25 September 2022, 12:00 WIB

Sajak-sajak WS Rendra


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi WS Rendra
 Ilustrasi WS Rendra
   

KARYA penyair flamboyan WS Rendra (1935-2009) selalu mendapatkan tempat tersendiri dalam ingatan para pembaca tercinta, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada edisi ini, Sajak Kofe menyajikan karya lawas Rendra muda yang dibuatnya seusai menghadiri undangan Festival Pemuda dan Pelajar di Moskwa, Soviet Rusia, pada Musim Gugur 1957. Sajak-sajak di sini disarikan dari sejumlah literatur sebagai in memoriam, suatu cara untuk mengenang kembali kiprah Rendra sebagai tokoh sastra dan dedikasinya yang tinggi dalam ranah perpuisian Indonesia

Sanatorium Chakhalinagara, Moskwa 

Hatiku terbaring telanjang di meja 
di atas piring 
di samping pisau, senduk, dan garpu, 
selagi aku duduk di kursi putih 
dengan koran tak bisa dibaca 
di pangkuanku. 
Pintu balkon yang terbuka menampakkan terali yang hitam 
serta langit yang tua renta. 
Bayangan gelas dan teko porselin 
dipantulkan kaca pintu. 
Kemudian nampak pula diriku; 
Wajahku yang sepi setelah dicuci, 
hatiku yang rewel dan manja. 
Siapa pula aku tunggu? 
Siapa atau apa? 

Perawat datang dengan wajah yang heran. 
la menggelengkan kepala: 
"Kamerad tak makan?” 
"Lyuda, aku tak bisa makan. 
Tak bisa kumakan wajah kekasih 
tak bisa kuminum ibuku bersama susu 
dan tak bisa kuusap mata adik dengan mentega!" 
Ia mengangkat bahu dan bertanya. 
Ah, ia toh tak tahu bahasa rindu! 

Apabila ia lenyap dari pintu 
dengan langkah lunak di atas permadani 
ia tak akan tahu 
bahwa waktu pernah beku dan berhenti 
segala bunyi dan warna tanpa makna 
dan bahkan 
bagi mimpi, duka, derita, maupun kebahagiaan 
tak ada pintu yang membuka. 


Sungai Moskwa 

Di hari Minggu 
Valya tertawa 
dan rambutnya yang pirang 
terberai. 

Di atas biduk yang kecil merah 
kami tempuh air 
melewatkan jam-jam yang kosong. 

Berpuluh pohonan 
tumbuh di dua tepi sungai 
bagai jumlahnya dosa kami. 
Semua daun 
berubah warna. Musim gugur sudah tiba. 

Di atas air yang hijau 
kami meluncur 
diikuti bayang-bayang yang kabur. 
Melewati lengkungan jembatan 
bagai melewati lengkungan kekosongan. 
Musim gugur sudah tiba. 

Valya tertawa 
dadanya terguncang 
di dalam sweaternya. 
Musim gugur sudah tiba. 


Sebuah Restoran, Moskwa 

Melalui caviar dan vodka 
kami langgar sepuluh dosa. 
Di atas kain meja yang putih 
terbarut tindakan yang sia-sia. 
Botol-botol anggur yang angkuh 
dan teman wanita yang muda 
adalah hiasan malam yang terasa tua. 
Hari-hari yang nampak koyak-moyak 
disulam dengan manis oleh wajahnya. 
Dalam kepalsuan 
kami berdua bertatapan. 
Bahunya yang halus berkilau biru 
oleh cahaya lilin dan lampu. 
Pintu-pintu berpolitur 
dengan tirai untaian merjan. 
Sementara musik berbunyi 
jam berapa kami tak tahu. 
Di atas kursi Perancis kami bertukar senyum 
dan tahu 
masing-masing saling menipu. 
Dengan gelas-gelas yang tinggi 
kita membunuh waktu 
dalam dosa. 
Bila begini: 
Manusia sama saja dengan cerutu 
bistik atau pun whiski-soda 
berhadapan dengan waktu 
jadi tak berdaya. 


Stretenski Boulevard 

Di sepanjang Stretenski Boulevard 
kuseret langkahku 
dan kebosananku. 

Di bawah naungan pepohonan rindang 
di sepanjang jalan bersih dengan bunga-bungaan 
kucekik kebosananku 
dalam langkah-langkah yang lamban. 

Di Stretenski Boulevard 
di bangku panjang 
di antara pasangan berciuman 
dan orang tua membaca buku 
kuhenyakkan tubuhku yang lesu 
kuhenyakkan kebosananku. 

Maka 
sambil diseling memandang 
pasangan yang lewat bergandengan 
dan ibu mendorong bayi dalam kereta 
kupandang pula di depanku 
kelesuanku dan kejemuanku. 

Terang bukan soal kesepian 
di tengah berpuluh teman 
dan wanita untuk berkencan. 
Masing-masing orang punya perkelahian. 
Masing-masing waktu punya perkelahian. 

Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri. 
Kerna, wahai, setanku yang satu 
bernama kebosanan! 

Di sepanjang Stretenski Boulevard 
di sepanjang Stretenski Boulevard 
di tempat yang khusus untuk ini 
kuseret langkahku 
dan kebosananku. 
Lalu kulindas 
di bawah sepatu. 


A Landscape for Dear Victor 

Apabila kita bertiarap di bukit yang damai 
kita mengarah lembah 
dengan gelagah dan semak-semak berbunga. 
Di langit yang bersih terpancanglah matahari 
sepanjang tahun selalu bercaya. 
Maka angin lembah bertiup dengan merdeka. 
Suara yang gaib memanggilku. 
Tangan yang gaib melambaiku. 

Sebatang sungai yang putih sebagai pita 
mengalir jauh di tengah 
selalu bernyanyi bagai sediakala 
sedang jalan kereta api menjalar di sebelahnya. 
Keretanya lewat dengan asap yang jenaka 
mencorengkan warna kelabu di udara 
disapu angin kemarau 
dalam permainan dan semangat remaja. 
Permainan dan derita bangsaku. 
Lebih jauh lagi 
setelah warna hijau dan putih ini 
bumi berwarna kuning kerna padi telah menua 
dan di bawah matahari jerami berwarna bagai tembaga. 
Orang-orang yang coklat bergerak di tanah coklat. 
Mereka bekerja dan mencumbu tanahnya. 
Maka sambil menghadap kesuburan 
rumah-rumah di kiri berjongkok dengan tentram. 
Tempat berpagut jiwa bangsaku. 

Bagai titik-titik beragam seratus warna 
berterbanganlah burung-burung dan kupu-kupu 
malaikat kehidupan dari bumi. 
Dan sebuah jalan yang kelabu 
dari kanan menuju ke cakrawala 
menuju kota. 
Mobil yang kecil dan biru 
lewat di atasnya. 

Suara yang gaib memanggilku. 
Tangan yang gaib melambaiku. 
Tangan bangsa ini harus dikepalkan. 
Bukit dan lembah ini harus bermakna. 
Harus diberi makna. 

Di kali perempuan telanjang dan mencuci 
mereka suka bernyanyi tentang harapan yang sederhana dan tentang kerja lelakinya. 
Sedang di tepi sungai 
rumpun bambu bergoyangan 

Victor yang baik, 
percik darah yang pertama 
di bumi ini tumpahnya. 


Gereja Ostankino, Moskwa 

Menaranya cukup tinggi 
tapi menggapai sia-sia. 
Pintunya mulut sepi 
rapat terkunci 
derita lumat dikunyahnya. 


 

Bacaan rujukan 
¹ Jaconiah, Iwan dkk. Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin (Antologi Puisi). Jakarta: Pentas Grafika, 2022. 
² Rendra, W.S. Sajak-sajak Sepatu Tua (Kumpulan Sajak). Jakarta: Burungmerak Press, 2010. 
³ Soemanto, Bakdi. Rendra: Karya dan Dunianya (Biografi). Jakarta: Grasindo, 2017. 

 

 

 

Willibrordus Surendra Bawana Rendra, lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009, lebih dikenal dengan nama WS Rendra, Surendra Broto, dan Rendra saja. Ia adalah penyair, dramawan, dan sutradara teater. Pada 1954, Rendra diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menghadiri seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard. Ia pulang ke Indonesia dan kembali ke AS lagi dengan beasiswa untuk studi di American Academy of Dramatic Arts, New York City (1964-1967). Buku kumpulan puisinya, yaitu Ballada Orang-orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1993), dan Disebabkan oleh Angin (1993). Dalam teater, ia menulis naskah drama Mastodon dan Burung Kondor (1972) yang sangat terkenal. Ia banyak melakukan eksperimen-eksperimen dalam teater. Sejumlah penghargaan pernah ia raih, antara lain Hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional sebagai penyair terbaik 1955-1956, Hadiah Seni dari Pemerintah RI (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006). Ilustrasi dan foto: MI/Bengkel Teater Rendra/Antara. (SK-1) 

BERITA TERKAIT