04 September 2022, 14:00 WIB

Sajak-sajak Adrian Shabir


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi: Artur Saryan
 Ilustrasi: Artur Saryan
   

Ilustrasi: Artur Saryan 

Ini Malam 

Bukan sekali ini kulihat 
benih muncul dari bumi 
bukan sekali ini kunanti 
bertahan; hidup atau mati. 

Matahari menyengit 
cukup sudah panas 
bunuh benih dari langit 
tak tajak tuk coba bernas. 

Tanah kerontang, 
puas melahirkan siksa 
anak-anak hidup, durhaka 
tak bersalah di serabut langit, 
bumi serupa ibu yang keras sakitnya. 

Jangan paksa lagi; 
sebutir telur ini hari 
cukup meretas retak, 
walau tak kembali wujud asli. 

Berputar sisa anak-anak hidup. 
“Cerah. Sangat bernafsu 
birahi keringkan bumi.” 

“Tolong, angin! Hembuskan 
kapas-kapas teduhmu.” 
Datang saat bumi sekarat 
bulan temaram menghampiri 
"Ini malam giliran kami bercinta.” 

2022 


Selamanya 

Semilir angin menerpa kulit 
udara mengepak dedaunan pohon 
jatuh satu-satu; kering, terhempas 
ikuti takdir, tak tentu arah. 

Seorang gadis 
menikmati malam 
harmoni lagu-lagu 
buat tubuhnya menari. 

Sirna kelam malam 
teduh tenang sanubari 
selamakah ini hening, 
diam temaram bulan. 

Tak mungkin abadi waktu 
namun detik demi detik 
tak pernah berhenti. 

Sungging senyum 
tak selamanya 
melewati ini hidup; 
mati, bangkit, abadilah. 

2022 


Tujuan 

Telungkup, dunia berubah 
tak mampu hadapi depan muka 
berpasang mata pantau gerak tindak 
tak ada gegap harap. 

Pelarian manusia; bunuh diri 
bapak dan ibu tak peduli 
teman menusuk punggung; 
membelakangi sembari menyinggung. 

Bumi menua, langit putus asa 
keluh tak terdengar 
harap mengabur. 

Untuk ini kali, bebunyi menyerang Atma; 
“Masih ada tempat untuk bersandar 
Gemetar badan, gigil.” 
“Sandaran apa? Bunyi apa ini?” 
"Itu petunjuk, yakinlah! 
Yakinlah pada Sang Khalik, 
empunya semesta alam.” 

Satu tujuan, jiwa bergemuruh; 
dunia tak mengubah diri sendiri 
hadapi mukamu, ubah gerak tindak 
meluruh asa, melawan yang sirna 
bersandarlah pada keyakinanmu. 

2022 


Hiduplah Sebebas Rasa 

Melepas jarak 
terbentang jurang 
antara dua hati yang 
tak lagi bersedekap. 

Ingin meminta 
dan melangit harap 
walau tak sanggup. 

Rasa menjadi mahal 
terpenting bagi keluarga, 
hanya perkakas hidup 
sedang rasa ini ringan; 
memberat ketika tertuntut. 
 
Kalau saja 
hidup hanya perkakas, 
apa beda dengan oto dan kereta? 
  
Wahai pencinta 
hiduplah sebebas rasa! 
Baik dan buruk hati sudah kukenal 
sedang akal ditentuntun kita masing-masing. 

2022 


Suatu Hari 

Seorang pemuda 
membentangkan nasibnya 
halangan bertubi-tubi menerpa
namun jiwa tetap perkasa. 

“Ah, kau dikenal tapi membakar dirimu,”
suara-suara mengitari telinga. 
Tetap melangkah, mendera tafakur 
“Suatu hari, dunia kurengkuh!” 

Sebuah peristiwa di masa lalu, 
ketika ia baru saja melepas remaja 
keluarganya melarat, menderita, 
dan agama meneguhkan penghidupan.  
Perih rasanya melihat orang-orang,
bertekadlah ia di hatinya; 

“Suatu hari, kuhapus kemelaratan dari duniaku!” 

Bukan lagi menyalahkan Tuhan, 
hayatnya dipertaruh untuk 
berjuang melampaui harga diri 
“Ini tugasku di dunia!” 

2022 


Melulu 

Parasmu memang rembulan;
bergejolak dan berlubang
tindakmu bawai rasa 
tenangi dalam sukma. 

Pernah sekali waktu, 
malam-malam, kamu menemani, 
keinginan untuk mengitari kota, 
jantungku berdegup, kutersenyum. 

Bukan lagi bicara 
yang manis-manis 
tapi, waktu habis 
rasa, berdegup gembira. 

Cium kau ini malam 
peluk, kau itu pualam  
dan sudah hampir seminggu 
tak henti-henti aku memikirkanmu. 

2022 


Hayati 

Terbaring, 
bersamamu bukan 
lagi memaksa untuk 
tulus mencintaimu. 

Berbeda arti cinta 
bagi aku dan kau; 
"Cinta terlarang mengenyangkan." 

Cinta serupa rasa debar 
penuh pesona yang bercadar 
aku ingin menghabiskan hidup 
dalam dekapan bersamamu... 

Jikalau bagimu cinta tetap 
saja tak mengenyangkan, 
keberlangsungan hidup 
harus jadi tanda untukmu 
dipinang lelaki idaman lain. 

Tak lagi cinta menguatkan 
hanya keraguan di batas hari 
kau jadikan alasan palsu tuk dipinang 
sedang aku menghayati pesonamu sepanjang usiaku. 

2022 


Tertunduk 

Akhirnya, kita tertunduk 
dari kesombongan diri 
yang mendongak menatap langit. 

Akhirnya, kita tertunduk 
dari kemarahan di ujung peristiwa 
yang regasi seonggok manusia. 

Akhirnya, kita tertunduk 
dari kemuakan pada dunia 
yang menebas diri jadi penuh luka. 

Akhirnya, kita tertunduk 
dari perihnya siksa 
yang harus dilewati anak manusia. 

Akhirnya, kita tertunduk
dari kesadaran lemahnya jiwa 
yang menghadapi pukulan dunia. 

Akhirnya, kita tertunduk malu 
ingkar kepada Yang Maha Kuasa 
menerima pedihnya takdir 
menjadikan kita bijaksana. 

2022 


Baca juga: Sajak-sajak Ade Mulyono 
Baca juga: Sajak-sajak Marina Tsvetaeva 
Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia 

 

 

 

Adrian Shabir, sedang menekuni dunia tulis-menulis, lahir di Jakarta, 20 September 1998. Pernah meraih beasiswa untuk program pertukaran Mahasiswa Indonesia-Rusia dalam kajian pengenalan bahasa dan budaya selama satu semester di Peoples' Friendship University of Russia, Moskwa, Rusia. Kini, tinggal dan kuliah di sebuah universitas di Jakarta. (SK-1) 

BERITA TERKAIT