12 May 2022, 18:30 WIB

Sajak-sajak Ahmad Ujung 


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi Norbert Schwontkowski
 Ilustrasi Norbert Schwontkowski
   

Ilustrasi: Norbert Schwontkowski 

Segelas Kopi Sebatang Rokok 

Ingin kumasukkan kepalaku 
ke dalam segelas kopi 
agar larut tanpa bekas 

Ingin kususun hatiku 
di barisan cengkih tembakau 
agar terbakar menjadi abu 

2022 


Doa Seorang Penganggur untuk Anaknya yang Lapar 

Tuhan 
berikanlah aku kekuatan 
untuk mengubah pasir 
menjadi beras 

2022 


Romantika Dayang Sumbi 
: membaca kembali Nusantara 

Aku mendengar legenda sunda 
tentang seorang raja perbangkara 
memimpin rakyat secara bijaksana 
memiliki daya sakti mandraguna 

Musim berburu pun tiba 
raja beranjak beserta punggawa 
menguji nasib di tengah belantara 
asa membuncah inginkan rusa 

Raja berniat membuang hajatnya 
tanpa diduga tidak disangka
celeng wayungyang melahap semua 
dari sini awal legenda bermula 

Sudah menjadi takdir dewata
celeng wayungyang berbadan dua
mengandung anak dari sang raja
lahirlah putri berwajah jelita 

Sang raja telah mendapat berita
pergi menjemput si anak dewa
diasuh penuh cinta segenap jiwa
dayang sumbi diberikan nama 

Purnama berjalan mengganti masa
sumbi tumbuh beranjak dewasa
berparas cantik menjadi dara
sopan peringai juga sikapnya

Banyak raja menaruh rasa
berharap balas untuk dicinta
Sumbi menolak dengan senyumnya
membuat raja menjadi murka 

Cinta menjadi sebuah dilema menjadi penyebab huru-hara

sumbi mengambil langkah bijaksana
mengasingkan diri ke belantara

Menepi sepi dimayapada
bersama tumang titisan dewa 
menjalani hari dengan gembira 
walau di hati penuh nestapa 

Dipondok kayu sumbi berkarya 
menenun kain membuang hampa
suatu ketika tibalah masa
awal cerita cinta pertama

Alat tenun jatuh terbawa
sumbi bernazar dalam hatinya;
siapa yang bisa mengambilkannya
akan dijadikan teman istimewa

Bila perempuan menjadi saudara
bila lelaki menjadi kepala rumah tangga
sumbi kaget tidak terkira
tumang keluar sebagai jawara

Pernikahan di gelar tanpa pesta
rasa dipadu beralas cinta 
tak terasa datanglah bahagia
lahirlah putra bernama jaka sona

Tumbuh berkembang lelaki digdaya
tampan rupawan membuat tergoda
lihai berburu seperti kakeknya 
bersama tumang pengawal setia

Suatu ketika si ibu berkata
bawakan hati seekor rusa
patriotismе jaka sona melonjak seketika
wujud baktinya kepada orang tua

Hari itu memanglah beda
temaram tiba di ujung senja
hewan buruan tak juga ada
awal petaka mulai meraba 

Tumang dipanah tepat di dada
diambillah hatinya pengganti rusa
dalam sendu berlinang air mata
Tumang dibunuh oleh putranya 

Makan malam tersaji di meja
si ibu lahap sambil bertanya; 
tumang di mana batang hidungnya? 
sejurus petir menyambar atma

Penuh amarah si ibu murka
mengayunkan gentong di kepala jaka sona
malam kelabu di belantara
jaka sona beranjak membawa duka

Zaman berganti merubah rupa
jaka sona berjalan mengembara
menjadi pemuda tampan perkasa
sebagai idola setiap nona 

Takdir membawa langkah jaka sona
bertemu dengan pilihan hatinya
pucuk dicinta ulam pun tiba
di sini duka mulai bertahta

Duduk bersilang sumbi bermanja
mencari kutu di kepala pujaaan hatinya
kaget di jiwa datang menerpa 
ornamen di kepala jadi saksi buta

Jaka sona tentu tidak terima
wanita pujaan adalah ibunya
mata hati sudahlah buta
cinta bertahta di atas logika

Sumbi takut tidak terkira
mengajukan syarat dengan terbata 
jaka sona bukan lelaki biasa 
menyanggupi keinginan dengan tertawa

Membuat waduk dan perahu raksasa
diberi waktu satu malam lamanya 
dibantu oleh para punggawa
bekerja keras sekuat tenaga

Pekerjaaan hampir sudah berjaya
gelisah bercumbu sumbi sengsara
dicari akal menunda cinta
dewata menjawab permintaannya 

Proyek jaka sono mangkrak sia-sia
penuh amarah serapah menganga
ditendang perahu sekuat tenaga
menjadi gunung kokoh perkasa 

Cinta terlarang di mayapada
sumbi dan jaka sono tidak bisa bersama
sumbi, simbol perempuan bijaksana 
yang terurai dalam kisah atau legenda 

Jaka sona laksana pengelana nyata
dari bentuk keegoisan yang meraja
sebuah fenomena yang tertata
bahwa perempuan sudah merdeka

Sumbi serupa referentasi fakta
bahwa cinta tak dapat dipaksa 
ia menjelma pembesar kaca 
bagi tahta walau paras berbeda. 

2022 


Senandung Tidur 

Mari tidur,  
esok akan kembali bersama 
matahari sinis atau angin masam
rajah tajam atau kejam, biarkan saja 

Tidurlah 
esok akan mampiri jemu 
ribuan batu dan debu 
entah sedu atau sendu 

Tidur, tidurlah di sini 
lelapkan semua mimpi 
tentang dongeng esok hari 
yang tak henti-henti dicumbui ilusi 

2022 

 

Ibu dan Anak-anaknya 

Kepada Tuhan, 
pemilik alam semesta; 
berikan kekuatan bagi Ibu 
agar ia memeluk erat kami sebelum 
ditalak kebodohan sebab di rumah banyak masalah. 

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya mulai saling benci 
warna kulit dan rambut kini berbeda 
bukankah kami; dilahirkan dari rahim dan kasih yang sama 
mengunyak makan dari sari pati tanah yang tak berbeda. 

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya mulai rakus seperti tikus 
diam-diam masuk ke lumbung padi menghabisi persedian yang seharusnya dimakan bersama; 
mengisi perut mereka dengan jeritan kepedihan saudaranya. 

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya mulai menjadikan ajaran-Mu 
sebagai pemantik untuk menyulut api keegoisan 
bukankah ajaran-Mu semua berisi tentang kebaikan 
yang dijalankan secara berbeda, tetapi memiliki tujuan sama. 

Bagaimana tidak?
anak-anaknya mulai merusak pondasi bangunan 
bersusah payah dikerjakan leluhurnya sejak zaman penjajahan 
mereka hanya menghargai lembaran rupiah sebagai simbol. 

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya tidak menghargai 
para penerus jejak Ki Hajar Dewantara
dengan menuduh kasih sayang sebagai sebuah kejahatan 
menggiring langkah-langkah ke rumah yang tak diinginkan orang 

sekarang kamu menang, kelak ada sidang pengadilan sesungguhnya. 

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya meninggalkan kesederhanaan timur 
lahap mencicipi makanan di tempat terkuburnya matahari 
yang bumbunya bisa saja merusak jiwa dan raga
sebangganya mereka mengikuti falsafah di pantat truk; 
"ini zaman milenial mas, gak gaya gak gaul!

Bagaimana tidak? 
anak-anaknya mulai serakah 
oleh warisan yang ditinggalkan para leluhur 
menghalalkan semua yang diharamkan kitab. 

Bagaimana tidak? 
hati anak-anaknya perlahan redup 
tak beretika saat memohon sesuatu 
tak memiliki naluri kelemah-lembutan 
tanpa rasa bersalah mereka memecahkan kaca 
membakar seisi rumah sebagai isyarat agar semua permintaan terpenuhi. 

Kepada Tuhan, 
pemilik alam semesta; 
berikan kekuatan dan campur tangan-Mu 
agar Ibu bisa kembali memeluk erat anak-anaknya 
memperbaiki isi rumah kami yang koyak 
hanya kepada-Mu kami meminta. 

2022 

 

Baca juga: Sajak-sajak Vito Prasetyo

Baca juga: Sajak-sajak Putri Sekar Ningrum

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Ahmad Zainuddin Ujung, penulis dan guru, kelahiran Sidikalang, 21 Maret 1989. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen tersebar di sejumlah media massa. Menamatkan studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Medan (2012). Selapas tamat, sempat menjadi pendidik muda di pedalaman Asmat, Papua (2013-2014). Kini, mengajar di sebuah sekolah dasar di Dairi, Sumatra Utara. 
 

BERITA TERKAIT