07 August 2022, 09:30 WIB

Sajak-sajak Frans Ekodhanto Purba 


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi: Subroto S M
 Ilustrasi: Subroto S M
   

Ilustrasi: Subroto S M, Ibu dan Anak, akrilik di atas kanvas, 50x38 cm, 1983. Koleksi Galeri Nasional Indonesia. 

Di Batu Pengharapan 

di batu pengharapan 
batas antara cemas - hampa 
kata kata patah ketika 
makna mulai gelisah 

masa depan jadi serpihan debu 
habis dicampak kesiur angin 
lenyap dihisap dunia 
dan kau masih saja 
mesra dalam dekap  
kenang bayang tanpa bayang 

meski waktu waktu berlalu
meninggalkan batu, semu, ngilu
sebelum pilu membilang rindu
tak kunjung pulang 

di batu pengharapan
ah, aku meregang 

Kereta subuh, 2022 

 

Aku Masih Di Sini 

aku masih di sini 
seperti sebatang puisi, sendiri
memintal cerita jadi kenangan

menjengkal jarak antara kesetiaan
dan rindu tanpa pilu
sebelum angin meniupnya serasa debu

aku masih di sini, percayalah
meski rasa rasanya tak biasa
tapi aku selalu membiasakannya

agar suatu kelak yang entah
ada kapal bermuara 
melunas pulang yang rumah, mungkin

dan bisa jadi 
selama musim belum memesan takdir
jadi serpihan serpihan pedih yang memerih

aku masih di sini
dalam tekun batu batu
diam doa doa

Kereta subuh, 2022 


Batas Maut 

sudahlah ibu, mereka tak bakal tahu
ini bukan lantaran minyak goreng langka
tak juga karena harganya menggila

tapi mereka tak akan merasa
karena mereka bukan kita
dan kita jangan memesan sumpah

kelabuilah keadaan, meski perutmu lapar
air matamu kering, mimpimu keriting 
tak ada guna sumpah serapah

apalagi sesal atas suratan nasib
sebab hidup hanyalah persoalan kecerdikan
di batas maut

Kereta subuh, 2022 


Ikan Tanpa Kepala 

aku tumbuh menjadi aku yang bukan aku
kau membentuk aku menjadi dirimu
bukan. bukan bayang bayang dari 

kau yang aku. tapi aku yang kau. tapi bukan kau yang aku. 
di kepalaku, beruas ruas kenangan bahkan mimpi mimpi birumu. 

sampai suatu ketika pacarku bertanya: siapa dirimu. aku gugup gagap mendefinisikannya. 
kau tahu, untung saja saat itu ada orang gila berebut ikan dengan kucing liar. 

seperti bapakmu, aku dengan cerdas mendefinisikan aku seperti ikan tanpa kepala 
dipertaruhkan orang gila - kucing liar dengan selembar nyawanya. 

Kereta subuh, 2022 


Kepadamu Kutitipkan Sepucuk Masa Depan 
: untuk Anies Baswedan 

Lima puluh tiga burung memeluk cakrawala 
kuat sayapnya menghimpun kisah 
tak jarang bermetamorfosa jadi loncatan loncatan doa. 

Seekor di antaranya, 
dari ranting ranting waktu 
meneropong masa lalu 
menggaris harapan bagi 
setiap perjalan tanpa kecemasan.

Dari sudut ini bumi, 
serupa malam malam penuh rahasia
kepadamu kutitipkan sepucuk masa depan
yang tak berairmata. 

Jadilah cahaya, 
nyatalah kita
makna dari setiap rasa. 

Kereta subuh, Mei 2022 


Serupa Hujan Membasuh Muka Muka Tanah 
: untuk M Chozin Amirullah 

Serupa hujan membasuh muka muka tanah 
tak hanya mengirim basah, menghapus dahaga 
begitulah kau nyata di antara aku, mereka dan kami. 

Kata katamu, tumbuh selaiknya padi padi di sawah 
memberikan harapan pada manusia agar kelak di persimpangan musim yang entah 
tak ada lapar yang tersesat di limbung siasat. 

Maknanya menafaskan langkah bagi para pengelana 
tak sekadar melunaskan perjalan atas jarak pada pencarian

Serupa doa di malam malam payah
demikianlah aku mengamini perjumpaan kita
sebelum isyarat menjelma maut di pangkal subuh yang rapuh

Selamat berulang umur yang tak hanya menuai tua 
selamat merayakan anugerah atas hidup dan penghidupan yang menghidupi mimpi 
karena, bagiku dan mungkin juga bagi mereka 

Kelahiranmu tak sekadar menulis hikayat mengulang riwayat 
kehadiranmu meneduhkan cemas, melelapkan rindu di pangkuan cahaya 
sebelum airmata berulang rahasia: 

Kereta subuh, Juni 2022 


 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor
Baca juga: Sajak-sajak Boris Pasternak 
Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari 

 

 

 

Frans Ekodhanto Purba, penyair nasional, lahir di Sei Suka Deras, Batu Bara, Sumatra Utara, pada 8 Juli 1986. Ia menamatkan pendidikan sarjana Bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat (tamat 2009). Dalam dunia sastra, dia pernah menjadi peserta pada Jakarta International Literary Festival 2011 di Jakarta, Temu Sastra Indonesia IV di Ternate, 2011, dan sebagainya. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit, yaitu Kelana Anak Rantau (Koekoesan, Depok, 2013) dan Marhajabuan (Yayasan Pusat Kebudayaan Dewantara, Jakarta, 2018). Karya-karya Frans pernah tayang di sejumlah surat kabar nasional. Sempat diundang mengunjungi Singapura pada helatan contemporary art exhibition di Museum of Contemporary Art Singapore, pada 2013. Pernah juga diundang untuk tampil pada Theatrical Poetry Performance dalam rangka Hari Bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta, pada 2015. Ia adalah peraih juara Lomba Menulis Puisi Mitologi Bentara Budaya 2011 di Bentara Budaya Bali untuk puisinya Cerita Tiga Rupa. Kini, tinggal dan bekerja di Jakarta. (SK-1) 

BERITA TERKAIT