11 June 2022, 07:10 WIB

Jangan Ulangi Kesalahan 1996


Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola | Sepak Bola

MI/Seno
 MI/Seno
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola

ARTIKEL Deutsche Welle tentang transformasi yang sedang terjadi di tubuh PSSI sangat menarik untuk disimak. Digambarkan bagaimana buruknya prestasi sepak bola Indonesia, padahal seharusnya menjadi ‘Brasil’-nya Asia. Kegemaran masyarakat terhadap sepak bola tidak mengimbas kepada tim nasional.

Penyebabnya ialah tata kelola sepak bola di Indonesia yang buruk. Selama bertahun-tahun sepak bola menjadi ajang korupsi, tempat terjadinya pengaturan skor, dan maraknya hooliganisme sehingga membuat pertandingan sepak bola tidak mencerminkan hasil pembinaan yang seharusnya.

Momentum perubahan itu datang setelah pengurus yang terlibat korupsi dimasukkan ke dalam penjara. Kehadiran pelatih asal Korea Selatan Shin Tae-yong membawa perubahan pada sikap para pemain. Shin Tae-yong tidak mau terpaku kepada nama-nama besar yang ada. Ia memilih untuk membangun sebuah tim baru yang bertumpu kepada pemain-pemain muda.

Hasilnya mulai terlihat pada ajang Piala AFF Desember tahun lalu di Singapura. Meski gagal menjadi juara, sebuah tim muda yang menjadi tumpuan baru Indonesia mampu dibangun Shin Tae-yong.

"Tim saya di Piala AFF lalu rata-rata usia pemainnya tujuh tahun lebih muda dari tim nasional sebelumnya. Mereka mempunyai teknik bermain sepak bola yang baik, sangat menikmati permainan, hanya membutuhkan mentalitas yang lebih kuat," ujar Shin Tae-yong.

Pelatih fisik Dzenan Radoncic membenarkan, persoalan terbesar yang dihadapi pemain Indonesia ialah pada sisi mentalitas. "Pemain Indonesia terlalu kalem dan terlalu santai. Semua ini disebabkan oleh faktor iklim dan kultur. Sekarang yang saya coba lakukan ialah meningkatkan daya tahan fisik dan sikap yang lebih agresif. Saya minta kepada pemain untuk terus semangat selama 90 menit pertandingan, meski sudah tertinggal," kata pelatih asal Serbia itu.

"Satu lagi yang saya coba ubah ialah mindset dari pemain. Mereka tidak boleh hanya puas tampil di level nasional, tetapi harus mampu bersaing di level internasional," tambah Radoncic.

 

 

Pengalaman internasional

Meski menjadi kontroversi, kesebelasan Indonesia membutuhkan hadirnya pemain dengan pengalaman bermain di level dunia. Tanpa ada pemain yang tampil di level yang lebih tinggi, sepak bola Indonesia akan berjalan di tempat.

Beberapa pemain sekarang ini mulai bermain di liga dunia. Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman bermain di Liga Slovenia. Pratama Arhan mendapat kesempatan dikontrak klub Jepang. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari mencukupi.

Pengalaman Korea Selatan mampu lebih cepat membangun sepak bolanya karena banyak pemain mereka melanglang buana. Setelah Park Ji-sung sukses di PSV Eindhoven dan Manchester United, sekarang Son Heung-min tampil sebagai mesin gol Tottenham Hotspur dan menjadi peraih sepatu emas Liga Primer musim 2021/2022. Begitu banyak pemain Korea yang berkompetisi, baik di level Asia maupun Eropa.

Sambil menunggu lebih banyak pemain mendapatkan pengalaman internasional, sekarang PSSI menarik pemain yang berdarah Indonesia, tetapi bermain di liga luar negeri. Salah satu yang masuk ke tim nasional sekarang ini ialah Elkan Baggott.

Elkan merupakan anak dari ayah berkewarganegaraan Inggris, tetapi ibunya Indonesia. Pemain muda itu berlaga di Divisi III Inggris bersama Ipswich Town. Elkan sudah memutuskan menjadi warga negara Indonesia dan membela tim nasional sejak Piala AFF.

"Saya memiliki waktu istirahat yang kurang karena baru selesai kompetisi dan harus terbang dari Eropa. Tetapi sekarang kondisi saya sudah lebih baik," kata Elkan yang dimasukkan Shin Tae-yong untuk tampil membela Merah Putih pada penyisihan Piala Asia 2023 di Kuwait.

Ada dua pemain lagi yang sedang dalam proses naturalisasi, yakni pemain asal Spanyol Jordi Amat dan pemain berdarah Belanda Sandy Walsh. Mereka sudah diajak Shin Tae-yong untuk berlatih di tim nasional.

"Keduanya merupakan pemain yang sangat baik. Tetapi mereka belum bisa masuk ke dalam tim karena proses naturalisasinya belum selesai," kata pelatih Shin Tae-yong.

 

 

Mulai ada hasil

Sejak tampil di ajang Piala AFF, sentuhan Shin Tae-yong mulai membawa hasil. Setidaknya dari segi permainan, kini kesebelasan nasional Indonesia mulai kembali diperhatikan. Para pemain bukan hanya lebih paham bagaimana bermain sepak bola yang benar, melainkan juga mengerti arti berjuang sampai akhir pertandingan.

Pada pertandingan pembukaan penyisihan Piala Asia 2023, mereka kembali menunjukkan itu. Sempat tertinggal oleh gol penyerang Kuwait Yousef Nasser pada menit ke-40, para pemain Indonesia segera bangkit dan membalikkan keadaan melalui penalti Marc Klok pada menit ke-44 dan gol Rachmat Irianto dua menit setelah jeda.

Kemenangan atas tuan rumah Kuwait mengingatkan saya pada peristiwa 4 Desember 1996 saat meliput Indonesia untuk pertama kalinya tampil pada putaran final Piala Asia di Uni Emirat Arab. Ketika itu, pertandingan pertama yang dimainkan pada putaran pertama juga melawan Kuwait.

Ujung tombak Widodo Cahyono Putra membuat para penonton terkagum-kagum ketika membuat gol yang indah dengan tendangan salto. Sayang, salah satu gol terindah di ajang Piala Asia itu tidak berakhir manis. Ketika itu, tim nasional Indonesia gagal mempertahankan keunggulan dan harus puas bermain imbang 2-2 melawan Kuwait.

Bahkan, kejutan Indonesia hanya sampai di situ. Setelah itu, tim asuhan Danurwindo harus menelan dua kali kekalahan dari Korsel dan tuan rumah UEA. Akibatnya, Indonesia harus pulang lebih awal sebagai juru kunci.

Kita tentu berharap Shin Tae-yong tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia setidaknya sudah memulai itu dengan tidak membiarkan Kuwait menyamakan kedudukan. Indonesia membuat kejutan dengan meraih kemenangan pertama atas Kuwait.

Pertandingan kedua melawan Jordania pada Sabtu malam atau Minggu dinihari nanti sangat menentukan. Apabila Rachmat Irianto bisa mempertahankan prestasi untuk bisa mencuri poin dari Jordania, peluang untuk lolos ke putaran final tahun depan akan terbuka.

Pilihan untuk tampil dengan tiga center-back tidaklah keliru. Apalagi harus menghadapi Jordania yang jauh lebih diunggulkan. Rizky Ridho, Elkan Baggott, dan Fachruddin Aryanto bisa terus dipertahankan untuk membantu kiper Nadeo Argawinata mengawal gawang Indonesia. Sementara itu, Pratama Arhan dan Rachmat Irianto bermain sebagai gelandang gantung yang tugas utamanya menjaga pertahanan sayap.

Dengan pertahanan yang lebih solid, itu akan membuat Marc Klok dan Ricky Kambuaya bisa lebih fokus menggalang lapangan tengah dan mendukung serangan. Tim Indonesia lebih kukuh karena memiliki dua penyerang sayap yang rajin menjemput bola, yakni Saddil Ramdani dan Witan.

Pekerjaan rumah yang belum terselesaikan oleh Shin Tae-yong ialah mendapatkan ujung tombak yang lebih produktif. Stefano Lilipaly masih belum bisa menjadi mesin gol yang diharapkan. Muhammad Rafli yang menggantikan juga belum memuaskan sampai harus dimasukkan lagi pemain ketiga Dimas Drajad untuk menggantikan. Setidaknya Indonesia harus bisa mencuri poin malam ini agar harapan lolos dari babak penyisihan terbuka dan Indonesia bisa mengulangi kiprahnya tampil pada putaran final Piala Asia.

 

 

BERITA TERKAIT