01 May 2022, 02:30 WIB

Sajak-sajak Ade Mulyono


Sajak Kofe | Sajak Kofe

 Ilustrasi: Maria Worobyova
  Ilustrasi: Maria Worobyova
   

 

Ilustrasi: Maria Worobyova

Malam Kemarau 

Rindu adalah jawaban dari segala tanya 
betapa mulia ia menjaga kita supaya tetap saling cinta 

Sebab rindu yang risau bagai kerikil di matamu 
sudahkah malam ini diam-diam kau mengecup namaku? 

Sebelum kantuk seperti pencuri yang mengintaimu 
dari keningku—dari malam-malamku 
yang kemarau itu 

Perempuanku yang manis haruskah ciumanku mengarungi hari demi hari 
untuk sampai di keningmu—pulang ke pangkuan bibirmu 
yang kering dan layu itu? 

2022 


Serdadu 

Beriring-iring truk membawa serdadu
“Sekali merdeka tetap merdeka!” 
Berkumandang mengepung desa 
sahut-menyahut seperti ayam jantan
yang berkokok di pagi yang perih 
sebagai tanda kemerdekaan hari telah diraih 

Seorang gadis delapan belas tahun
berdandan dalam kamar menunggu sang pahlawan
pagi diserap siang dan sore menyerah pada malam
gincu di bibir sudah kering sisa bedak tinggal di kening 
saat mendengar kabar bagai petir menyambar dada berdenyar: 
“Adinda, sekiranya dikau mesti bersabar,” kata seorang serdadu 
membawa pesan untuk istri sahabatnya yang gugur ditembus pelor. 

2022 


Syahadat Cinta 

Aku mencintaimu itu sebabnya aku ada 

2022 


Cinta yang Lain 

Kau tak akan menemukan cinta yang belum pernah diucapkan oleh siapa pun
penyair telah mati saat menulis sajak cinta pada huruf pertama 
sejak sajak cinta telah menjadi doa panjang yang tak pernah habis diucapkan 
kata-kata menjelma bunga melati yang aku sisipkan di telingamu 
aku mencintaimu sebelum kuringkus bibirmu di separuh malammu 
yang tak pernah penuh memilikku. 

2022 


Pengakuan 

Aku adalah buih bagi biru lautmu 
Seperti rumput yang mencium mata kakimu 
Seumpama pengemis termangu di berandamu 
Kini aku abu bagi nyala api cintamu 

2022 


Kamus Cinta

Cinta yang optimistis
1+1=2 
Cinta yang oportunis
1+1=3 
Cinta yang eksistensialis 
1+1=1 
Cinta yang pesimis
1+1=0
Cinta yang idealis
1+1=? 

2022 


Halaman Terakhir

Kau adalah pisau sekaligus tisu bagi luka dan air mataku 

2022 

 

Hujanmu

Sebelum dikau menjadi badai aku telah menjadi puing
serupa jejak-jejak hujanmu yang meninggalkan kesunyian 
seperti saja-sajakku yang menggigil kesepian di rak buku yang sudah berdebu
di halaman tubuhmu aku adalah tamu yang termangu

2019-2022 


Mata Air 

Aku menemukan mata air di kesunyian yang meluap
Mengalir dari hulu lalu ke hilir hari ini yang tidak kuharap
Aku mencuci merah mataku dari keruh mata airku
Yang tak pernah kering dikuras hari kemarauku
Kesepian yang ramai adalah arus sungai yang deras
Dari mataku yang terus menerus diperas
Di kening kau kukenang dan mata air mengalir
Mengikuti lekuk waktu membawa cinta yang sumir

2020 


Jangan Sudahi Pelukan Malam ini 

Hanya pada kesunyian cinta akan berterus terang
Perihal mata yang ingin bertemu atau keningmu
Yang menghitung hari menunggu kecupan dariku

Bilakah bibirku dapat merengkuh merah bibirmu
Akankah ciumanmu juga akan tiba di sepasang Mataku?

Bilakah jemariku menjelma sisir bagi rambutmu
Mungkinkah lenganmu akan melingkar di tubuhku?

Bilakah aku berteduh pada hangat tubuhmu
Akankah kau izinkan aku bermimpi di sisimu?

Dan jikalau kulepas kancing-kancing bajumu
Apakah kau akan berkata: “Ini aku istrimu?
Ini tubuhku punyamu suamiku.”

Dan kita saksikan malam begitu hening
Dan kita rasakan malam membawa dingin

Sungguh jangan sudahi pelukan malam ini
Sampai pagi benar-benar membuka mata
Memergoki embun menetes dari tubuh kata
Bagai keringat melekat di tubuh kita.

2019 


Cinta yang Tak Kunjung Padam 

Aku merasakan takut yang teramat sangat
sebab cintaku padamu sungguh begitu sengit

Aku merasakan debar jantung dadaku begitu cepat
saat tak menemukanmu pada hariku yang pucat

Setiap malam aku melihat bayangmu mengecap sepiku
yang mempertegas bahwa aku masih membutuhkanmu

Pada merah cinta di mataku yang masih menyala
berdesir angan membawa gincu merah bibirmu yang membara

Padahal aku laksana arang yang padam tanpa percik apimu
seumpama malam yang menggigil karena gemercik hujanmu

Juwitaku masih ingatkah kemarin kita baru saja mengerami malam
menunda tibanya pagi bagi cinta yang tak kunjung padam 

Dan pada puisi ini aku masih membabi buta mencintaimu 
karena nama manismu tak pernah tergelincir dari bibirku 

pada malamku yang tidak terbiasa mengasingkan tubuhmu 

2019 


Sajak R 

Satu yang kuingini 
Ialah membimbingmu kelak 
Satu yang kutakuti 
Ialah takdir berkata tidak 

Andai segala perihal yang kuminta 
Ialah doa yang segera menjadi nyata 

Sebab dalam munajatku yang panjang 
Nama manismu tak henti kurapal 
Berulang-ulang 

Kekasihku aku ingin menjadi lelaki 
Yang melihatmu paling pagi 
Lebih pagi dari nyala mata lampu 
Di atas ranjang tidurmu 
Sebelum memergokiku 

Sedang menaruh bibir di keningmu: 
Mengerami tubuhmu 

2019 

 

Baca juga: Sajak-sajak Dody Kristianto

Baca juga: Sajak-sajak Putri Sekar Ningrum

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Ade Mulyono, menekuni dunia tulis-menulis, baik puisi, esai, cerpen, maupun novel. Pemuda kelahiran Tegal, Jawa Tengah. Menamatkan pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Universitas Pamulang. Buku novel terbarunya Namaku Bunga (Lakara Publishing, Depok, 2022). Kini, bekerja dan berkegiatan di Jakarta. 

 

BERITA TERKAIT