09 July 2022, 11:00 WIB

Sajak-sajak Negar Fitrian


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi: Lena Levin
 Ilustrasi: Lena Levin
   

Ilustrasi: Lena Levin 

Gadis di Sudut Itu 

Gaun merah, bibir tanpa gincu, dan aliran darah telah kau tasbihkan sepanjang hari. Belakangan ini aku pelajari bahwasanya duri-duri dari dalam hati berasal dari rasa iri. Masih terdiam, terbelenggu keputusan, dan rasa bersalah seorang insan. 

Mungkin mata cabul ini penyebab Tuhan enggan mempertemukan kau dan aku. Sukarnya mengejawantahkan suatu nalar tanpa makar. Ini sukma menelan kudapan-kudapan angan. Lemahkan tujuan sebab doa-doa kian terbantahkan. Sungguh, aku kerap lupa bahwa rencana sang pemilik alam selalu sepadan. 

Gadis di sudut itu, oh Illahi. Sungguh mencekam birahi tatkala perasaan terus dibodohi. Bukan nuansa nan romansa yang ingin kuberbagi, namun keluh kesah mengakar dari berbagai jeritan anak manusia. Tak bisa dimungkiri. 

2022 


Semesta Sudah Tua 

Guratan menyayat lelahnya nurani 
kalbu yang haru biru terberangus hampa. 
Tawar dalam senyawa yang biaskan gulita 
gelap bak dosa-dosa pun dianggap jelita. 

Hingar bingar sore di ibu kota 
siratkan jenuhnya semesta. 
Perut bumi yang sudah tua 
dan isi otak kita terus menua 
dituntut kebutuhan semata. 

Mata-mata perlahan terasa lelah; 
tumbal makian dan amarah membuncah. 
Istirahatlah; kekecewaan dan harapan usang 
mimpi dan emosi tak sempat tertuang. 

Rejeki dinobatkan hanya sebatas uang, sebab khawatir akan himpitan utang. 

Doa serta-merta banyak terbuang 
karena keraguan terus berulang 
dan lupa diri hingga terkekang, 
kala Illahi jadi prioritas terbelakang. 

2022 


Dialog Soal Mimpi Yang Telah Mati 

Tatkala kita sedang berdialog soal mimpi yang telah mati, lantas mengapa harus menyalahkan tengiknya ambisi? Kenapa waktu harus disesali? Sebab tugas mimpi memang untuk memenggal hari-hari. 

Dan aku membedah kembali ide tuk membangkitkan cita yang sudah usang sedari dini. Kau diam menanggapi, seolah-olah sedang semadi. Jikalau ini masanya kita membenci diri sendiri, maka kondisi saat ini memacu kita untuk lupa diri. 

2022 


Cendala 

Daki di leher dan kecut bau badanmu teralihkan oleh rasa syukur. Lebih dari setengah hidup kau habiskan pada hal-hal yang hampir semua orang mengkhawatirkannya. Semiotika masyarakat yang menyusun rencana masak-masak pun menjauhi arti sebuah kemelaratan. 

Jeruji yang sama juga membatasi nalar. Yakni sebuah kebutuhan hidup. Alih-alih alasan itulah yang tercangkok dalam otakku sedari dini. Buah nasihat dari para praktisi akademis. 

Lapar memuncak hingga dahi berkeringat serupa momok. Substansial hidup seakan terpatri kalau kemiskinan adalah bentuk kesialan. Sebuah kondisi nahas dan meniadakan para pemberi rejeki. 

2022 


Sajak Dengki 

Aku menyesap kecup keringatmu. 
"Duh, geli! Untuk apa kau melakukan hal tolol itu," ujarmu. 
Aku lantas tertawa kegirangan atas kebingunganmu. 
"Aku ingin merasakan keringat kerja kerasmu yang selalu kau elu-elukan," jawabku. 

"Yang selalu kau jadikan tolak ukur kemapanan. Yang katanya bisa meludahi setiap kepala perempuan setelah kau merogoh saku celana. Yang katanya bisa membuat kagum para ibu dengan bujang-bujang nganggur bertengger di keteknya. Yang katanya bisa memborong tetek-tetek perawan. Yang katanya sebagai patokan kehidupan," lanjutku. 

Menyulut sebatang rokok seraya menghela napas panjang. Menuntaskan keluh kesahku pada sang bedebah. "Mungkin juga saat kau berak yang ke luar bukan tahi, melainkan sebuah negeri," cetusku. 

Kau pun terbahak-terbahak mendengar celotehku. Kisah seorang pemuda yang bahkan tidak ada dalam daftar sandingan cerita lainnya. 

2022 


Kembang 

Tumbuh liar bak ilalang  
jidatmu dicap jalang oleh banyak orang. 
Makan malam anakmu oleh-oleh dari para hidung belang 
dan kebutuhan ekonomi sehari-hari kian selangit, bukan kepalang. 

Berbekal segenggam doa kau kemas. 
"Nak! Ibu berangkat ya," ujarmu sambil menciumnya. 
Anakmu, pengidap polio sedari lahir, hanya mengangguk lemas. 

Kau terus menukas 
tentang biaya sewa kontrakan 
makin beringas dan pelanggan tak puas. 
Abilah yang selalu membuatmu begitu cemas. 
Sampai-sampai rutinitas dalan nirwana membusuk dan terhampar di depan lapas. 

Memandang bening matamu saat kita saling berpapasan. 
Wahai bidadari kusam bergincu tebal, nanar, dan melas!  
Maafkan aku membuang pandangan. 

Sungguh sang Illahi memiliki rencana 
yang tidak kita ketahui hingga saatnya tiba. 
Dan tak bosannya kutulis sajak dengan tema berulang. 
Sebagai cara mendikte substansi hidup secara gamblang. 

2022 

 

Baca juga: Sajak-sajak Dody Kristianto

Baca juga: Sajak-sajak Tri Astoto Kodarie

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Negar Fitrian alias Metalhead Melankolis, seorang penulis negeri serabut (PNS). Saat ini sedang mempersiapkan sebuah antologi puisinya. Sehari-hari, tinggal dan beraktivitas sastra di Jatinegara, Jakarta Timur. (SK-1) 

BERITA TERKAIT