur Soham.

Saat ditanya mengenai alasan dibukanya kantor pusat Shipsy untuk Kawasan Asia Tenggara di Indonesia?

Soham menegaskan bahwa pembukaan kantor di Indonesia adalah untuk mendukung pelanggan Shipsy yang berada di kawasan Asia Tenggara dan sudah menggunakan platform ini selama beberapa tahun. 

“Keberadaan kantor utama di Indonesia sebagai cara untuk mendekatkan jarak antara kami dengan pelanggan yang sudah ada. Dan juga memanfaatkan ekosistem di Indonesia untuk membantu pertumbuhan Shipsy,” tutupnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT