06 September 2023, 19:00 WIB

Puisi-puisi Imam Budiman


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi: Handrio
 Ilustrasi: Handrio
   

Ilustrasi: Handrio

Sebuah Hutan

setelah hari ketujuh, ia masih menafikan jasad tersalib itu
dari kenyataan bahwa darahnya penebus titik segala garis
hanya sebuah dalil: berilah aku satu ziarah ke peluknya
meski sebentar sekadar menciumi luka lalu sadar.

di hutan itu, setelah bersungkur, mengecup dahi
ia berkata: sungguh, mereka tidak membunuhku
di mana makam itu ia kenang sebagai tempat pulang
bagi rahim yang tak menyuluk ruang setelah perang
    —hanya sunyi berkali-kali, sekali lagi

2023


Tutup Sumur

terik membakar madyan, luka kaki tanpa alas
berjalan tanpa arah menjauhi tanah kelahiran
sebab nyawa lelaki meregang di kepalanya.

tulang mengikat daging: sekadar dedaunan hijau
di pohon, di titik perbatasan, di dapur tak bertuan
menahan nyeri lambung nabi pada usia tiga puluh
adakah lapar mengutukku dalam sirah, lirihnya.

di antara haus ternak dua putri kehilangan jenak
ayah dilelap uzur sedangkan sore tak membujur
    —sebuah batu dengan sepuluh lelaki 

ia yang malu-malu—mendekati
ayah memanggilmu, bertamulah

kerikil dan arah pulang menjadi saksi
atas pertalian dua manusia di kinanah

2023


Anak Gembala

tanpa pedang dan baju zirah, tak ia kenal sehari-hari bagi ternak
anak gembala itu memaksa masuk ke barisan para petarung 
        hanya berbekal umban tali di tangannya.

tiada kecapi dipetik di medan laga ini—bukanlah nurani

raja itu tiga kali tinggi tubuhnya, ketopong tembaga
beserta zirah bersisik penghalau sayatan dan luka
memastikan pemenang di pertempuran ini.

tetapi gembala kecil itu sungguh memecahkan dahinya
mencatatkan diri sebagai pahlawan dalam dua kitab suci

2023


Berilah aku satu ziarah ke peluknya meski sebentar sekadar menciumi luka lalu sadar. 


Semisal Tanpa Ayah

serapah memecah di udara
ketika bayi merah itu lahir
dari rahim yang dingin

bayi yang memagar sanggah
meski tunas gigi belum sebilah

ibuku akar selasih yang tumbuh 
lalu dirawat dari kisah kitab kasih

perut abid suci itu membesar
hari ke minggu di biliknya
serupa kepala anak sapi

satu ruh ditanam kepada tubuh
melalui baju kurung, melewati
farji yang sunyi dari embus
—asing tiada bermilik.

kain jubah itu tiada basah
sebab nutfah yang tumpah

2023


Gerhana Matahari

sekawanan burung tiada menetap di dahan rimbun
ketika kabar kematian tersiar syawal yang murung

matahari bersembunyi di siang penuh haru itu
menyaksikan nabi dan jasad kecil di pangkuan
terpejam—mungkin tidur sesaat
        tetapi tidak

ia mengulang kesedihan, sekali lagi, serupa lakon
pesakitan yang pandai menyusun sepandan tabah
yang digariskan ketika menghadapi kehilangan

tunas gigi yang baru saja tumbuh, satu-dua huruf
yang keluar dari mulut kecil, rangkak yang beralih
menjadi lari: pergi bersama demam satu malam

sungguh air mata tak tercegah; menjelma mata air
menyuarakan tangisan hari pertama anak itu lahir

2023


Baca juga: Puisi-puisi Ted Rusiyanto
Baca juga: Puisi-puisi Anna Akhmatova
Baca juga: Puisi-puisi Dien Wijayatiningrum

 

 

 

 


Imam Budiman, pemuisi, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 23 Desember 1994. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media digital dan surat kabar nasional. Buku kumpulan puisinya, yaitu Kampung Halaman (Tahura Media, Banjarmasin, 2016) dan Pelajaran Sederhana Mencintai Buku Fiksi (2021). Saat ini, mengabdikan diri sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia di Tangerang Selatan, Banten. (SK-1)

BERITA TERKAIT