02 October 2022, 17:44 WIB

Imbas Tragedi Kanjuruhan, Tokoh Jatim Sarankan Kapolda Jatim dan Kapolres Malang Mundur


mediaindonesia.com | Sepak Bola

Antara/Ari Bowo Sucipto
 Antara/Ari Bowo Sucipto
Polisi menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan

TRAGEDI di Stadion Kanjuruhan, yang memakan korban jiwa hingga 174 orang tewas membuat Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid prihatin dan melontarkan kecaman.

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) tersebut menganggap insiden tersebut adalah tragedi nasional yang memukul citra sepak bola Indonesia.

"Citra kita sebagai bangsa yang beradab bisa berubah karena tragedi ini. Bayangkan, ada ratusan orang meninggal dunia. Dan yang meninggal itu justru penonton yang tidak bersalah!" seru Habib Syakur Ali dalam keterangan tertulis, Minggu (2/10).

Ia menganggap insiden pada Sabtu (1/10) malam itu benar-benar memalukan karena wajah sepak bola Indonesia bisa mendapatkan citra negatif di mata masyarakat dunia 

Beberapa media internasional seperti Reuters, BBC, CNBC, dan bahkan Al-Jazeera ikut menyorot insiden maut di Stadion Kanjuruhan ketika pertandingan antara Arema FC dan Persebaya berakhir ricuh.

Bahkan, media internasional tersebut terkesan mencitrakan bahwa dunia sepak bola di Indonesia penuh dengan kekerasan dan ketidak ramahan.

"Tragedi ini sudah sampai ke penjuru dunia dan memalukan citra kita sebagai bangsa yang beradab. Apa pemerintah tidak mau menanganinya secara serius agar kejadian serupa tak terulang?" tanyanya.

Lebih tegas, Habib Syakur meminta agar pemerintah tidak hanya menyampaikan ucapan duka cita atau ucapan manis lainnya. Habib Syakur meminta agar ada tindakan tegas terhadap provokator bahkan pihak panitia dan aparat yang dianggap tidak mengetahui mekanisme untuk menjaga keamanan stadion.

"Kalau klubnya kalah pasti orang kecewa, wajar. Harusnya saat terjadi kericuhan aparat langsung mengantisipasi cepat dan langsung menahan para provokator. Bukan malah tunggu ricuh lalu ditembaki gas air mata. Ini jelas bakal membuat penonton lain yang tak terprovokasi ikut panik bahkan mengalami luka akibat gas," serunya.

Tokoh masyarakat itu bahkan meminta agar Kapolda Jawa Timur dan Kapolres Malang segera dicopot atas insiden ini.

Menurutnya, Kapolda dan Kapolres harusnya bisa melakukan penyiagaan secara matang dan skema saat terjadinya bentrokan antar suporter agar tak menelan korban jiwa.

"Saya berharap pemerintah melakukan investigasi atas berbagai pihak baik dari panitia termasuk Kapolda Jatim dan Kapolres Malang yang tidak mampu mengantisipasi adanya insiden ini. Walhasil korban berjatuhan dan nama sepakbola kita hancur di mata dunia," tegasnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara Arema FC dan Persebaya sering disinggung sebagai rival berat di kancah persepakbolaan nasional.

Kedua klub itu saling bersaing kuat hingga para suporter fanatik di masing-masing pihak ikut terpengaruh oleh rivalitas tersebut.

Menurut Habib Syakur, hal ini harusnya diketahui oleh aparat keamanan dan sudah membuat skema keamanan yang ketat apalagi melihat bergengsinya laga itu.

Bagaimanapun kasus bentrokan antarsuporter sudah menjadi kerap terjadi dan sudah sepatutnya aparat kepolisian telah mengetahui upaya untuk mencegah peristiwa yang tak diinginkan.

"Sebaiknya Kapolda Jatim dengan penuh kesadaran mundur dari jabatannya, begitu pula Kapolres Malang. Tragedi ini sudah membikin malu kita bahkan viral di luar negeri," katanya.

"Pemerintah juga harus menindak tegas. Tidak bisa hal memalukan seperti ini ditoleransi, kalau kita ingin sepak bola Indonesia maju, harus ada tindak tegas berbagai pihak," sambung Habib Syakur.

Tragedi kerusuhan yang berujung maut di Stadion Kanjuruhan terjadi saat Arema FC dikalahkan 2-3 oleh Persebaya.

Suporter Arema FC yang tidak terima klub kesayangan mereka tumbang di kandang sendiri, melakukan kericuhan dengan memasuki arena lapangan.

Petugas dengan sigap segera memukul mundur para suporter fanatik tersebut dan tidak berapa lama terlihat asap mengepul di pinggiran lapangan.

Asap tersebut berasal dari gas air mata yang dilemparkan oleh aparat ke suporter yang turun ke lapangan.

Namun karena melempar terlalu pinggir, para penonton yang tak terprovokasi malah terkena asap kimia tersebut yang menyebabkan mereka panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Kepanikan dan tidak adanya pintu evakuasi membuat penonton berdesak-desakan agar bisa keluar.

Asap yang membuat mata perih dan menyesakkan nafas tidak pelak membuat penonton yang berdesakan itu lemas dan diketahui 174 orang meninggal dalam insiden tersebut.

Mengacu pada aturan FIFA yang melarang gas air mata di dalam stadion, Amnesty International mengkritik aparat dan mendesak pihak pemerintah untuk “melakukan penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan independen” dan “memastikan bahwa mereka yang terbukti melakukan pelanggaran diadili di pengadilan terbuka dan tidak semata-mata menerima sanksi internal atau administratif”.

“Hilangnya nyawa ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” kata Usman Hamid, direktur eksekutif Amnesty International Indonesia.

Sejalan dengan ucapan Usman Hamid, Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid meminta agar pemerintah mencopot dan memberi sanksi tegas pada pemimpin aparat, yaitu Kapolda Jawa Timur dan Kapolres Malang. (RO/OL-1)

BERITA TERKAIT