16 May 2022, 16:00 WIB

Waisak: Cinta, Kedamaian, dan Harmoni 


Iwan Jaconiah  | Sajak Kofe

Ilustasi The World Fellowship of Buddhists
 Ilustasi The World Fellowship of Buddhists
   

SEORANG teman saya asal Kathmandu, Nepal, memiliki kebiasaan bersemedi di pagi hari. Ia lakukan 30-60 menit dengan kaki bersila, dada dibusungkan sehingga terlihat tegap, dan kedua telapak tangannya disatukan menjadi simbol. 

Tak lama, ia pun melebarkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Matanya tetap tertutup dan terfokus ke sebuah titik. Baginya bersemedi untuk menenangkan batin dan mencapai kesucian yang diyakininya. 

Adalah Saurav Pradhan, seorang alumnus Russian State Social University, Moskwa, Rusia. Ia belajar spesialis empat tahun lamanya di Rusia sebelum kembali ke kampung halamannya di Nepal kini. "Semua ketenangan bersumber dari pikiran," ujar Pradhan berfilsafat. 

Rutinitas bersemedi ia tetap lakukan. Ada dua jenis semedi, yaitu Samatha Bhavana yang bertujuan untuk menenangkan batin dan Vipassana Bhavana untuk mencapai kesucian. Sebuah tradisi lama yang dilakukan bagi populasi Buddhis di dunia. 

Tahun ini, Pradhan pun ikut merayakan perayaan Tri Suci Waisak 2566 BE di negaranya. Peringatan akan kelahiran Pangeran Siddhartha, penerangan sempurna menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama. Tradisi keagamaan yang memiliki makna tersendiri. 

Buddha adalah seorang guru spiritual di Nepal selama abad ke-6 SM. Salah satu pemimpin spiritual paling berpengaruh sepanjang masa. Ajarannya penuh keheningan dan kebijakan sehingga menjadi dasar bagi populasi Buddhis hingga kini¹

Buddha, merupakan filsuf yang berbicara secara ekstensif tentang kedamaian, kehidupan, cinta, kebahagiaan, dan kematian. Nama Buddha sendiri berarti "orang yang terbangun" atau "yang tercerahkan" di mana sosok ajarannya memengaruhi banyak orang. 

Ajaran-ajaran itu mengilhami Buddhisme, sebuah praktik dan pengembangan spiritual yang menggunakan hal-hal seperti meditasi. Nilai-nilai moral begitu kuat dalam kehidupan. 

Tujuannya untuk mengubah diri para pengikut dan menjadi lebih sadar, baik hati, dan bijaksana. 

Buddhisme dipandang sebagai jalan menuju pencerahan, yang merupakan tujuan akhir. Buddha telah mewujudkan itu. Salah satu ajarannya penuh kebijakan yang selalu dikutip, yaitu "Memancarkan cinta tak terbatas terhadap seluruh dunia." 

Beragam budaya 

Tanggal perayaan Waisak bervariasi setiap tahun sebab mengikuti kalender lunar. Budaya populasi Buddhis sangat beragam di dunia, sehingga Waisak dirayakan pada tanggal dan tradisi yang berbeda-beda. 

Dalam Konferensi Pertama Persekutuan Dunia Buddhis yang diadakan di Kuil Sri Dalada Maligawa, Kandy, Sri Lanka, 25 Mei-6 Juni 1950, diputuskan untuk merayakan Waisak sebagai Hari Ulang Tahun Buddha. 

Ada 129 delegasi dari 29 negara hadir. Dalam konferensi itu, Maharaja Nepal meminta semua negara yang memiliki populasi Buddhis, untuk menjadikan hari bulan purnama pertama bulan Mei sebagai nama Hari Libur Umum Waisak. Tujuannya, untuk menghormati Buddha, penguasa perdamaian dan harmoni²

Di China dan Hong Kong, misalnya, Ulang Tahun Buddha dirayakan pada kedelapan bulan keempat dalam kalender lunar China. Pada Hari Waisak, kuil-kuil Buddha dihiasi dengan bendera dan bunga. 

Para penyembah selalu berkumpul di kuil-kuil sebelum fajar. Ritual upacara seperti mengangkat bendera Buddha dan mandi Sang Buddha dilakukan penuh penghayatan. Hal ini dilakukan di berbagai negara. 

Para biksu atau bhikkhu melantunkan himne dari tiga permata suci. Ketiganya ialah Buddha, Dharma (ajarannya) dan Sangha (murid-muridnya). Di malam hari, berbagai prosesi diterangi cahaya lilin diselenggarakan di jalan-jalan. 

Sang Buddha menyebutkan satu-satunya cara untuk memberi penghormatan kepadanya dengan benar dan tulus mengikuti ajarannya. Jadi, tujuan Waisak ialah mempraktikkan cinta, kedamaian, dan harmoni. 

Pada perayaan Waisak, umumnya para pengikut melakukan perbuatan mulia. Misalnya, memberikan sumbangan amal, menggelar donor darah, membagikan hadiah kepada orang miskin, dan melepaskan hewan ke alam bebas. Pradhan, misalnya, mengikuti donor darah. 

Di Rusia, perayaan Waisak digelar di beberapa daerah dengan populasi Buddhis terbesar. Salah satunya di Buryatia. Begitu pula di Indonesia sendiri, hari raya tersebut juga digelar di berbagai tempat. Di Candi Borobudur, misalnya, perayaan Waisak dimeriahkan dengan Festival Lampion. Melalui Waisak, ada cinta, kedamaian, dan harmoni. (SK-1) 


Bacaan rujukan
¹ Sarah Shaw. Mindfulness: Where It Comes From and What It Means. Colorado: Shambhala Publications, 2020, hlm 45. 
² UNESCO. Temple of the Sacred Tooth Relic (Kuil Sri Dalada Maligawa). Srilangka: Heritage Site UNESCO, 1988. 

 

Baca juga: Candi Borobudur Berbenah Sambut Waisak 2022

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Iwan Jaconiah adalah penyair, editor puisi Media Indonesia, kulturolog, dan penulis buku “Hoi!,” sebuah kumpulan puisi tentang kisah diaspora Indonesia di Rusia. Ilustrasi header: The World Fellowship of Buddhists. 

BERITA TERKAIT