26 July 2022, 19:00 WIB

Chairil Anwar dan Jas Milik Sjahrir 


Iwan Jaconiah | Sajak Kofe

MI/Dok Chairil Anwar
 MI/Dok Chairil Anwar
   

CHAIRIL Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949), tokoh flamboyan Angkatan 45 dalam sejarah Sastra Indonesia. Siapapun pasti mengenal namanya. Sosok besar yang telah dimeteraikan dalam buku-buku pelajaran di sekolah hingga perguruan tinggi. 

Ya, puisi-puisinya adalah simbol individualisme sebelum dan setelah Perang Dunia ke-2. Ia menjadi tonggak perlawanan atas diri sendiri, lingkungan sosial, sekaligus penjajahan yang pernah terjadi di Republik ini lewat sajak. 

Berbicara tentang Chairil, maka ada hal menarik bagi seorang peneliti asal Rusia, Prof Dr Vilen Sikorsky, 86. Berbagai puisi-puisi Chairil telah dianalisis, diinterpretasikan kembali, dan diterjemahkan ke bahasa Rusia sehingga Sikorsky kian mendekatkan karya Chairil dengan masyarakat di sana. 

Peranan Sikorsky memang penting, di samping karya-karya seperti mendiang Willibrordus Surendra Broto Rendra dan mendiang Utuy Tatang Sontani yang juga sudah dialihbahasakan olehnya ke dalam bahasa Rusia. Sebagian masyarakat di sana pun mengetahui nama Chairil. 

Terutama, mereka yang notabene meminati puisi Indonesia. 

Ini hari, genap sudah 100 tahun Chairil. Ia selalu dikenang dengan berbagai cara. Mulai dari kegiatan baca puisi di jalanan, ruang komunitas hingga gedung lembaga. Ada semacam keunikan untuk menguliti puisi-puisi Chairil. 

Ia memang mati muda di saat baru berusia 27 tahun. Itu membuat karya-karyanya dapat dihitung dengan jari. Meski begitu, puisi-puisinya membekas di ingatan masyarakat kita di Tanah Air tercinta ini. 

Mengenang Chairil sebagai penyair adalah memahami individualisme lewat jejak dan buah pikirannya. Sederet tinjauan dan penelitian telah dilakukan oleh berbagai kalangan, baik di dalam maupun luar negeri, dalam melihat secara dekat perjalanan Chairil dari sudut pandang berbeda. 

Puisi-puisi Chairil dekat dengan kehidupan realitas. Semua terangkum, antara lain Deru Campur Debu (1949) yang diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan, Jakarta, Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus, (1949) yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Jakarta, dan Aku Ini Binatang Jalang (1986) yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta. 

Perlente 

Kehidupan Chairil serba bebas dan berpakaian perlente. Hal ini pernah diutarakan secara turun-temurun di kalangan seniman Jakarta. Salah satunya dari pelukis nasional Syahnagra Ismaill. Ia mengisahkan bahwa dirinya pernah mendengar cerita tentang kedekatan Chairil dan revolusioner Sutan Sjahrir (1909-1966). 

"Saya diceritakan oleh seniman-seniman senior dulu. Konon, Chairil itu cuek sekali. Pernah suatu hari, Chairil mau bertemu pacarnya, namun ia tidak punya jas. Chairil lalu main ke rumah Sjahrir pagi-pagi buta saat ia belum terbangun. Ia pun mengambil jas milik Sjahrir dan dipakai diam-diam untuk bertemu pacarnya," kisah Syahnagra, tertawa. 

Setelah terbangun dari tidurnya, lanjut Syahnagra, Sjahrir sempat bingung mencari jasnya yang telah diseterikanya secara necis untuk dipakai ke sebuah rapat. Sayang, tidak ditemukan sehingga ia menggunakan jas lain. Sjahrir sudah tahu siapa yang mengambil sehingga ia tidak mempermasalahkannya. “Mereka berdua sangat dekat sekali," paparnya. 

Memang, kisah versi Syahnagra tersebut tidak bersumber secara jelas dan entah dari mana asal-muasalnya. Namun, Syahnagra mengakui bahwa sebagian besar seniman Jakarta sudah tahu bahwa ada kedekatan antara Chairil dan Sjahril sebelum dan setelah kemerdekaan Republik. 

"Pernah suatu hari, Sjahrir pergi ke luar negeri. Di sana, para pejabat menanyakannya 'siapa penyair terkenal di negara Anda'. Saat itu, Sjahrir menjawab tegas dengan menyebut nama Chairil," lanjut Syahnagra, terkekeh-kekeh. 

Kehidupan Chairil memang sangat unik. Faktanya, pada Januari sampai Maret 1948, ia sempat bekerja sebagai redaktur majalah Gema Suasana, namun ia dikabarkan tidak puas sehingga mengundurkan diri dari pekerjaan itu. 

Chairil pun melanjutkan profesi sebagai redaktur di majalah lainnya bernama Siasat sebagai pengasuh rubrik kebudayaan Gelanggang. Ia bekerja bersama Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Cita-citanya untuk mendirikan sebuah majalah khusus kebudayaan kandas karena ia lebih cepat berpulang. 

Chairil pernah berkarya di Ibu Kota. Hari ini menjadi sebuah renungan mendalam dalam perjalanan perpuisian kita. Bangsa yang besar selalu mengenang tokoh-tokoh sastranya. Mari kita rayakan bersama dalam kesunyian masing-masing. Memaknai seabad “Si Binatang Jalang” dengan penuh sukacita dan puji-pujian sajak. (SK-1) 

 

Baca juga: Sajak-sajak Yevgeny Yevtushenko

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Anna Akhmatova 

 

 

Iwan Jaconiah adalah penyair, editor puisi Media Indonesia, dan penulis buku Hoi!, sebuah kumpulan puisi tentang kisah diaspora Indonesia di Rusia. 

BERITA TERKAIT